New York Dukung Jakarta Terbitkan Obligasi Rp5,6 Triliun
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
JAKARTA -- Kementerian Hukum dan HAM, Polri, dan TNI berkomitmen dan sepakat agar pelaku tragedi pembantaian di Lapas Cebongan Sleman yang menyebabkan empat tahanan meninggal dunia, diungkap dan siapapun pelakunya harus dimintai pertanggungjawaban di depan hukum.
Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana mengatakan seluruh pihak juga berupaya agar penanganan kasus itu berjalan lebih cepat.
“Sepakat dan seluruh pimpinan institusi sepakat apakah itu pimpinan di Kumham, kepolisian, TNI. Semua sepakat bahwa pelaku tragedi di Lapas Sleman ini harus diungkap dan siapapun mereka harus dimintai pertanggungjawaban di depan hukum. Itu komitmen yang tidak bisa ditawar,” ujarnya kepada wartawan, Senin (25/3/2013).
Saat ditanya, apakah ada dugaan pelaku dari Kopassus, Denny menyatakan hukum tidak dapat diproses dari dugaan, kendati diperbolehkan berawal dari dugaan.
“Jadi, kita tidak bisa mencegah orang menduga. Tetapi kita harap semua bersabar menunggu penyelidikan yang setelah dilakukan siapapun pelakunya yakinlah itu berdasarkan alat bukti yang ada.”
Dia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir, karena seluruh pimpinan sudah sepakat siapapun pelakunya harus diungkap. “Hukum tidak bisa berdasarkan dugaan. Hukum bisa hanya berdasarkan alat bukti. Jadi, kita harus mencari alat bukti.”
Menurutnya, pemeriksaan terhadap saksi-saksi sudah dilakukan. Selain itu, peluru selongsong proyektil telah diperoleh. Kendati sudah banyak bukti-bukti kesaksian dan petunjuk yang diperoleh, tetapi untuk mengarah pada kesimpulan, maka perlu bukti kuat.
“Karena ini kejadian yang sangat luar biasa, kita harus dengan suatu bukti yang sangat kuat untuk memastikan memang pelakunya yang betul-betul nanti ditangkap berdasarkan alat bukti yang tidak terbantahkan. Jadi, sekali lagi jangan duga-duga. Bukan berarti kita tidak berani menduga, tetapi hukum bukan berdasarkan dugaaan.”
Pihaknya terus melakukan koordinasi intensif yaitu pimpinan kepolisian, TNI, Kemenkumham, dan pihak terkait lain terkait dengan kasus penyerbuan Lapas Cebongan Sleman pada akhir pekan lalu (Sabtu, 23/3/2013).
“Salah satu agenda yang tadi bicarakan juga terkait tragedi d Lapas Sleman. Tadi dipaparkan juga oleh rekan dari kepolisian update terakhir di lapangan bahwa ada yang turun ke lapangan, bahkan dari Mabes Polri,” ujarnya.
Beberapa perkembangan, katanya, proses pemeriksaan di tempat kejadian sudah selesai, sehingga Lapas Cebongan sudah dapat diakses lagi.
Namun, detail persoalan itu, menurutnya, lebih tepat ditanyakan ke kepolisian yang lebih berwenang menyampaikan perkembangan penyidikan kasus itu.
Simak berita selengkapnya di:http://digital.solopos.com/file/25032013/"> http://digital.solopos.com/file/25032013/
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Ganjar Pranowo membagikan momen bertemu Anies Baswedan dan Fery Farhati di Jogja dengan suasana santai dan penuh guyonan.
PSS Sleman tak mengambil libur selama jeda internasional. Pieter Huistra menggenjot fisik pemain dan membenahi setiap lini.
Cuaca panas menjadi tantangan 64 tim KMHE 2026 di Unej karena memengaruhi performa mesin, kelistrikan, ban, hingga baterai kendaraan.
Pangkogabwilhan III menyebut dua pimpinan OPM tewas dalam kontak senjata dengan TNI di Distrik Aifat, Maybrat, Papua Barat Daya.
Dua gempa mengguncang Sumba dan Aceh selang 41 menit 41 detik. Pakar menjelaskan keduanya tidak berkaitan secara tektonik.