Sistem Heterogen SD Muhammadiyah Sokonandi Hasilkan Siswa Unggul

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Sabtu, 27 Januari 2018 00:20 WIB
Sistem Heterogen SD Muhammadiyah Sokonandi Hasilkan Siswa Unggul

Para pendidik SD Muhammadiyah Sokonandi bersedia meluangkan waktu lebih untuk siswanya

Harianjogja.com, JOGJA-SD Muhammadiyah Sokonandi, Jogja mengedepankan prinsip heterogenitas dalam sistem pendidikannya. Semua siswa diterima dengan tangan terbuka untuk dididik dan mencapai hasil terbaik di sekolah yang berlokasi di Gunungketur, Pakualaman ini.

Sri Ningsih Wahyu Pangesti, Kabid Kesiswaan mengatakan, tak ada seleksi yang diterapkan ketika sistem penerimaan. “Kita mengedepankan heterogen lah, tidak pilih-pilih,” katanya ditemui Harianjogja.com di ruangnya pada Rabu (24/1).

Berbeda dari isu yang banyak beredar dan membuat was-was para orang tua, tak ada persyaratan untuk mampu membaca menulis dan berhitung untuk duduk di bangku kelas 1 sekolah ini. Bahkan, sekolah ini juga terbuka bagi anak yang sudah ingin mengenyam pendidikan namun belum genap berusia tujuh tahun.

Pada masa ini, sekolah kerapkali mengutamakan anak yang mampu calistung sembari sudah masuk usia tujuh tahun. Cara ini sebagai upaya menyeragamkan kemampuan anak sehingga guru juga lebih mudah mendidiknya.

Namun, tidak demikian SD Sokonandi yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga lebih dari para pendidiknya untuk anak, apapun taraf kemampuannya. Hanya saja, siswa yang mendaftar tetap harus menjalani tes untuk mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki. Bukan sebagai penentu lolos seleksi atau tidak tetapi sebagai dasar penetuan kelas serta perlakuan yang akan didapatkan si anak.

Tes awal yang diujikan seperti membaca, berhitung serta membaca Alquran. Ningsih menjelaskan, biasanya si anak akan mendapatkan jam tambahan yang dikelompokkan berdasarkan kemampuannya. Jam tambahan ini dijalani selama setahun pertama untuk mengejar kemampuan si anak agar setara dan tak ketinggalan mengikuti pelajaran di jam reguler.

Dijadwalkan setiap Senin hingga Kamis setiap usai jam pulang sekolah. Tambahan materi diberikan lewat kelas-kelas dengan jumlah siswa yang relatif lebih kecil meskipun tidak menentu jumlahnya.  “Targetnya kelas 2 sudah bisa baca tulis hitung,” ujarnya.

Pendekatan ini diterapkan sejak tahun 2000-an hingga kini. Perempuan berjilbab ini bahkan optimis jika cara ini efektif untuk mendidik siswa yang berkualitas. Apalagi hal ini juga didukung oleh para orang tua muridnya.

Sekolah ini juga amat menghargai komunikasi dengan para orang tua lewat pertemuan yang digelar setidaknya sebulan sekali. Selama pertemuan inilah hambatan serta kemajuan anak disampaikan agar kemajuan bukan hanya diupayakan oleh para guru, tetapi juga orang tua siswa.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Sokonandi Hadi Nuryanto mengatakan, jam tambahan juga diberikan bagi para siswa kelas 6 yang akan menghadapi Ujian Nasional. Pendekatan yang diberikan juga nyaris serupa ketika awal masuk SD, siswa ditempatkan sesuai urutan ranking untuk kemudian diberikan materi tambahan sesuai jam regular. Jika jam regular terdiri dari enam kelas maka ketika jam tambahan menjadi 12 kelas. "Agar lebih fokus demi mengejar target ujian," katanya.

Dalam prosesnya, sekolah yang berdiri sejak 1996 ini berusawa konsisten mewujudkan visi sekolah yakni Terwujudnya Generasi Islam yang sebenar-benarnya, unggul dalam Iptek, Kreatif dan Peduli lingkungan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online