Advertisement
Angin Musim Timur Laut Sebabkan Banjir di Jakarta
Advertisement
http://images.harianjogja.com/2013/01/hujan3-370x247.jpg" alt="" width="370" height="247" />JAKARTA–Radar Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menunjukkan, angin musim timur laut atau northeasterly monsoon surge dari Laut China Selatan menyebabkan curah hujan tinggi yang mengakibatkan banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Kamis (17/1/2013).
“Fenomena ini menyebabkan debit Sungai Ciliwung pada tanggal 17 lebih dari 650 m3/detik, sehingga meluap melampaui tanggul, dan menyebabkan banjir di pusat kota Jakarta,” kata Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana BPPT, Udrekh.
Advertisement
BPPT memasang dua unit Multi Parameter Radar (MPR) di lapangan Monumen Nasional Jakarta, Jumat (18/1/2013).
Teknologi radar cuaca itu mampu memantau pergerakan curah hujan ekstrem dengan resolusi 500 meter (ukuran sel terkecil yang dapat dideteksi) yang datanya dapat disediakan setiap enam menit.
Data pergerakan curah hujan itu merupakan dasar penting untuk mendeteksi fenomena ekstrem yang dapat menyebabkan banjir.
Informasi sebaran hujan, intensitas hujan, dan informasi pendukung lainnya juga ditampilkan dalam bentuk informasi spasial yang dapat diakses oleh masyarakat dan pengambil keputusan melalui web, sms, smartphone maupun jejaring sosial.
Sistem informasi hujan dan genangan berbasis keruangan yang dinamakan “Sijampang” itu dikembangkan BPPT sejak 2009 dan cukup handal untuk memberikan peringatan dini banjir kepada masyarakat oleh pengambil keputusan, kata Udrekh.
BPPT, menurut dia, juga sudah memperkirakan curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir di Jakarta pada Kamis 17 Januari 2013.
“Kondisi curah hujan yang tinggi ini diprediksi masih akan berlanjut sampai petengahan Februari 2013,” katanya.
Untuk mencegah banjir, BPPT dan BNPB sedang mempersiapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan tiga metode.
Metode pertama yang digunakan adalah percepatan proses awan menjadi hujan terhadap awan-awan yang sedang tumbuh di daerah upwind yang bergerak memasuki Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitar Jakarta.
“Diharapkan awan-awan tersebut akan turun menjadi hujan sebelum masuk DAS. Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan armada pesawat terbang BPPT,” ujarnya.
Metode berikutnya, mengganggu proses pertumbuhan awan di DAS yang bergerak meninggalkan DAS agar awan tidak menjadi hujan di atas DAS. Metode ini dieksekusi menggunakan peralatan darat dan atau pesawat berbahan semi flare.
Selain itu metode dengan memberikan gangguan pada awan besar yang tetap tumbuh agar curah hujan yang turun ke permukaan tanah berkurang
“Metode ini dieksekusi menggunakan pesawat yang mampu terbang pada ketinggian di atas 20 ribu kaki dengan menggunakan bahan semai inti es,” katanya.
Menurut dia, penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca dapat mengurangi curah hujan di DAS Jakarta sampai lebih dari 30%. (Antara/aw)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- Wapres Gibran Lepas Alumni Pejuang Digital untuk Pendidikan 3T
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
- Guru Besar UGM Ungkap Mikroalga Bisa Jadi Energi Masa Depan
- Lagi, Tiga Prajurit Indonesia Terluka dalam Ledakan di Lebanon
Advertisement
Advertisement




