Advertisement
Ini Hasil Penyelidikan Kemenkes Terkait KLB Hepatitis A di Pacitan
Virus hepatitis - Ist/webMD
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA--Kementerian Kesehatan mengungkap sejumlah fakta temuan dari hasil penyelidikan dan penelitian kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A yang terjadi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang salah satunya berbagai sumber penularan penyakit.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono di Jakarta, Senin (1/7/2019), mengungkap hasil penelitian tim kesehatan terhadap sumber penularan diduga dari dua hal yakni makanan yang terkontaminasi virus dan sumber air yang tercemar.
Advertisement
Terdapat beberapa temuan yang sumber penularan diduga dari makanan yang terkontaminasi virus Hepatitis A. Pada saat bulan Ramadhan masyarakat sekitar kasus banyak mengonsumsi cincau atau dawet yang dibawa oleh pedagang keliling, sementara media yang digunakan berupa air yang diduga menggunakan air yang tidak dimasak.
Namun Anung menegaskan ini baru berupa dugaan awal dan perlu dilakukan analisis epidemiologi lebih lanjut. Hingga kini tim kesehatan dari kabupaten, provinsi, dan Kemenkes masih melakukan penyelidikan dan penelitian.
BACA JUGA
Tim menemukan ada kebiasaan masyarakat di bulan Ramadhan melakukan kegiatan berbuka bersama di masjid, masing-masing keluarga membawa makanan minuman dan dikonsumsi bersama serta dibawa pulang ke rumah.
Ada pula dugaan lain terkait makanan yang disajikan pada saat kegiatan syukuran atau hajatan pada periode sebelum, pada saat, dan sesudah lebaran. Faktor ini yang diduga menjadi media penyebaran kasus.
Sementara dugaan penularan dari air yang tercemar yaitu sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat yang berasal dari sungai Sukorejo.
Sepanjang aliran sungai banyak limbah rumah tangga yang mengalir ke sungai. Air sungai tersebut didistribusikan melalui mobil tangki untuk dijual ke masyarakat yang kemudian digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih.
Daerah yang mengalami KLB Hepatitis A secara geografis daerah pegunungan dan sekarang sedang mengalami musim kemarau sehingga kesulitan mendapat air bersih. Berdasarkan hasil laboratorium juga terbukti air sungai mengandung bakteri e coli.
Anung menjelaskan bahwa kondisi kekeringan dikarenakan curah hujan yang menurun di Pacitan sejak April juga menjadi faktor semakin tercemarnya air. Pada volume air yang lebih sedikit, konsentrasi bakteri atau virus di air menjadi lebih banyak sehingga mudah menginfeksi.
Tim juga menemukan depo air minum isi ulang tak bermerek, tetapi tidak semua masyarakat mengonsumsi air tersebut. Penemuan kasus Hepatitis A pertama terjadi pada 28 Mei 2019. Sementara masa inkubasi atau waktu pertama virus menginfeksi hingga munculnya gejala penyakit Hepatitis A ialah 15-50 hari.
Oleh karena itu diperkirakan infeksi virus terjadi saat bulan Ramadhan hingga setelah lebaran. Temuan kasus juga diperkirakan masih mungkin terjadi jika merujuk pada masa inkubasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Patroli China di Laut China Selatan Ancam Energi RI
- Wisatawan Lumajang Tersambar Petir, Satu Tewas di Pantai Bambang
- Gempa M 6,5 Guncang Maluku Barat Daya, Warga Berhamburan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
- Kualitas Udara Jakarta Memburuk saat Arus Balik, Kategori Tidak Sehat
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026: Tarif Rp8.000
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
- Jadwal KRL Solo ke Jogja Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026
- Sinergi Lintas Sektor Gedongtengen Bersihkan Jalan Letjen Suprapto
- Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Berpotensi Hujan
- Rumah Warga Pandes Bantul Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp80 Juta
Advertisement
Advertisement








