Emmanuel Macron: Panggil Saya Tuan Presiden atau Tuan...

Seorang remaja yang menyambut Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan menyapa,"Apa kabarmu, Manu?" dibikin merah padam setelah disemprot tajam oleh Macron. - Twitter/Emmanuel Macron
21 Juni 2018 19:25 WIB Nugroho Nurcahyo News Share :

Harianjogja.com, PARIS-Semboyan Republik Prancis Liberté, égalité, fraternité yang bermakna Kebebasan, Keadilan, persaudaraan, ternyata tak sebebas merpati terbang.

Walau di Prancis seorang anak muda biasa memanggil orang yang lebih tua dengan langsung menyebut nama tanpa atribusi "Pak" atau "Bu", unggah-ungguh harus tetap dijalankan pada seorang politisi. Apalagi kepada kepala negara.

Seperti kebanyakan politisi, Presiden Prancis Emmanuel Macron dikenal senang menikmati perjumpaan dengan rakyat yang dipimpinnya dan berpose narsis dalam acara-acara publik. Tapi jangan sekali-kali panggil dia dengan nama karib.

Saat menghadiri temu rakyat di Paris pada Senin (18/6/2018) lalu, Macron naik darah saat seorang remaja menyapa sang presiden dengan menyebut nama panggilan karibnya. "Apa kabarmu, Manu?'

Mendengar anak bau kencur memanggilnya dengan nama karib, kepala negara berusia 40 tahun itu langsung menatap lekat-lekat di remaja itu dari atas ke bawah.

"Tidak, kamu tidak bisa seperti itu, tidak, tidak, tidak, jangan," Macron memperingatkan si remaja yang datang bersama teman-teman sekolahnya ke acara kunjungan Macron ke benteng Mont Velerien, dekat Paris itu.

Benteng Mont Velerien adalah tempat ratusan tentara Pertahanan Prancis dieksekusi tentara Nazi Jerman saat Perang Dunia II. "Maaf, Pak Presiden," kata si remaja menyadari naik pitamnya si Macron, mukanya merah padam.

Namun Macron tak membiarkan insiden kecil itu berhenti sampai di situ kendati si remaja mukanya sudah merah padam.

Ia menasihati si siswa SMP. Dia berkata, "Kau di sini untuk menghadiri upacara resmi dan kamu harus punya sikap [yang baik]. Kamu dapat bermain bodoh tetapi hari ini adalah Marseillaise, Chant des Partisans, jadi kamu [harus] memanggil saya Tuan Presiden atau Tuan. Oke?"

Menyampaikan pidato coup de grace, Macron mengatakan kepada para remaja yang telah memulai acara dengan menyanyikan beberapa baris dari lagu Sosialis, The Internationale, agar senantiasa "melakukan hal-hal dalam urutan yang benar".

"Pada hari kalian semua ingin memulai sebuah revolusi, kalian harus sudah belajar terlebih dahulu dan mendapatkan gelar [akademis] dan mencari makan sendiri, oke? Baru kemudian kalian dapat menguliahi orang lain," katanya.

Peristiwa ini tertangkap kamera sehingga video Macron naik pitam menyebar viral di media sosial.

Begitulah Macron, Presiden yang mengadopsi gaya pembesar, memakai gaya kepemimpinan top-down, dan pernah menerima kritik karena bahasanya yang kasar.

Dalam video resmi yang dibagikan oleh kantor kepresidenan Prancis pada pekan lalu, Macron mengeluh bahwa orang Prancis menghabiskan "sejumlah besar adonan gila" untuk jaminan sosial.

Para kritikus Macron menanggapi isi video itu sebagai bukti bahwa orang yang mereka sebut "presiden orang kaya" memang tidak memiliki empati terhadap orang miskin.

Tahun lalu, Macron juga mengangkat pergerakan orang-orang kiri dengan menyebut para pemrotes yang mencela reformasi perburuhannya sebagai orang-orang pemalas.

 

Sumber : The Strait Times