Aktivis Global Sumud Flotilla Disiksa Saat Ditahan Israel
Aktivis Global Sumud Flotilla mengaku mengalami sengatan listrik dan kekerasan fisik saat ditahan Israel usai misi kemanusiaan menuju Gaza.
Pekerja memasukkan data ke Sistem Informasi Penghitungan (Situng) DKI Jakarta di Hotel Merlyn Park, Jakarta, Minggu (21/4/2019). Hasil penghitungan suara Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 yang dimuat dalam Situng milik KPU masih terus bergerak dan ditampilkan dalam portal pemilu2019.kpu.go.id ANTARA FOTO/Reno Esnir
Harianjogja.com, JAKARTA-- Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut ada dua partai yang mendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019 berpeluang untuk bergabung dengan pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin. Dua partai tersebut yakni PAN dan Demokrat.
"PAN dan Partai Demokrat adalah dua partai pendukung Prabowo-Sandi yang berpotensi mendukung Jokowi," ujar peneliti LIPI Aisah Putri Budiarti dalam diskusi No People No Power: Silaturahim Politik Pasca-Pemilu di Jakarta, Senin (29/4/2019).
Namun, lanjut dia, dari dua partai itu yang paling kuat untuk bergabung ke pemerintahan Jokowi adalah PAN. "Demokrat walaupun berpeluang, namun lebih sulit dari PAN karena punya sejarah yang tidak mendukung," ucapnya.
PAN sendiri telah memberi isyarat bahwa konflik politik akibat pilpres telah usai pasca-pencoblosan 17 April. Manuver Partai Amanat Nasional yang paling menonjol adalah bertemunya Ketum PAN Zulkifli Hasan dengan Presiden Jokowi di Istana, beberapa hari lalu.
Aisah menilai, Zulkifli sendiri sangat paham konsekuensi dari pertemuan tersebut, tetapi justru Zulkifli seolah nampak ingin melihat respon dari kedua kubu.
"Zulkifli sangat sadar konsekuensi pertemuan itu. Pertama \'testing the water\' kubu Prabowo-Sandiaga. Kedua \'testing the water\' dari kubu pendukung Jokowi sendiri," tuturnya.
Dia menambahkan, bila PAN dan Partai Demokrat bisa bergabung dengan pemerintahan Jokowi, maka akan sangat menguntungkan bagi kedua parpol tersebut, karena kontrak politik hanya akan berlaku selama lima tahun ke depan.
"Zulkifli sadar bahwa jika bergabung dengan koalisi pemerintahan akan sangat menguntungkan, karena koalisi akan mengikat selama lima tahun. Tahun 2024 peta politik akan berubah total jika Jokowi menang di 2019 karena tidak mungkin kembali maju pada 2024," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Aktivis Global Sumud Flotilla mengaku mengalami sengatan listrik dan kekerasan fisik saat ditahan Israel usai misi kemanusiaan menuju Gaza.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo Jumat 22 Mei 2026. Berangkat hampir tiap jam dengan tarif Rp8.000, praktis dan hemat.
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.
Buku Kampus Pergerakan diluncurkan saat 28 tahun Reformasi, mengulas sejarah panjang perjuangan mahasiswa sejak 1986.