Bripka E Pengasuh Ponpes di Wonogiri Ditahan Kasus Kekerasan Seksual
Bripka E, anggota Polres Wonogiri, ditahan sebagai tersangka dugaan kekerasan seksual berbasis gender online terhadap perempuan 19 tahun.
Dhanu Priyo Prabowo, peneliti sastra daerah (Jawa). (Rina Wijayanti/JIBI/Harian Jogja)
Harianjogja.com, JOGJA-Sepi dan tidak terkenal, tampaknya hanya sebuah kalimat sederhana. Namun dua hal tersebut bukanlah persoalan mudah untuk dijadikan sebagai prinsip hidup. Bagi Dhanu Priyo Prabowo, dua hal tersebut tidak saja telah dia jalani, melainkan sudah menjadi komitmennya lebih dari 25 tahun belakangan.
Saat dikunjungi Harian Jogja di sela-sela kesibukannya mengolah data penelitian sastra di Balai Bahasa dan Sastra beberapa waktu lalu, Dhanu mengaku mulai jatuh hati pada sastra sejak usianya masih remaja, saat duduk di bangku SMA. Karena kegemarannya membaca dan kerap mendapatkan kesempatan membaca buku-buku sastra milik tetangganya di Kulonprogo (tempat lahirnya) Dhanu kian terpikat dengan sastra. Bermula dari penulisan puisi, lantas dia memberanikan diri untuk menekuninya lewat pilihan jalur pendidikan formal.
Pada 1985, Dhanu sukses menyandang gelar sarjana dari Fakultas Sastra di UNS. Konsistensi terus dia bangun, mulai dari menulis karya ilmiah, penyunting hingga akhirnya berhasil menjadi peneliti bahasa dan sastra di Balai Bahasa dan Sastra yang bertempat di Kotabaru. Hingga saat ini, sekurangnya terdapat 17 buku hasil penelitiannya baik secara pribadi, maupun kelompok. Dhanu fokus pada penelitian sastra daerah (Jawa).
“Meneliti karya sastra Jawa berbeda dengan penelitian ilmu pasti. Hasil penelitian sastra tidak dapat berpengaruh secara langsung, namun ketika telah dimanfaatkan kekuatannya jauh lebih kuat melebihi besi baja sekalipun. Menjadi peneliti sastra harus siap menyepi dan tidak terkenal,” katanya.
Menurut Dhanu, karya sastra memiliki peranan besar bagi seorang pribadi serta sebuah bangsa. Dalam sastra diajarkan nilai-nilai harmonisasi antara lain toleransi, keberagaman hingga penyelesaian konflik. Di masa kekinian, pintu untuk meneliti karya-karya sastra Jawa dinilainya kian terbuka lebar. Saat ini sastra Jawa kian banyak dicari, karena sastra Jawa dinilai sebagai konstribusi nyata dalam pembentukan karakter budaya. Dalam catatannya, 130 buah naskah Jawa yang bertuliskan dengan huruf Jawa dan fegon telah dilakukan digitalisasi oleh salah satu lembaga dari Jerman. Dia berharap, semangat seperti ini juga harus dimiliki oleh Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bripka E, anggota Polres Wonogiri, ditahan sebagai tersangka dugaan kekerasan seksual berbasis gender online terhadap perempuan 19 tahun.
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.