IPK di Bawah 3, Mahasiswa Penerima Beasiswa Sukoharjo Terancam Gugur
Dua penerima beasiswa Sukoharjo terancam gugur karena IPK rendah. Pemkab longgarkan syarat seleksi 2026.
Dhanu Priyo Prabowo, peneliti sastra daerah (Jawa). (Rina Wijayanti/JIBI/Harian Jogja)
Harianjogja.com, JOGJA-Sepi dan tidak terkenal, tampaknya hanya sebuah kalimat sederhana. Namun dua hal tersebut bukanlah persoalan mudah untuk dijadikan sebagai prinsip hidup. Bagi Dhanu Priyo Prabowo, dua hal tersebut tidak saja telah dia jalani, melainkan sudah menjadi komitmennya lebih dari 25 tahun belakangan.
Saat dikunjungi Harian Jogja di sela-sela kesibukannya mengolah data penelitian sastra di Balai Bahasa dan Sastra beberapa waktu lalu, Dhanu mengaku mulai jatuh hati pada sastra sejak usianya masih remaja, saat duduk di bangku SMA. Karena kegemarannya membaca dan kerap mendapatkan kesempatan membaca buku-buku sastra milik tetangganya di Kulonprogo (tempat lahirnya) Dhanu kian terpikat dengan sastra. Bermula dari penulisan puisi, lantas dia memberanikan diri untuk menekuninya lewat pilihan jalur pendidikan formal.
Pada 1985, Dhanu sukses menyandang gelar sarjana dari Fakultas Sastra di UNS. Konsistensi terus dia bangun, mulai dari menulis karya ilmiah, penyunting hingga akhirnya berhasil menjadi peneliti bahasa dan sastra di Balai Bahasa dan Sastra yang bertempat di Kotabaru. Hingga saat ini, sekurangnya terdapat 17 buku hasil penelitiannya baik secara pribadi, maupun kelompok. Dhanu fokus pada penelitian sastra daerah (Jawa).
“Meneliti karya sastra Jawa berbeda dengan penelitian ilmu pasti. Hasil penelitian sastra tidak dapat berpengaruh secara langsung, namun ketika telah dimanfaatkan kekuatannya jauh lebih kuat melebihi besi baja sekalipun. Menjadi peneliti sastra harus siap menyepi dan tidak terkenal,” katanya.
Menurut Dhanu, karya sastra memiliki peranan besar bagi seorang pribadi serta sebuah bangsa. Dalam sastra diajarkan nilai-nilai harmonisasi antara lain toleransi, keberagaman hingga penyelesaian konflik. Di masa kekinian, pintu untuk meneliti karya-karya sastra Jawa dinilainya kian terbuka lebar. Saat ini sastra Jawa kian banyak dicari, karena sastra Jawa dinilai sebagai konstribusi nyata dalam pembentukan karakter budaya. Dalam catatannya, 130 buah naskah Jawa yang bertuliskan dengan huruf Jawa dan fegon telah dilakukan digitalisasi oleh salah satu lembaga dari Jerman. Dia berharap, semangat seperti ini juga harus dimiliki oleh Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua penerima beasiswa Sukoharjo terancam gugur karena IPK rendah. Pemkab longgarkan syarat seleksi 2026.
Jadwal bola malam ini hingga Kamis pagi WIB menghadirkan laga Portugal vs Nigeria dan Inggris vs Kosta Rika dalam agenda uji coba internasional jelang Piala
Presiden Prabowo menargetkan obat generik murah tersedia dalam satu tahun. Saat meresmikan RSUD di Lampung, ia juga menegaskan layanan kesehatan harus bebas
Uber membuka pendaftaran robotaxi di London bersama Wayve. Layanan taksi otonom berbasis AI menggunakan Ford Mustang Mach-E dan segera beroperasi.
BPN Kulonprogo kembali membayar uang ganti rugi Tol Jogja-YIA pada Juni 2026. Sebanyak 149 bidang tanah di Pengasih menerima UGR dengan nilai mencapai Rp248,86
Harga Pertamax naik signifikan. Simak cara cek status barcode Pertalite secara online, penyebab pengajuan ditolak, dan fungsi barcode dalam Program Subsidi Tepa