Advertisement

200 Tahun Karl Marx, Xi Jinping Ingin Marxisme Jadi Jalan Hidup Tiongkok

Renat Sofie Andriani
Jum'at, 04 Mei 2018 - 19:25 WIB
Budi Cahyana
200 Tahun Karl Marx, Xi Jinping Ingin Marxisme Jadi Jalan Hidup Tiongkok Bendera China dikibarkan di lapangan Tiananmen untuk menyambut the Belt and Road Forum atau KTT Jalur Sutra, di Beijing, China, Sabtu (13/5). - Reuters

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Keputusan Partai Komunis Tiongkok untuk tetap menganut Marxisme dinilai tepat oleh Presiden Xi Jinping dalam pidatonya menjelang peringatan ulang tahun ke-200 Karl Marx, penggagas konsep masyarakat tanpa kelas.

Sejak berkuasa pada 2012, Xi Jinping, yang secara luas dipandang sebagai pemimpin terkuat Negeri Tirai Bambu setelah Mao Zedong, menyatakan partai itu tidak boleh melupakan akar sosialisme meski berupaya mencapai pembaruan besar bagi bangsa Tiongkok.

Advertisement

“Menorehkan Marxisme ke dalam bendera Partai Komunis Tiongkok merupakah hal yang sepenuhnya tepat. Adalah sesuatu yang sama sekali benar untuk tak henti-hentinya mendorong signifikasi dan modernisasi Marxisme,” ujar Jinping di Beijing, seperti dikutip Reuters, Jumat (4/5/2018).

Xi juga mengamanatkan seluruh anggota partai untuk mengadopsi interpretasi karya-karya serta pemahaman teori-teori Marxisme sebagai jalan hidup dan pencarian spiritual.

Pidato Xi disampaikan menjelang akhir propaganda yang dilancarkan selama sepekan oleh media pemerintah, di antaranya melalui seri dokumenter bertajuk Marx is Right, yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa teori-teori Marx tetap relevan dengan Tiongkok modern dan generasi berikutnya.

Tiongkok dewasa menampilkan semua ornamen masyarakat kapitalis modern, mulai dari konsumsi yang meluas hingga gap besar antara elit perkotaan dan kaum miskin di pedesaan.

Kontradiksi yang nyata antara retorika dan tampilan partai telah mendorong banyak analis untuk melihat bahwa Partai Komunis Tiongkok tidak lagi benar-benar termotivasi oleh Marxisme.

Namun, Xi dengan sepenuh hati telah merangkul ideologi dasar partai tersebut serta kembali memperkenalkan sesi-sesi kajian seperti yang pernah diterapkan pada era Mao Zedong. Dalam hal ini, Xi menekankan perlunya Tiongkok untuk percaya diri dalam sejarah revolusioner dan sistem politiknya.

“Bahkan jika hal itu menyinggung kearifan konvensional pascakomunis, saya pikir kita harus mulai menerima gagasan bahwa Xi Jinping benar-benar percaya pada Marx dan Marxisme,” kata Jude Blanchette, kepala praktik Tiongkok untuk Crumpton Group.

“Penegasan terhadap Marx juga membantu memperluas celah ideologis dengan demokrasi kapitalis Barat setelah berbagai peristiwa seperti krisis finansial global 2008 dan terpilihnya Presiden Donald Trump di Amerika Serikat,” tambah Blanchette.

 

Patung Marx dari Tiongkok

Lahir pada 5 Mei 1818 di Trier, Jerman, Karl Marx dijuluki sebagai Bapak Komunisme yang memperkenalkan ideologi komunis secara global. Ia paling dikenal atas analisisnya terhadap sejarah, seperti yang dituliskan dalam buku Communist Manufesto.

Di tempat kelahiran Marx, peringatan 200 tahun lahirnya filsuf ini lebih banyak berbicara tentang sejarah dan keramahtamahan.

Masyarakat setempat dikabarkan akan merayakan ulang tahun Marx akhir pekan ini dengan menggelar pameran-pameran serta tampilnya patung Marx yang disumbangkan oleh Tiongkok.

“Masyarakat Trier, yang merupakan bagian dari kapitalis Jerman Barat setelah Perang Dunia II, telah lama merasa sedikit malu tentang Marx,” kata juru bicara kota Michael Schmitz, seperti dikutip Bloomberg. “Kami menyadari fakta bahwa ini adalah bagian dari kebangkitan Marx yang lebih besar di Tiongkok.”

Dewan kota memilih untuk menerima hadiah itu dari Tiongkok tahun lalu menyusul resolusi yang menekankan pentingnya hak asasi manusia. “Kami tidak memiliki industri, jadi kami tidak mendapatkan banyak pendapatan dari pajak-pajak bisnis,” kata Schmitz.

Norbert Kaethler, kepala badan pariwisata di Trier, menyambut hadiah patung tersebut. Ia memperkirakan keberadaan patung itu akan meningkatkan jumlah pengunjung Tiongkok sebanyak 110.000 orang ke kota tersebut.

“Banyak orang Tiongkok berpikir Trier pastilah merupakan kota yang penting di Jerman karena Marx dilahirkan di sini,” kata Kaethler.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo

Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo

Kulonprogo
| Minggu, 05 April 2026, 01:27 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement