Advertisement
Bagi Brittany, Meninggal dengan Martabat Seperti Ini
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA-Adalah Brittany Maynard. Perempuan Amerika Serikat (AS) yang menjadi pasien kanker otak stadium akhir
ini memiliki keputusan yang cukup ekstrim. Meninggal dengan penuh martabat atau dengan kata lain mengakhiri hidup seperti yang diinginkan dengan penuh ketenangan.
Akhirnya, minggu lalu ia berhasil menggapai mimpi mengunjungi Grand Canyon. Setikdaknya itukah yang Brittany tulis melalui
websitenya di http://www.thebrittanyfund.org/.
Advertisement
"Canyon benar-benar sangat indah dan aku menghabiskan waktu yang penuh kebahagian dengan dua hal yang paling aku cinta,
keluagaku dan alam," kata dia.
Dalam website tersebut, tampak foto-foto Brittany dan suaminya yang penuh dengan kasih sayang.
Meski semua dijalani dengan indah, tetapi tidak semua berjalan dengan lancar. Sebab kanker di tubuhnya terus menggerogoti Brittany.
"Berungkali aku mengalami sakit kepala. Sakit di leher juga seakan tidak mau pergi. Sayangnya, pada keesokan hari, aku mengalami
serangan terburuk yang pernah aku rasakan selama ini," tulis dia di website.
"Aku tidak dapat berbicara beberapa waktu setelah sadar dan rasanya badanku lemah sekali," kata dia.
Brittany telah menikah setahun yang lalu. Tepatnya, setelah ia mengetahui mengalami kanker otak yang agresif. April 2014, dokter
memprediksi usia Brittany tinggal enam bulan lagi. Dari vonis ini, Brittany memutuskan mengakhiri hidup di rumah sakit.
"Aku menyadari kematian juga penuh martabat. Itulah keputusanku dan aku pikir itulah yang terbaik untukku dan keluarga," kata dia
untuk CNN.
Dengan keputusan tersebut, Brittany dan keluarga harus pergi dari California menuju Oregon. Sebab Oregon merupakan satu dari lima
negara bagian yang mendukung kematian bermartabat.
Dari video yang diposting di Youtube, Brittany didukung keluarga menceritakan tentang keputusannya meninggal dengan penuh
martabat. Menurut dia, cara ini tidak hanya untuk mengurangi rasa sakit yang diderita selama ini, tetapi juga pilihan untuk menjalani
kematian dengan penuh ketenangan.
Dengan perlindungan hukum dari negara setempat, Brittany mulai menyuarakan keinginan ini secara luas dengan membuat organisasi.
"Mimpiku adalah setiap pasien yang menjalani sakit parah di Amerika dapat memiliki akses untuk memilih kematian sesuai keinginan
atau dengan penuh martabat," tulisnya di website.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- Wapres Gibran Lepas Alumni Pejuang Digital untuk Pendidikan 3T
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
- Guru Besar UGM Ungkap Mikroalga Bisa Jadi Energi Masa Depan
- Lagi, Tiga Prajurit Indonesia Terluka dalam Ledakan di Lebanon
Advertisement
Advertisement




