Kata Kemenlu Ihwal Pasutri yang Diduga Ledakkan Bom di Gereja Filipina

Tentara Filipina memeriksa gereja yang dibom di Kepulauan Jolo, Filipina, Minggu (27/1/2019). - Reuters
01 Februari 2019 22:35 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Serangan teror terhadap gereja di Filipina beberapa hari lalu diduga dilakukan oleh pasangan suami istri (pasutri) asal Indonesia.

Namun, sejauh ini Kementerian Luar Negeri (Kemenlu)  RI belum dapat mengonfirmasi berita mengenai kemungkinan keterlibatan dua WNI dalam teror bom di sebuah gereja di Jolo, Filipina Selatan. Hingga saat ini KBRI di Manila maupun KJRI di Davao City juga tengah berusaha mendapatkan konfirmasi dari berita tersebut.

“Menlu RI tengah mencoba berkomunikasi dengan berbagai pihak di Filipina untuk memperoleh konfirmasi," ujar Juru Bicara Kemlu RI Arrmanatha Nasir melalui pesan singkat kepada Antara di Jakarta, Jumat (1/2/2019) malam.

Informasi terakhir yang diterima Kemenlu hari ini dari Kepolisian Nasional Filipina (PNP) dan Komando Militer Western Mindanao Command (Westmincom) bahwa pelaku pengeboman di Jolo sampai saat ini belum teridentifikasi identitas maupun kewarganegaraannya.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano menyatakan dua pelaku serangan bom bunuh diri asal Indonesia berada di balik serangan yang terjadi di sebuah gereja Katolik di Pulau Jolo, Filipina Selatan pada 27 Januari 2019.

Serangan yang dilakukan pasutri tersebut mengakibatkan 22 orang meninggal dunia dan 100 orang luka-luka.

“Yang bertanggung jawab adalah pelaku bom bunuh diri asal Indonesia. Namun kelompok Abu Sayyaf yang membimbing mereka, dengan mempelajari sasaran, melakukan pemantauan rahasia dan membawa pasangan ini ke gereja,” kata Ano seperti diberitakan ABS-CBN News.

Ano mengatakan bahwa seorang pria yang dikenal sebagai “Kamah”, yang sekarang menjadi tersangka dalam pengeboman itu, bertindak sebagai salah satu pemandu pasangan Indonesia.

Ia mengklaim memiliki sumber informan yang memberitahunya bahwa pengeboman itu adalah ‘proyek’ kelompok teroris lokal Abu Sayyaf.

Direktur Senior Kepolisian Provinsi Sulu Pablo Labra mengatakan beberapa saksi mata menunjuk seorang pria dan wanita yang mereka percaya bertanggung jawab atas aksi teror tersebut.

Sebelumnya, Islamic State mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Sumber : Antara