Advertisement
LAPAS SLEMAN DISERBU : Polisi Tak Setop Penyidikan Cebongan
Advertisement
[caption id="attachment_397119" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/?attachment_id=397119" rel="attachment wp-att-397119">http://images.harianjogja.com/2013/04/LAPAS-Cebongan-Gigih-M-Hanafi3-370x246.jpg" alt="" width="370" height="246" /> Foto Lapas Cebongan
JIBI/Harian Jogja/Gigih M Hanafi[/caption]
JAKARTA -Kepala Kepolisian Jenderal Timur Pradopo mengatakan, Kepolisian belum menghentikan penyidikan kasus penyerangan ke Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman. Kepolisian masih terus mengusut insiden yang menewaskan empat tahanan itu dengan membantu penyidik Polisi Militer TNI.
Advertisement
"Proses penyelidikan terus dilakukan. Kami sekarang membantu penyidik POM TNI. Karena itu, akan terus dilakukan langkah-langkah penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut," kata Timur di kantornya, Senin, (15/4).
Timur enggan memastikan kemungkinan adanya pihak sipil yang terlibat dalam penyerangan 23 Maret itu. "Kami sekarang fokus seperti apa yang dilaporkan penyidik polisi militer."
Tim investigasi TNI Angkatan Darat mengklaim 11 anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup 2 Menjangan, Kartasura, Sukoharjo, menyerang Cebongan. Satu di antaranya, berinisial U, mengeksekusi empat tersangka yang diduga membunuh Sertu Santoso, anggota Kopassus.
Komisi Hak Asasi Manusia menilai temuan Tim Investigasi TNI AD janggal. Ketua Komisi, Siti Noor Laila, mengatakan, penyerang Cebongan sekurangnya 14 orang. Mereka bersenjata laras panjang, pistol, dan masing-masing membawa dua granat.
Terpisah, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengaku masih mencari data pasti jumlah anggota Kopassus yang terlibat penyerangan. Mabes TNI masih menunggu pengungkapan pengadilan berdasarkan keterangan saksi di pengadilan militer. Panglima juga mempersilakan Komnas HAM untuk memaparkan temuan tentang jumlah pelaku yang berbeda dengan hasil investigasi yang dilakukan oleh tim TNI AD.
"Masih diselidiki, ada yang bilang 11 orang, 14 orang, sembilan orang, tapi kan kami tidak tahu persisnya. Nanti bisa diikuti di pengadilan [militer]." ujarnya.
Agus mengatakan proses penanganan peradilan sampai saat ini telah memasuki tahap penyidikan di Pomdam IV/Diponegero. Sementara itu, dia menjamin proses peradilan dan persidangan akan berjalan secara terbuka dan transparan, sehingga persidangan dapat memenuhi rasa keadilan dan sesuai dengan tahapan-tahapan proses peradilan yang berlaku.
Oleh karena itu, dia mempersilakan masyarakat dan media untuk mengawasi jalannya persidangan. Proses peradilan tersebut akan dilakukan sesuai dengan undang-undang yang mengatur soal kasus yang melibatkan anggota militer.
“Untuk itu percayakan saja ke pengadilan militer. Semua dilakukan secara terbuka. Nanti bisa masyarakat bisa memberikan kritik," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Patroli China di Laut China Selatan Ancam Energi RI
- Wisatawan Lumajang Tersambar Petir, Satu Tewas di Pantai Bambang
- Gempa M 6,5 Guncang Maluku Barat Daya, Warga Berhamburan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
- Kualitas Udara Jakarta Memburuk saat Arus Balik, Kategori Tidak Sehat
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
- Jadwal KRL Solo ke Jogja Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026
- Rumah Warga Pandes Bantul Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp80 Juta
- Sinergi Lintas Sektor Gedongtengen Bersihkan Jalan Letjen Suprapto
- Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Guguran Lava Terjadi Ratusan Kali
- MotoGP COTA 2026 Dimulai, Berikut Jadwal Lengkapnya
Advertisement
Advertisement




