Advertisement
Tol Laut Diklaim Tak Banyak Berpengaruh terhadap Harga Barang
Pemudik bersiap menaiki KM Sabuk Nusantara 68 menuju Mentawai, di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat, Minggu (26/5/2019). - Antara/Iggoy el Fitra
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - National Maritime Institute meyakini program tol laut hanya memengaruhi 20% harga barang yang dijual di daerah yang dilayari angkutan laut berubsidi tersebut.
Siswanto Rusdi, Direktur National Maritime Institute (Namarin) Jakarta mengatakan, pembentuk harga barang di daerah yang dilayari kapal tol laut terakumulasi dari pembayaran biaya lain seperti biaya kuli, pajak, tenaga kerja bongkar muat (TKBM), trucking hingga jatah preman.
Advertisement
"Jadi kalau [harga] mahal, itu wajar dengan hukum pasar yang berlaku, kecuali dengan kuli, hingga trucking dan pergudangan di pasar marginnya ditutup oleh pemerintah. Namun, apakah negara menyanggupi hal itu," lanjutnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Senin (4/11/2019).
Oleh karena itu, dia menilai disparitas harga barang di wilayah timur dan barat Indonesia terjadi bukan disebabkan adanya mafia atau kurang maksimalnya program tol laut, melainkan adanya mekanisme pasar yang wajar.
Menurutnya, hal ini terjadi disebabkan subsidi yang diberikan pemerintah masih sebatas biaya bahan bakar serta biaya pelayaran. Para pedagang atau pemesan masih harus membayar biaya trucking, buruh, preman, dan hal hal teknis di lapangan yang mengakibatkan harga tetap tinggi. Selain itu, Rusdi juga kurang setuju atas anggapan mafia untuk para pedagang yang mengambil untung.
"Yang membeli jumlah banyak adalah pedagang, Namanya pedagang ya cari untung dong. Untung itu mereka cari dengan biaya angkut seperti trucking dan buruh. ini lah disebut aspek perdagangan antarpulau," tuturnya.
Siswanto menganggap berlebihan tuduhan disparitas harga terjadi karena mafia. Dalam mekanisme pasar, imbuhnya, hal yang wajar apabila para pedagang mengambil margin keuntungan.
"Saya sedikit sedih kenapa Presiden menuduh ini karena mafia, ini adalah pedagang, mereka mencari kehidupan, mencari margin keuntungan masa ngak boleh. Ini praktek yang lazim," ujarnya.
Rusdi menyarankan pemerintah mulai memfokuskan untuk memperbaiki aspek perdagangan antarpulau dan penyebarannya bukan hanya menguliti permasalahan program Tol Laut yang sebenarnya sudah berjalan dengan baik.
Sekali lagi, menurutnya, permasalahan disparitas harga saat ini berada di sektor perdagangan bukan masuk dalam kategori sektor pengangkutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- WFH Nasional Mulai Dibahas, Ini Kata Kemendagri
- Kepuasan Publik ke Trump Turun, Dipicu BBM dan Konflik Iran
- Guru Besar UIN: Kasus Penyiraman Aktivis Harus Dilihat sebagai Oknum
- Arus Balik, Rest Area Tol Cipali Diberlakukan Sistem Buka-Tutup
- Resmi, One Way Nasional Arus Balik Lebaran 2026 Berlaku Mulai Hari Ini
Advertisement
Posko THR Bantul Terima 20 Aduan, 5 Kasus Dilimpahkan ke Provinsi
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Kondisi Pantai Gunungkidul Aman dan Nihil Insiden, SAR Tetap Siaga
- Puncak Arus Balik 2026: 283 Ribu Kendaraan Menuju Jakarta Hari Ini
- RSUD Panembahan Senopati Buka Klinik Ginjal, Urai Antrean Pasien
- Sultra Diguncang 5 Gempa Beruntun, 2 Wilayah Jadi Titik Fokus
- Sleman Perluas Trayek Bus Sekolah di Kalasan, Target Mei 2026
- Puncak Arus Balik 2026: Rest Area KM 62B dan 52B Tol Japek Ditutup
- Ketahanan Energi Indonesia Dinilai Stabil di Tengah Geopolitik Global
Advertisement
Advertisement







