Pergerakan Pemudik di Pelabuhan Ketapang Terus Meningkat
Pergerakan pemudik yang berlayar melalui Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur terus meningkat hingga Minggu (2/6/2019) atau H-3 lebaran 2019.
Masjid Batu Akik Ngawi./Bisnis
Harianjogja.com, NGAWI-- Tim Jelajah Lebaran Jawa-Bali 2019 melintasi Kabupaten Ngawi, salah satu wilayah yang dibelah ruas jalan tol Solo-Kertosono.
Saat mendekati waktu salat, kami memutuskan untuk singgah sejenak di Ngawi untuk mencari tempat beribadah. Pilihan jatuh ke Masjid Al-Hajar Miftahul Huda atau kesohor dengan sebutan masjid batu akik. Sebutan tersebut mengacu pada batu akik besar yang diletakkan dekat mimbar dan dipercaya sebagai peninggalan Walisongo.
Dari gerbang tol Ngawi, Anda bisa bergerak ke arah selatan sejauh 20 km ke Desa Gerih, Kecamatan Gerih. Masjid ini terletak di kompleks Pondok Pesantren Miftahul Ulum.
Sekilas masjid ini tampak seperti bangunan yang belum jadi karena tiang-tiangnya terdiri atas batuan panjang utuh berwarna merah serupa bata. Ada pula tiang yang tersusun atas batu-batu berukuran sedang. Namun demikianlah letak keunikan dan ciri khas masjid ini. Di dekat mimbar, terdapat batu raksasa seberat 10,3 ton berwarna merah hati ayam.
“Batunya dari Pacitan, jenis merah hati ayam,” kata Syaiful Aziz, salah seorang santri Ponpes Miftahul Ulum, saat berbincang dengan Bisnis, Sabtu (1/6/2019).

Dia mengatakan, masjid unik ini dibangun oleh Ali Manshur, sang pendiri pondok pesantren. Batu-batu yang menjadi penyangga masjid, termasuk batu akik raksasa, dipercaya berasal dari sebuah masjid peninggalan Walisongo yang gagal dibangun di Pantai Selatan. Batu-batu tertinggal di lokasi diangkut ke Ngawi untuk membangun Masjid Batu Akik.
Tiang penyangga masjid berjumlah 43 dengan tinggi masing-masing mencapai 7 meter dan diameter sekitar 1 meter. Masing-masing tiang penyangga memiliki berat dari 4 ton, 5 ton, 10 ton dan 18 ton.
Bentuk batu tiang penyangga masjid yang bukan merupakan pahatan tangan manusia, melainkan bentukan alami, menambah kesan alami. Ada salah satu batu tiang penyangga masjid yang kondisinya berlubang yang dipercaya bekas jari Sunan Kalijaga.

Tidak ada larangan untuk menyentuh bebatuan yang ada di masjid ini. Sehingga, selain singgah untuk sejenak mendirikan salat, Anda dapat sekaligus merasakan spirit Walisongo melalui bebatuan yang menyatu dengan bangunan masjid.
Hari bergerak semakin sore, saatnya tim kembali melanjutkan perjalanan. Jika melintas Ngawi, jangan lupa mampir ya!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pergerakan pemudik yang berlayar melalui Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur terus meningkat hingga Minggu (2/6/2019) atau H-3 lebaran 2019.
KPK mendalami dugaan aliran uang kepada Bupati Tulungagung nonaktif Gatut Sunu Wibowo lewat pemeriksaan sembilan saksi.
Anwar Ibrahim mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Polresta Sleman kembali membuka peluang restorative justice dalam kasus Shinta Komala terkait dugaan penggelapan iPhone 14.
Kasus kekerasan seksual santri di Lombok Tengah mengungkap penggunaan aplikasi khusus gay oleh tersangka berinisial YMA.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.