Bencana di Indonesia Terus Meningkat, Pengelolaan Resiko Jadi Prioritas

Laurensia Dewi
Laurensia Dewi Kamis, 06 September 2018 04:17 WIB
 Bencana di Indonesia Terus Meningkat, Pengelolaan Resiko Jadi Prioritas

Foto aerial pencarian korban di bawah reruntuhan Masjid Jamiul Jamaah yang rusak akibat gempa bumi di Bangsal, Lombok Utara, NTB, Rabu (8/8). BPBD Lombok Utara mencatat berdasarkan laporan dari seluruh kecamatan setempat bahwa data sementara jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di daerah itu mencapai 347 orang. /Antara foto- Zabur Karuru

Harianjogja.com, JOGJA – Direktur Pengurangan Resiko Bencana BNPB, Dr. Raditya Jati mengungkapkan Pemerintah Indonesia melihat isu kebencanaan sebagai sesuatu yang penting.

Terlihat dalam Indeks Risiko Bencana, peta Indonesia sebagian besar berwarna merah menandakan hampir tidak ada lagi tempat aman di Indonesia yang terbebas dari bencana.

“Kejadian bencana di Indonesia selalu terus meningkat. 80% dari kejadian bencana itu disebabkan oleh hidrometeorologi, bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi dapat berupa curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin dan 20% oleh geologi”, kata Raditya.

Raditya berharap agar upaya pengelolaan resiko bencana tidak hanya sebatas teori namun juga prakteknya di masyarakat. “Kenapa saya mengangkat judul ‘Upaya Pengelolaan Resiko Bencana Kebumian Science Into Practice’? Karena sebenarnya kita butuh masyarakat akademisi yang betul-betul bisa membuat suatu data analisis informasi menjadi knowledge dan itu menjadi suatu strategi kebijakan," katanya.

Menurut dia, ilmu pengetahuan dinilai menjadi peluang untuk bisa membangun strategi kebijakan di Indonesia. Pengelolaan resiko bencana salah satunya dapat melalui industrialisasi teknologi kebencanaan dalam rangka mitigasi bencana, peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana serta melakukan sinergi dengan akademisi melalui penelitian.

Industrialisasi tidak hanya berupa produk atau pabrik, namun juga pendidikan. BNPB memiliki target untuk menurunkan Indeks Resiko Bencana hingga 30% pada tahun 2019.

Dalam rangka menurunkan target Indeks Resiko Bencana, ada beberapa upaya yang harus dilakukan oleh BNPB yakni pengurangan resiko bencana harus masuk ke dalam lini-lini Kementrian Lembaga lain, BNPB tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan lembaga lain.

Poin paling penting adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, pemerintah agar penanggulangan bencana itu dapat dilakukan. “Resiko bencana bisa turun apabila kita meningkatkan kapasitas. Mitigasi struktural dan non struktural adalah salah satu upaya menurunkan resiko bencana”, kata Raditya.

BNPB sendiri telah mengelola portal Geospasial dan aplikasi Inarisk dalam memberikan informasi terhadap masyarakat terkait kajian potensi bencana di Indonesia. Dari portal dan aplikasi tersebut, masyarakat bisa melihat sejauh mana resiko kebencanaan yang ada di Indonesia, misalnya daerah/tempat apa saja yang berpotensi mengalami rawan bencana.

“Prioritas yang dilakukan adalah bagaimana orang memahami resiko bencana, makanya kami berupaya agar Inarisk dan portal tersebut harapannya nanti bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia”, jelas Raditya.

Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki masalah kompleks terkait kebencanaan. Belum lama, Indonesia dihadapkan oleh bencana gempa bumi besar yang melanda Pulau Lombok.

Universitas Gadjah Mada menjadi salah satu institusi yang berperan aktif dalam memberikan kontribusi terkait kebencanaan di Indonesia, salah satunya melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Kebumian ke-11 yang mengangkat tema “Perspektif Ilmu Kebumian dalam Kajian Bencana Geologi di Indonesia”.

“Kami merasa bahwa kami memiliki kapasitas untuk melakukan sesuatu yang lebih untuk terjun secara langsung memberikan aksi dalam membantu pemerintah mengurangi dampak buruk bencana alam. Kami memilih tema ini dan berekspektasi bahwa kita bisa memiliki pandangan terhadap isu terbaru mengenai kebencanaan,” jelas Ketua Panitia Seminar Nasional Kebumian Ke-11, Kartika Palupi Savitri.

Kegiatan ini dihadiri oleh 400 peserta, Departemen Teknik Geologi UGM bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi UGM berhasil mengundang beberapa pembicara untuk menyampaikan materi diantaranya Raditya Jati (Direktur Pengurangan Resiko Bencana-BNPB), Sri Hidayat (Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami – PVMBG), Gayatri Indah Marliyani (anggota Pusat Studi Gempa Nasional), serta Agung Harijoko (Kepala Divisi Vulkanologi GAMA-Ina TEK Pusat Unggulan dan Inovasi Teknologi Mitigasi Kebencanaan UGM).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online