KISAH INSPIRATIF : Bocah Jenius Ini Punya IQ Setara dengan Einsten

Sherwyn Sarabi (Mirror)
17 Februari 2016 04:20 WIB Mediani Dyah Natalia News Share :

Kisah inspiratif berikut mengenai Sherwyn Sarabi yang memiliki skore IQ 160. Dia telah menyiapkan General Certificate of Secondary Education (GCSE) untuk matapelajaran matematika, sedangkan teman seumurannya masih duduk di kelas dua.

Harianjogja.com, INGGRIS - Seorang anak laki-laki dengan IQ setinggi Einstein menjadi anggota termuda Mensa [organisasi dengan anggota IQ tinggi].

Dikutip dari Mirror, Selasa (16/2/2016), Sherwyn Sarabi setidaknya memiliki skore 160. Nilai ini menempatkan dia untuk masuk dalam grup elit yang sebelumnya juga beranggotakan Stephen Hawking. Dia belajar GCSE untuk matematika, telah lulus pendidikan musik piano tingkat kelima dan biola di tingkat ketiga.

Ibu Sarabi, Amanda, yang merupakan warga Barnsley, Yorks Selatan berkata,"Kami banyak bekerja di luar sekolah, karena sekolah tidak cukup untuknya. Dia ingin mengajar dan belajar jika tidak, dia akan merasa bosah. Dia akan bertingkah jika merasa tak merasa tertantang."

"Walau matematika adalah mata pelajaran yang disukai, dia menyukai setiap hal yang dicoba, misal musik," jelasnya.

Sarabi menyampaikan," Saya selalu menyukai matematika. Saya juga menyukai semuanya, terutama algebra. Sulit untuk menjelaskan mengapa aku dapat melakukannya, semua berjalan apa adanya."

"Saya tidak dapat mengingat mengenai tes mensa. Namun saya merasa gembira dapat bergabung dan bertumbuh juga. Saya rasa saya akan lebih suka matematika ketika sudah dewasa tapi saya tak yakin sekali. Saya hanya merasa suka diuji oleh guru lalu keluar dari sekolah."

"Saya mengikuti kelas pidato dan drama setelah belajar. Saya suka sepak bola dan musik. Saya suka menjadi sibuk."

Amanda kini menulis sebuah buku untuk memberikan saran bagi orang tua yang memiliki anak genius. Buku ini berisi bagaimana mendapatkan dukungan untuk anak-anak spesial seperti ini, hal-hal penting tentang tes IQ dan bagaimana izin dari sekolah tiap tahun.

"Ketika pertamakali mengetahui dia seorang jenius, saya merasa bingung. Dia belajar segala sesuatu dengan cepat selama hidupnya. Dalam perjalanan waktu, dia tahu warna-warna, saat berusia dua tahun, dia mengetahui nama negara di peta, saat empat tahun dia mengikuti tes skala IQ di Mensa. Saya harus banyak baca buku bagaimana cara membantunya. Ketika melakukan ini, saya berpikir mengapa tak menulis dalam sebuah buku?"