KPK Usut Dana Kebencanaan BNPB, Sita Uang Rp3,3 Miliar
KPK menetapkan lima tersangka dalam perkara dugaan korupsi pengadaan dana kebencanaan BNPB. Penyidik menyita uang Rp3,3 miliar dan aset lainnya.
Bom meledak di Mapolrestabes Surabaya (Istimewa)
Harianjogja.com, JAKARTA --Keterlibatan perempuan dalam bom bunuh diri di Surabaya menimbulkan keprihatinan. Terlebih, mereka juga melibatkan anak-anak.
Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Musdah Mulia menyebutkan masih ada 120 perempuan di Indonesia yang menyatakan siap menjadi pengantin bom bunuh diri.
Data tersebut diperoleh selama Musdah mengerjakan tesis tentang keterlibatan perempuan dalam gerakan terorisme di Indonesia.
Musdah menjelaskan, 120 perempuan tersebut tersebar di berbagai jaringan penganut paham fundamentalis yang mengizinkan aksi teror. Ratusan perempuan itu juga mengenal satu sama lain.
"Dalam semua jaringan. Mereka terpecah-pecah dalam semua jaringan dan mereka itu sangat solid antar satu sama lain. Saling kenal," jelas Musdah seusai menghadiri deklrasi Gerakan Warga Lawan Terorisme di Wahid Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018), sebagaimana dikutip Suara.com.
Musdah memaparkan model terorisme dengan melibatkan perempuan serta anak-anak, bukanlah hal baru di Indonesia dan internasional.
Ia mencontohkan kasus rencana peledakan bom panci oleh Dian Yuli pada Desember 2016 lalu.
"Jadi di dunia internasional memang ISIS itu sejak 4-5 tahun yang lalu itu sudah mengubah straregi mereka, dan menggunakan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku. Itu akhir 2016 ketika terjadi bom panci Dian Yuli itu," paparnya.
Untuk diketahui, keterlibatan perempuan dalam aksi teroristik termutakhir adalah pengeboman tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018).
Puji Kuswati, mengajak dua anak perempuannya untuk mengebom Gereja Kristen Indonesia. Sementara pada kasus bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018), ada perempuan yang juga menjadi pelaku.
Data tersebut diperoleh selama Musdah mengerjakan tesis tentang keterlibatan perempuan dalam gerakan terorisme di Indonesia.
Musdah menjelaskan, 120 perempuan tersebut tersebar di berbagai jaringan penganut paham fundamentalis yang mengizinkan aksi teror. Ratusan perempuan itu juga mengenal satu sama lain.
"Dalam semua jaringan. Mereka terpecah-pecah dalam semua jaringan dan mereka itu sangat solid antar satu sama lain. Saling kenal," jelas Musdah seusai menghadiri deklrasi Gerakan Warga Lawan Terorisme di Wahid Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
KPK menetapkan lima tersangka dalam perkara dugaan korupsi pengadaan dana kebencanaan BNPB. Penyidik menyita uang Rp3,3 miliar dan aset lainnya.
DeepSeek mengalami gangguan selama lima jam. Pelanggan berbayar mendapat kredit pengembalian dana, sementara kebutuhan komputasi jadi sorotan.
Kopi jumbo 1,5 liter viral di Korea Selatan. Selain tampil unik di media sosial, minuman ini dinilai lebih hemat di tengah inflasi.
Jogja Bay menghadirkan Bay Culture Show bertema Ramayana di Kolam Ombak. Simak jadwal pertunjukan Oktober 2026 dan harga tiket mulai Rp90.000.
OJK DIY mencatat lebih dari 12.000 laporan penipuan digital hingga September 2026 dengan potensi kerugian melampaui Rp100 miliar.
Guru Besar UKI Angel Damayanti mengingatkan potensi penyalahgunaan gim online untuk propaganda ekstremisme dan mendorong penguatan literasi digital.