OPINI: Ketika Tindakan Bunuh Diri Terinspirasi Film Drama Korea
Benarkah film dan drama Korea dapat memicu bunuh diri? Simak kajian tentang Werther Effect, Papageno Effect, serta pentingnya literasi media.
Warga melihat bangunan pusat perbelanjaan yang ambruk akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9/2018). /Antara Foto-Rolex Malaha
Harianjogja.com, JAKARTA- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan secara ilmiah kondisi sesar Palu Koro yang memicu gempa dahsyat di Palu dan Donggala.
Terkait gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, Eko Yulianto, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam forum Diskusi Analisis LIPI Untuk Gempa dan Tsunami Indonesia pada Selasa (2/10/2018) menjelaskan hal ini terjadi lantaran lokasi bencana berada di atas sesar Palu Koro.
Dirinya berpendapat, fakta ini harus menjadi perhatian untuk kewaspadaan sekaligus kesigapan bencana agar dampak buruk bisa diminimalkan.
"Sesar Palu Koro adalah patahan yang membelah Sulawesi menjadi dua bagian barat dan timur. Sesar ini mempunyai pergerakan aktif dan menjadi perhatian para peneliti geologi," jelasnya.
Sementara, Nugroho Dwi Hananto, peneliti bidang Geofisika Kelautan dari Pusat Penelitian Oseanografi menyebut sesar mendatar Palu Koro kemungkinan memiliki komponen deformasi (perubahan) vertikal di dasar laut yang memicu terjadinya tsunami.
"Kawasan Teluk Palu hingga Donggala juga mempunyai bentuk mirip kanal tertutup dengan bentuk dasar laut yang curam. Akibatnya, jika ada massa air laut datang, gelombangnya lebih tinggi dan kecepatannya lebih cepat," jelas Nugroho Dwi Hananto.
Nugroho Dwi Hananto menambahkan, kemungkinan longsor bawah laut akibat tebing bawah laut runtuh akibat gempa.
“Gempa dan tsunami Palu menjadi pelajaran penting perlunya data geo - sains yang lebih lengkap untuk bisa mengkaji potensi terjadinya gempa yang sumbernya berasal dari bawah laut,” tandas Nugroho Dwi Hananto.
Sementara soal informasi yang beredar mengenai akan terjadinya gempa di suatu lokasi, Eko Yulianto menandaskan, hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi secara akurat dan presisi, soal kapan bakal terjadi bencana alam, khususnya gempa bumi.
Dirinya memastikan jika ada informasi mengenai akan terjadinya gempa, bisa dipastikan hal itu adalah hoaks.
"Jika ada pendapat yang menyatakan mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi beserta kekuatan magnitudonya, bisa dipastikan itu adalah hoaks," kata Eko Yulianto di kantor LIPI, Jalan Gatot Subroto, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara
Benarkah film dan drama Korea dapat memicu bunuh diri? Simak kajian tentang Werther Effect, Papageno Effect, serta pentingnya literasi media.
PSSI segera melakukan evaluasi total setelah Timnas Indonesia gagal ke semifinal Piala AFF 2026 usai ditahan Singapura 1-1.
adwal KA Bandara YIA Senin 10 Agustus 2026 tersedia dari dini hari hingga malam. Cek jam keberangkatan YIA-Jogja dan sebaliknya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Senin 10 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan. Cek jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 10 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jam keberangkatan, stasiun tujuan, dan tarif Rp8.000.
Temuan beras fortifikasi tak sesuai standar mendorong Bapanas memperluas pengawasan terhadap 40 merek di 11 provinsi.