Advertisement
Ihwal Yerusalem Barat, Malaysia Tuding Australia Hina Palestina
Suasana di Dome of the Rock dan Kota Lama Yerusalem pada 4 December 2017. - Reuters/Ronen Zvulun
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA - Keputusan Australia mengakui secara resmi Yerusalem Barat sebagai ibu kota kembali menuai tanggapan negatif. Kali ini, protes keras datang dari Malaysia, salah satu negara berpenduduk mayoritas Muslim di Asia Tenggara.
"Malaysia menentang keras keputusan Australia mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel," tulis Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam rilis resmi, Minggu (16/12/2018).
Advertisement
Australia menjadi satu dari segelintir negara yang mengikuti jejak Amerika Serikat mengakui kota suci tersebut sebagai bagian dari Israel.
Namun berbeda dengan AS, Australia hanya mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota. Selain itu, Australia menyatakan tidak akan memindahkan kedutaan besar dari Tel Aviv ke Yerusalem dalam waktu dekat hingga Israel-Palestina menyelesaikan sengketa.
"Kami akan memindahkan kedutaan besar kami ke Yerusalem Barat, ketika status akhir kota tersebut disepakati," kata Perdana Menteri Australia Scott Morrison saat mengumumkan keputusan tersebut di Sydney, Sabtu (15/12/2018).
Kendati demikian, Malaysia menyatakan keputusan yang dibuat sebelum ada kata sepakat antara Israel dan Palestina itu adalah langkah yang prematur, sekaligus penghinaan bagi Palestina.
"Keputusan yang dibuat Australia sebelum kesepakatan solusi 'dua negara' tercapai, merupakan langkah prematur dan penghinaan bagi penduduk Palestina serta perjuangan mereka untuk menentukan nasib sendiri," sambung Kementerian Luar Negeri Malaysia,
Putrajaya juga menegaskan posisinya yang mendukung solusi 'dua negara' dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Malaysia menilai opsi tersebut merupakan cara yang paling mungkin untuk meredakan konflik Israel-Palestina.
Status kota Yerusalem merupakan salah satu isu krusial yang menghalangi perdamaian Israel-Palestina. Permasalahan muncul setelah Israel mendaku seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya, termasuk bagian timur yang dianeksasi setelah perang Timur Tengah 1967.
Mereka menginginkan kedutaan besar negara lain bertempat di kota itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Wapres Gibran Lepas Alumni Pejuang Digital untuk Pendidikan 3T
- Potongan Jenazah Ditemukan di Kapal Thailand yang Diserang Rudal
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Dua Prajurit Masih Dirawat, KSAD Ungkap Situasi Terkini Lebanon
- Suhu Kawah Melonjak Radius Aman Gunung Slamet Diperluas
Advertisement
Advertisement









