FEATURE: Belum Sepekan, THR Sudah Bablas untuk Bayar Utang

I Ketut Sawitra Mustika
I Ketut Sawitra Mustika Sabtu, 09 Juni 2018 12:25 WIB
FEATURE: Belum Sepekan, THR Sudah Bablas untuk Bayar Utang

Rupiah kadang lekas habis karena kebutuhan hidup sangat banyak./Antara-Yusuf Nugroho

Harianjogja.com, JOGJA—Untuk kali pertama dalam sejarah birokrasi Indonesia, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) dan TNI/Polri menerima tunjangan hari raya (THR). Uangnya dimanfaatkan dengan cara beragam. Kebijakan populis ini disambut baik para pensiunan. Berikut laporan wartawan harianjogja.com, I Ketut Sawitra Mustika.

Selasa pagi (5/6), Sutopo, pensiunan juru gambar di Kodim 0734/Jogja itu pagi-pagi buta menuju Kantor Pos Besar Jogja. Pintu kantor masih tertutup. Waktu masih menunjukkan pukul 06.00 WIB. Namun, di tempat itu sudah banyak orang mengantre. Sutopo datang untuk mencairkan THR Rp1,6 juta.

Sutopo adalah pensiunan PNS dengan golongan 3A, yang bekerja di Kodim 0734/Jogja sejak 1977. Ia cukup terkenal. Nama dan wajahnya kerap terpampang di media nasional dan lokal berkat usahanya menyebarkan virus literasi melalui becak pustaka.

Sebagai juru gambar, tugas Sutopo adalah membuat peta idpoleksosbud (ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya), sebuah konsep semasa Dwifungsi ABRI masih diterapkan di Indonesia. Sesuai namanya, peta ini berisi berbagai informasi dan data intelijen mengenai dinamika masyarakat. Jika ada riak-riak yang dianggap berpotensi menimbulkan ketidakstabilan politik dan mengganggu kekuasaan Orde Baru, tentara akan langsung bergerak.

Karena tugasnya itu, Sutopo punya akses terhadap berbagai informasi intelijen yang tentu saja bersifat rahasia. Bahkan, saat operasi rahasia penumpasan gali, atau yang dikenal dengan petrus (penembakan misterius) pada era 1980-an, Sutopo tahu benar siapa saja preman yang harus dibinasakan dan kapan waktu terakhirnya di muka Bumi.

Sutopo pensiun pada 2003. Semenjak itu, saban bulan ia memperoleh uang sebanyak Rp1,7 dari negara. Setelah purna tugas sebagai juru gambar, ia memutuskan jadi tukang becak, sebab menurutnya seorang pensiunan yang tak punya kesibukan memiliki potensi mati lebih cepat ketimbang yang masih punya kerja.

Saat menyaksikan Presiden Jokowi mengumumkan pensiunan tahun ini dapat THR melalui televisi, ia tentu bungah.

“THR adalah sesuatu yang dinanti-nanti. Ini duit tambahan. Kalau dibilang ini ada motif politiknya, itu mengada-ada. Seorang kepala negara wajib memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya,” ujar Sutopo, Jumat (8/6).

Langsung Habis

Menghabiskan uang adalah perkara sepele. Setelah dicairkan beberapa hari silam, uang THR Sutopo sudah tandas tak berbekas. Bahkan ini belum berjarak sepekan dari waktu ia ke Kantor Pos Besar Jogja.

Ia berkata, “Setiap orang itu pasti punya utang.”

Termasuk dirinya. Oleh karena itu saat dapat penghasilan tambahan, langkah yang diambil adalah membayar tunggakan-tunggakan yang segera jatuh tempo. Mumpung ada, daripada habis tak jelas, lebih baik segera dipergunakan untuk hal yang penting.

Selain untuk melunasi utang, sebagian uang THR-nya juga diberikan kepada cucu-cucunya. “Untuk membantu biaya pendidikan. Kalau buat saya sama istri, penghasilan bulanan sudah cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.”

Selain penghasilan dari menarik becak dan uang pensiun, pemasukan keluarga Sutopo (ia hanya hidup berdua dengan sang belahan jiwa) juga berasal dari istrinya. Saban hari, istri Sutopo membuat bunga mawar imitasi untuk dijual. Untuk mendapatkan bayaran Rp25.000, istrinya mesti menyelesaikan 1.000 bunga imitasi terlebih dahulu.

“1.000 itu sehari juga selesai. Daripada ngerumpi, mending bikin bunga,” kata pria kelahiran 7 Juni 1947 ini.

Sebenarnya ia punya rencana menggunakan uang THR-nya untuk mempercantik becak pustakanya. Ia punya keinginan menggubah becak kayuhnya jadi becak motor. Tapi, karena becak motor dianggap berbahaya, dan lebih dari itu tak sesuai dengan undang-undang manapun di negeri ini, Sutopo akan membuat becaknya jadi seperti mobil mini. Pintu masuk akan dibuat di samping. Bagian depan otomatis tertutup.

“Desainnya sudah selesai saya buat. Kalau ini lebih aman dari becak motor. Mesinnya saya juga sudah tersedia, lengkap dengan surat-suratnya,” ujar Sutopo yang masih rajin lari pagi di usianya yang senja.

Kecemburuan

Berbeda dengan Sutopo yang THR-nya sudah tandas, pensiunan lain bernama Sutikno malah belum membelanjakan uang hari rayanya sama sekali. Sebab ia sudah menyiapkan anggaran untuk Lebaran.

Sutikno baru mencairkan uang pensiun bulanan. Duit THR disimpan saja di rekeningnya. Jika anggaran Lebaran yang disiapkan ternyata kurang banyak, THR akan diambil. Kalau pun harus diambil, yang dicairkan hanya sebagian. Jumlahnya akan disesuaikan dengan kekurangan dana Lebaran. Dia berharap biaya hari raya tidak membengkak.

Sebagai pensiunan PNS Kementerian Kesehatan, Sutikno dapat THR Rp3,4 juta. Sepanjang kariernya selama 30 tahun, ia hanya bekerja di satu instansi, yakni Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKL PP DIY).

Selain karena sudah menganggarkan uang untuk hari raya, ia punya prinsip, jika uang yang sudah di tangan akan lebih cepat habis, sebab manusia selalu punya alasan dan cara untuk membelanjakan duit, karena itu lebih baik disimpan dulu.

“Kalau diambil semua pasti akan habis pas hari raya.”

Toh saat ini dengan uang pensiunan, gaji sang istri yang bekerja sebagai guru, hasil sawah dan beternak kecil-kecilan, Sutikno tak terlalu risau dalam menghadapi Idulfitri.

Bahkan, Sutikno belum punya gambaran THR-nya akan digunakan untuk apa kelak. Pokoknya uangnya akan disimpan. Siapa tahu di masa depan, kemungkinan besar begitu, anaknya akan meminta berbagai macam barang baru atau ada kebutuhan yang sangat mendesak. Saat-saat seperti itulah THR akan dikeluarkan dari bank.

Dapat THR saat pensiun tentu merupakan hal yang membahagiakan. Sutikno pun demikian. Tetapi, menurutnya, kebijakan Jokowi ini menghasilkan kecemburuan sosial di kalangan masyarakat.

“Saya sering ke pasar dan bergaul dengan berbagai pedagang. Mereka kadang ngomong, ‘Kowe ki ngapa? Melek ae wis entuk duit satus.’ Saya tahu itu bercanda tapi saya memang merasakan itu [kecemburuan sosial].”

Belum lagi jika ia melihat kesejahteraan petani tak kunjung membaik dari tahun ke tahun. Apalagi bagi mereka yang berstatus sebagai penggarap, yang tak mendapatkan banyak hasil, karena kebanyakan untuk sang tuan tanah,

“Kalau saya senang dapat THR, tetapi bagi orang yang di bawah saya, saya bisa merasakan kesedihan mereka. Saya sangat menyayangkan kok bisa kesejahteraan petani masih minim,” kata dia.

Beda Sutikno, beda lagi Sukarti, seorang pensiunan dosen. Ia dapat THR sekitar Rp3 juta. Uang yang dia dapat digunakan untuk membeli kulkas baru, karena kulkas lamanya rusak. Baginya dapat THR adalah sebuah kebahagiaan. “Pensiunan belum pernah dapat THR. Ngambilnya barengan sama uang pensiun bulanan di Bank BPD DIY, jadi rasanya banyak karena dobel dengan gaji pensiun.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online