Menahan Yen di 160 per Dolar: Akankah Intervensi ASJepang Efektif?
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukan hal baru. Namun, tindakan pada tanggal 30-31 Juli 2026 ini berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi ha
Guguran lava pijar keluar dari Gunung Merapi terlihat dari Deles, Klaten, Rabu (30/1/2019) dini hari. (Solopos-Burhan Aris Nugraha)
Harianjogja.com, BOYOLALI--Seorang petani kopi asal Dusun Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali bernama Iswondo ercerita jika pada25 Oktober 2010 silam, ia masih mengantarkan sejumlah turis asing ke puncak pendakian Gunung Merapi.
Hari itu, suhu udara di gunung terasa lebih panas dari biasanya. Abu tebal terlihat makin pekat. Namun pria 43 tahun itu terus saja melanjutkan perjalanan. Dia tak pernah berpikir Merapi akan mengalami letusan hebat keesokan harinya.
Sementara itu, istri dan anak-anak Iswondo sudah hampir satu pekan mengungsi. Mereka pergi ke tempat yang lebih rendah dan aman sembari berdoa Merapi tak akan muntah. Rumah keluarga Iswondo berjarak kurang dari 5 km dari puncak Merapi. “Waktu itu saya ditinggal sendirian bersama seekor ternak sapi,” ujar Iswondo saat berbincang dengan Solopos.com, di rumahnya Kamis (31/1/2019) lalu.
Senada dengan Iswondo, warga Lencoh lain, Sibun, 56, tetap memilih menjalankan aktivitas harian meskipun Gunung Merapi saat itu berstatus siaga III. Sibun tinggal sendiri di lereng Merapi sementara keluarganya mengungsi ke kawasan Boyolali kota. Hari itu Sibun lebih memilih menjaga ternak.
Keberanian Sibun dan Iswondo tetap tinggal di tempat rawan bencana bukan tanpa alasan. Sejak dulu warga lokal Lencoh memang percaya jika letusan merapi tak akan pernah menyentuh desa mereka. “Lava gunung itu tahu jalannya,” ucap Sibun.
Kepercayaan warga ini cukup beralasan. Iswondo bercerita Desa Lencoh merupakan salah satu desa yang terlindung di balik Gunung Bibi. Gunung setinggi 2.205 meter itu berada di timur laut lereng Merapi dan berusia 400.000 tahun lebih tua dari Merapi. Gunung Bibi inilah yang melindungi Plalangan dari semburan wedhus gembel Merapi.
Di satu sisi, warga Lencoh rutin menggelar Nyadran Gunung dengan mempersembahkan nasi jagung dan ketela. Selain dipersembahkan sebagai sesaji, warga rutin berkumpul untuk berdoa bersama. “Biasanya acara sedekah gunung dilakukan tiap malam 1 Suro,” ujar Sibun.
Sementara itu, Kepala Desa Lencoh, Sumardi, tak menampik sejumlah mitos yang berkembang di masyarakat terutama soal kepercayaan terhadap keamanan desa dari letusan Merapi. “Memang selama ini [awan panas Merapi] hanya lewat,” ujar dia.
Namun hal itu tak lantas membuat warga menyepelekan keselamatan dan mitigasi kebencanaan. Pemerintah Desa tetap memprioritaskan upaya mitigasi dan penanggulangan bencana Merapi. “Biasanya akan kami alokasikan lewat Dana Desa (DD) yang besarnya sesuai kebutuhan,” ujar Kades.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukan hal baru. Namun, tindakan pada tanggal 30-31 Juli 2026 ini berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi ha
Kejari Ponorogo menetapkan mantan Ketua DPRD Ponorogo periode 2019-2024 sebagai tersangka dugaan korupsi tunjangan perumahan dengan kerugian negara sekitar Rp3,
Universitas Republik Indonesia (URI) disiapkan untuk mencetak SDM unggul. Simak pengertian, peran, lokasi kampus, hingga inspirasinya.
Menbud Fadli Zon mendukung pengusulan Mr. Assaat sebagai Pahlawan Nasional. Proses berlanjut sejak Februari 2025 sesuai mekanisme yang berlaku.
Jadwal SIM Keliling Kulonprogo Agustus 2026 lengkap dengan layanan SIMMADE, Simenor Ngabuburit, MPP, Satpas, dan biaya perpanjangan SIM.
Jadwal SIM Keliling Gunungkidul Agustus 2026 lengkap dengan lokasi SIMMADE, SIMPITU, SIM Station, Saturday Night Service, syarat, dan biaya.