Advertisement
Emmanuel Macron: Panggil Saya Tuan Presiden atau Tuan...

Advertisement
Harianjogja.com, PARIS-Semboyan Republik Prancis Liberté, égalité, fraternité yang bermakna Kebebasan, Keadilan, persaudaraan, ternyata tak sebebas merpati terbang.
Walau di Prancis seorang anak muda biasa memanggil orang yang lebih tua dengan langsung menyebut nama tanpa atribusi "Pak" atau "Bu", unggah-ungguh harus tetap dijalankan pada seorang politisi. Apalagi kepada kepala negara.
Advertisement
Seperti kebanyakan politisi, Presiden Prancis Emmanuel Macron dikenal senang menikmati perjumpaan dengan rakyat yang dipimpinnya dan berpose narsis dalam acara-acara publik. Tapi jangan sekali-kali panggil dia dengan nama karib.
Saat menghadiri temu rakyat di Paris pada Senin (18/6/2018) lalu, Macron naik darah saat seorang remaja menyapa sang presiden dengan menyebut nama panggilan karibnya. "Apa kabarmu, Manu?'
Mendengar anak bau kencur memanggilnya dengan nama karib, kepala negara berusia 40 tahun itu langsung menatap lekat-lekat di remaja itu dari atas ke bawah.
"Tidak, kamu tidak bisa seperti itu, tidak, tidak, tidak, jangan," Macron memperingatkan si remaja yang datang bersama teman-teman sekolahnya ke acara kunjungan Macron ke benteng Mont Velerien, dekat Paris itu.
Benteng Mont Velerien adalah tempat ratusan tentara Pertahanan Prancis dieksekusi tentara Nazi Jerman saat Perang Dunia II. "Maaf, Pak Presiden," kata si remaja menyadari naik pitamnya si Macron, mukanya merah padam.
Namun Macron tak membiarkan insiden kecil itu berhenti sampai di situ kendati si remaja mukanya sudah merah padam.
Ia menasihati si siswa SMP. Dia berkata, "Kau di sini untuk menghadiri upacara resmi dan kamu harus punya sikap [yang baik]. Kamu dapat bermain bodoh tetapi hari ini adalah Marseillaise, Chant des Partisans, jadi kamu [harus] memanggil saya Tuan Presiden atau Tuan. Oke?"
Menyampaikan pidato coup de grace, Macron mengatakan kepada para remaja yang telah memulai acara dengan menyanyikan beberapa baris dari lagu Sosialis, The Internationale, agar senantiasa "melakukan hal-hal dalam urutan yang benar".
"Pada hari kalian semua ingin memulai sebuah revolusi, kalian harus sudah belajar terlebih dahulu dan mendapatkan gelar [akademis] dan mencari makan sendiri, oke? Baru kemudian kalian dapat menguliahi orang lain," katanya.
Peristiwa ini tertangkap kamera sehingga video Macron naik pitam menyebar viral di media sosial.
Begitulah Macron, Presiden yang mengadopsi gaya pembesar, memakai gaya kepemimpinan top-down, dan pernah menerima kritik karena bahasanya yang kasar.
Le respect, c’est le minimum dans la République – surtout un 18 juin, surtout en présence des compagnons de la Libération. Mais cela n’empêche pas d’avoir une conversation détendue – regardez jusqu’au bout. pic.twitter.com/CWtPDAALhK
— Emmanuel Macron (@EmmanuelMacron) June 18, 2018
Dalam video resmi yang dibagikan oleh kantor kepresidenan Prancis pada pekan lalu, Macron mengeluh bahwa orang Prancis menghabiskan "sejumlah besar adonan gila" untuk jaminan sosial.
Para kritikus Macron menanggapi isi video itu sebagai bukti bahwa orang yang mereka sebut "presiden orang kaya" memang tidak memiliki empati terhadap orang miskin.
Tahun lalu, Macron juga mengangkat pergerakan orang-orang kiri dengan menyebut para pemrotes yang mencela reformasi perburuhannya sebagai orang-orang pemalas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : The Strait Times
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Aduan Konten Judi Online Mencapai 1,3 Juta
- Tunjangan Guru Non ASN pada RA dan Madrasah Cair Juni 2025, Segini Besarannya
- Kerusuhan di Lapas Narkotika Muara Beliti Sumsel, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Ungkap Penyebabnya
- Sejoli Ditemukan Meninggal Dunia dalam Mobil di Jambi, Diduga Keracunan AC
- 1,7 Juta Pengemudi Ojol Belum Punya Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
Advertisement

Tim Hukum Pemkab Bantul Dampingi Pengusutan Kasus Tanah Keluarga Bryan
Advertisement

Jembatan Kaca Seruni Point Perkuat Daya Tarik Wisata di Kawasan Bromo
Advertisement
Berita Populer
- Merespons Gelombang PHK, Menaker Akan Optimalkan Platform SIAPKerja
- 1,7 Juta Pengemudi Ojol Belum Punya Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
- BEI Sebut Ada 30 Perusahaan Bakal Ipo Tahun Ini
- Sejoli Ditemukan Meninggal Dunia dalam Mobil di Jambi, Diduga Keracunan AC
- Kerusuhan di Lapas Narkotika Muara Beliti Sumsel, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Ungkap Penyebabnya
- Tunjangan Guru Non ASN pada RA dan Madrasah Cair Juni 2025, Segini Besarannya
- Kejagung Sita Uang Rp479 Miliar Terkait Korupsi Duta Palma
Advertisement