Tol Trans Jawa Menolong Bisnis Perhotelan DIY dari Dampak Buruk Mahalnya Tiket Pesawat

Yanita Petriella
Yanita Petriella Selasa, 11 Juni 2019 07:07 WIB
Tol Trans Jawa Menolong Bisnis Perhotelan DIY dari Dampak Buruk Mahalnya Tiket Pesawat

Pemudik melintas di jalur Tol Trans Jawa, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (2/6/2019)./Antara-Harviyan Perdana Putra

Harianjogja.com, JOGJA—Tersambungnya tol Trans Jawa berdampak positif bagi tingkat hunian kamar hotel di DIY. Tol Trans Jawa dinilai mampu menahan penurunan okupansi hotel akibat mahalnya harga pesawat.

Ketua PHRI Daerah Istimewa Yogyakarta Istijab M, Danunagoro menuturkan, okupansi hotel selama libur lebaran pada tahun ini di mencapai 90% hingga 100%. “Untuk hotel-hotel tertentu bisa mencapai 100% tingkat keterisiannya,” ucapnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Minggu (9/6/2019).

Tingkat okupansi hotel di DIY pada masa libur Lebaran tahun ini hampir sama seperti Lebaran tahun lalu. Meski sempat terjadi sedikit penurunan okupansi pada awal libur Lebaran akibat mahalnya harga tiket pesawat, hal itu tertutupi karena animo masyarakat untuk mencoba jalur darat via ruas tol Trans-Jawa tinggi.

Akibatnya, lanjut Istijab, permintaan akan hotel di Kota Gudeg tetap tinggi pada momentum libur Lebaran tahun ini.

“Tahun ini [bisnis perhotelan di DIY] ketolong adanya Trans-Jawa karena tiket pesawat mahal. Jadi, banyak [pemudik] yang menggunakan mobil pribadi,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua PHRI Jawa Timur Herry Siswanto menuturkan rerata okupansi hotel di Surabaya selama libur Lebaran tahun ini mencapai 68%.

Sebaliknya, untuk di daerah di luar Surabaya, khususnya di tempat-tempat tujuan wisata, tingkat okupansi hotelnya bisa mencapai 82%.

“Seperti di Batu, Malang, okupansi hotel di sana bisa mencapai 100%. Tahun ini okupansi hotel mengalami peningkatan yang bagus bila dibandingkan dengan tahun lalu,” terangnya.

Saat libur Lebaran tahun lalu, sebutnya, okupansi hotel di Surabaya mencapai 52%, sedangkan di tempat wisata lain di Jawa Timur mencapai 80%.

Menurut Herry, kenaikan tingkat okupansi hotel di Jawa Timur pada musim libur Lebaran pada tahun ini ini dipicu oleh banyaknya para asisten rumah tangga yang mudik pada tahun ini.

“Tol Trans-Jawa juga berpengaruh besar terhadap okupansi hotel [di Jawa Timur[ tahun ini karena banyak yang ingin mencoba ruas tol sambil berwisata,” kata Herry.

Sementara itu, berkah adanya ruas tol Trans-Sumatra yakni dari Bakauheni hingga Indralaya juga berdampak pada kenaikan okupansi hotel di bumi Andalas saat libur Lebaran tahun ini.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatra Selatan Herlan Aspiudin menuturkan bahwa okupansi hotel di Sumsel pada tahun ini mencapai 70% hingga 80%.

Menurutnya, tingkat okupansi untuk hotel-hotel favorit dan yang berada di destinasi wisata di Sumsel mencapai 100% pada musim libur Lebaran tahun ini.

“Memang tiket pesawat mahal, tetapi jalan tol sudah beroperasi sehingga dampaknya sangat singnifikan [terhadap keterisian kamar hotel di Sumsel]. Naiknya dari libur Lebaran tahun lalu mencapai 5%. Hotel bintang 3 pun rerata hampir full,” tuturnya.

Dia menuturkan meski harga tiket pesawat mahal, adanya pengoperasian tol Trans-Sumatra yakni dari ruas tol dari Bakauheni hingga Indralaya pada libur Lebaran tahun ini sangat memengaruhi okupansi hotel.

“Dampak adanya kenaikan tiket pesawat ini juga sangat memengaruhi begitu juga karena tol Trans-Jawa, karena pengamatan saya tamu yang stay di hotel saat Idulfitri ini banyak menggunakan mobil pribadi semua sehingga areal parkir jadi penuh,” ucap Herlan.

Sebelumnya, para pelaku usaha perhotelan tak meyakini tingkat hunian kamar atau okupansi hotel berbintang sepanjang tahun ini dapat mencapai di atas 60% lantaran masih mahalnya tiket pesawat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online