Advertisement
KEKURANGAN GURU : 3 Semester Tak Ada GPK untuk ABK
Advertisement
Kekurangan guru, Bantul membutuhkan GPK untuk membantu ABK.
Harianjogja.com, BANTUL - SD N 2 Temuwuh di Kecamatan Dlingo, Bantul kekurangan guru pendamping khusus (GPK) untuk membantu pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK). Saat ini tercatat ada sebanyak 26 siswa berkebutuhan khusus (abk) di SD 2 Temuwuh yang perlu mendapat pendampingan khusus dalam mengikuti
pelajaran seperti anak lain umumnya.
Advertisement
Juru bicara SD 2 Temuwuh Sri Haryati mengaku ada kendala khusus dialami pihak sekolah seperti kesulitan guru kelas mendamping 26 anak untuk rombongan belajar kelas 1 hingga kelas 6.
"Sebenarnya kami sangat membutuhkan GPK agar hak ABK ini tetap bisa terlayani dengan baik," kata Sri Haryati kepada Harianjogja.com, belum lama ini.
Guru mata pelajaran agama islam SD Temuwuh ini mengatakan tahun ajaran baru sebelumnya sekolah memiliki GPK yang ditugaskan rutin datang melakukan pendampingan siswa abk SD 2 Temuwuh secara intens.
"Tapi sejak tiga semester terakhir GPK ditarik pemerintah tidak lagi bertugas mendampingi SD 2 Temuwuh," tambahnya.
Sri Haryati menyatakan selama ini pihak SMP 2 Temuwuh sudah menjalankan kebijakan pemerintah yakni harus menerima abk yang hendak menempuh pendidikan umum. Akibatnya, karena tidak terdapat lagi GPK pihak sekolah hanya mengandalkan guru kelas yang pernah mengikuti pelatihan dasar penanganan pendidikan abk.
Nining, guru wali kelas 6 menjelaskan dari 26 abk terdiri dari siswa berpengelihatan rendah, daya tangkap rendah hingga anak berperilaku aktif. Ada beberapa abk yang kadang sulit menyesuaikan jam pelajaran dan memilih bermain-main.
"Memang kurang maksimal kalau kami atasi sendiri. Sepertinya assessment dari GPK masih sangat kami perlukan," ujarnya.
SD ini memiliki tujuh rombongan belajar berjumlah 153 siswa. Setiap tahun harus tahun harus turut meluluskan siswa abk yang sesuai ketentuan pemerintah tidak boleh sampai tinggal kelas. Sekolah dipimpin kepala bernama Sumarni ini memiliki cerita tersendiri adanya dua siswa kakak beradik dalam satu kelas yang akhirnya lulus ujian
nasional.
Terpisah, mantan Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Bantul Mudiyana, yang baru dua hari ini menjalankan tugas baru di kepala bidang transmigrasi Disnakertran mengakui jumlah GPK untuk memenuhi ratusan sekolah di Bantul belum mencukupi kebutuhan. Tidak hanya untuk jenjang SD, kekurangan GPK untuk dijenjang SMP perlu mendapatkan penanganan sebagai pelayanan hak abk.
"Perlu ada perhatian khusus untuk kurangnya GPK di Bantul. Tapi mohon dimaklumi saya sekarang sudah bertugas di SKPD lain," singkat Mudiyana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Ansyari Lubis Minta PSS Sleman Tampil Maksimal Lawan Kendal Tornado
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks 28 Maret dari Jogja ke Kutoarjo, Ini Rinciannya
- Empat Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 28 Maret 2026
- Sempat Pingsan di Lapangan, Szmodics Kini Berangsur Pulih
- Mobil MBG Dipakai Angkut Sampah, SPPG Langsung Ditutup
- Prakiraan Cuaca Sabtu 28 Maret Hujan Ringan Merata di DIY
- Tabrakan Maut Lawan Truk Hino di Jalur Jogja-Wonosari, Pemotor Tewas
- Urus SIM Akhir Pekan di Jogja, Ini Jadwal Sabtu 28 Maret 2026
Advertisement
Advertisement



