IHSG Melemah 0,12 Persen, Sektor Energi Jadi Penopang Penguatan Bursa
IHSG ditutup melemah 0,12% ke level 6.343,71. Di tengah koreksi bursa, saham sektor energi dipimpin CUAN, DSSA, dan PTRO justru menguat.
Yudi di Kampung Wisata Pandes/ist-Wahyudi Anggoro Hadi
Harianjogja.com, BANTUL—Dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul merupakan dusun yang memproduksi mainan anak tradisional atau dolanan sejak 1980-an. Dusun ini pun terkenal menjadi produsen dolanan tradisional. Hadirnya permainan modern membuat geliat dolanan tradisional tersaingi dan mulai ditinggalkan.
Adalah Wahyudi Anggoro Hadi, 39, atau yang akrab disapa Yudi, merasa prihatin dengan kondisi itu. Ia lantas menggandeng masyarakat sekitar untuk bersama-sama melestarikan dolanan tradisional.
Keprihaatinan Yudi, 39, muncul dari dalam hatinya, kegelisahan menggerakkannya menggandeng masyarakat kala itu untuk berjuang bersama. Sempat dicurigai, saat itu ajakannya tidak mendapat respon positif.
Gerakan itu diawali saat terjadinya gempa bumi pada 2006. Ia menggerakkan masyarakat desanya untuk bangkit bersama dalam situasi bencana. Melalui Komunitas Pojok Budaya, Yudi melibatkan generasi muda agar mereka bisa mewarisi pembuatan mainan tradisional anak dari para tetua dusun.
Selain mempelajari filosofi serta cara pembuatan, Yudi menjelaskan bahwa ada tiga ranah pelestarian yang dilakukan.
“Aktivitas dolanan anak tersebut dijadikan sesuatu wisata minat khusus dengan melakukan branding, sehingga dolanan menjadi aktivitas anak muda yang menjadi wahana wisata edukasi. Dengan begitu dolanan dikemas tidak hanya dari produk asli Pandes saja namun juga ada nilai pengalaman dan pengetahuan didalamnya,” tutur pria kelahiran Bantul, 24 Juli 1979.
Selain branding, Kampung Dolanan Pandes juga melakukan inovasi baru dengan mendesain ulang mainan tradisional anak. Desain ulang dilakukan agar mainan anak lebih aman. Yudi mencontohkan penggantian material paku pada dolanan dengan pasak atau alat alternative lainnya hingga material bahaya lainnya dihilangkan. Yudi menyebutkan, dalam ranah redesain, Kampung Dolanan Pandes juga berusaha menghilangkan potensi tertelannya bagian mainan yang dipakai anak-anak.
“Yang paling penting dalam melakukan pelestarian ini adalah revitalisasi. Upaya revitalisasi pada kenyataannya lebih penting. Dolanan anak diciptakan nenek moyang kita sebagai sarana Pendidikan kepada anak, sebagai sarana belajar,” ujar Yudi belum lama ini.
Yudi yang juga Kepala Desa Panggungharjo bercerita hal yang mendorongnya merevitaliasi Dusun Pandes menjadi Kampung Dolanan Pandes. Pengalaman dan sejarah Dusun Pandes yang dianggapnya berharga menggerakkan niatnya.
Baginya, dolanan anak lahir atas dasar kesadaran, kesadaran akan berbagai aspek kehidupan yang dilator belakangi oleh lingkungan geografis. Hal itu tertuang dalam mainan kitiran atau kincir khas Pandes yang terbuat dari kertas, berbentuk tiga dimensi, memiliki kecembungan dan lain sebagainya. “Para leluhur membuat kitiran menyesuaikan dengan keadaan geografis kampung ini, sehingga bentuknya juga disesuaikan dengan karakter angin dan desain yang dihasilkan mampu digunakan oleh anak-anak dengan lingkungan geografis disini,” terangnya.
Sebuah Kreativitas
Kreativitas yang mendorong lahirnya beragam bentuk mainan tradisional anak membuat Yudi makin bersemangat. Ia ingin mengembalikan Dusun Pandes seperti pada masa kejayaan tetua Desa Panggungharjo. Fasih menyanyikan berbagai macam lagu dolanan anak, Yudi menceritakan bahwa para perajin dolanan di Pandes ini mampu membuat dolanan wayang tanpa menggambar pola, hal itu pula yang menyadarkan Yudi bahwa keterampilan tersebut merupakan sesuatu yang menarik dan anak muda Pandes dapat mewarisinya.
Berangkat dari mainan tradisional, masyarakat Pandes mampu bertahan hidup. Lewat karya dolanan yang mengedukasi itu dapat menghasilkan keuntungan dari jual beli yang dilakukan. Kini, pelestarian tersebut mulai ditularkan pada masyarakat umum yang dating ke Kampung Dolanan ini.
“Kalau dulu mainan hanya dijual dengan harga Rp1.000 saja, sekarang warga bisa memperoleh pemasukan hingga Rp30.000 dalam pelatihan diikuti para pengunjung yang datang ke Kampung Dolanan. Berkat hal tersebut, para tetua juga tidak perlu berjualan keliling lagi seperti dulu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IHSG ditutup melemah 0,12% ke level 6.343,71. Di tengah koreksi bursa, saham sektor energi dipimpin CUAN, DSSA, dan PTRO justru menguat.
LPEM FEB UI mengungkap lima jurusan kuliah yang paling banyak menyumbang pengangguran lulusan S1 di Indonesia. Manajemen berada di posisi teratas, disusul Hukum
Hujan meteor Perseid masih dapat disaksikan dari Indonesia pada 13-14 Agustus 2026. Simak waktu terbaik, cara mengamati, dan lokasi ideal untuk melihat meteor.
Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Kimaya Sudirman Yogyakarta menghadirkan dua program spesial sepanjang Agustus 2026
Media Jepang menyoroti fenomena ratusan WNI yang menggunakan nama karakter anime seperti Naruto, Uzumaki, Nobita, hingga Sasuke berdasarkan data Dukcapil Semest
Korban tewas gempa magnitudo 7,4 di Kolombia bertambah menjadi 265 orang. Sebanyak 3.494 warga terluka dan 496 lainnya masih dinyatakan hilang.