KURIKULUM 2013 : Akhirnya, Distribusi Buku Ajar SD di Gunungkidul 100%

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Selasa, 26 Agustus 2014 08:20 WIB
KURIKULUM 2013 : Akhirnya, Distribusi Buku Ajar SD di Gunungkidul 100%

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra Kumala Suasana belajar-mengajar di sekolah sasaran kurikulum 2013 SD Negeri Begalon 2, Laweyan, Solo, Kamis (6/2). Pada kurikulum 2013, guru dituntut harus bisa menerapkan pembelajaran dengan pendekatan berbasis scientific, tematik, dan terintegrasi dengan memperhatikan karakteristik peserta didik.

Harianjogja,com, GUNUNGKIDUL-Pendistribusian buku ajar kurikulum 2013 untuk sekolah dasar (SD) sudah 100%. Kualitas pendidikan sekolah dasar di Gunungkidul diharapkan semakin meningkat.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rosyid mengaku lega pendistribusian untuk sekolah dasar sudah selesai. Ia berharap pendistribusian untuk tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas turut segera rampung.

“Untuk SMA masih 27%. Belum ada peningkatan. Untuk SMP malah belum ada distribusi sama sekali. Kami belum mendapatkan konfirmasi soal itu,” ujar dia, Senin (25/8/2014).

Kepala Bidang Pendidikan TK SD Disdikpora Gunungkidul  Sri Andari menuturkan ada 564 sekolah dasar serta MI di Gunungkidul.  Proses pendistribusian sudah mulai dilakukan sejak dua minggu yang lalu.

“Memang dalam pengirimannya bertahap sehingga tidak bisa langsung semua sekolah dapat,” ujar dia.

Andari menyambut baik pengiriman buku ajar tersebut. Ia pun berharap proses belajar-mengajar di tingkat SD dan MI bisa semakin lancar dengan adanya buku tersebut. Andari mengaku sangat berharap kualitas pendidikan di Gunungkidul semakin meningkat.

“Dengan adanya buku ini tentu akan sangat medukung proses belajar. Selama buku belum tiba, guru memanfaatkan materi soft copy,” imbuh dia.

Berbeda dengan sekolah dasar yang sudah didistribusikan seluruhnya, buku ajar untuk tingkat SMP belum juga ada yang didistribusikan. Kepala Bidang Pendidikan SMP Disdikpora Gunungkidul Kusmanto mengaku belum  mengetahui penyebab belum didistribusikannya buku ajar untuk SMP.

“Itu ranahnya percetakan sehingga saya tidak bisa memberikan komentar lebih jauh,” ujar dia.

Kusmanto menjamin proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan lancar. Selama belum ada buku ajar, guru sudah memiliki bekal materi dalam bentuk soft copy yang didapat ketika mengikuti pelatihan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online