Karhutla Sumsel Kian Parah, Bakar 300 Hektare Lahan per Hari

Husnul Iga Puspita
Husnul Iga Puspita Senin, 19 Oktober 2026 20:27 WIB
Karhutla Sumsel Kian Parah, Bakar 300 Hektare Lahan per Hari

TNI AU memadamkan karhutla di beberapa titik lokasi bencana di Palembang dengan menggunakan metode \"water bombing\", Sabtu (22/8/2026). ANTARA/Ho-Humas TNI AU\r\n

Harianjogja.com, PALEMBANG— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan masih membakar sekitar 200 hingga 300 hektare lahan setiap hari. Keterbatasan sumber air dan kemampuan pemadaman menjadi tantangan petugas untuk mencegah api meluas.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan luas lahan terbakar yang tercatat pada Minggu (18/10/2026) mencapai sekitar 300 hektare. Namun, angka tersebut berpotensi bertambah karena sejumlah data belum masuk dalam rekapitulasi.

"Hari kemarin yang terekap di kami itu masih sekitar 300-an hektare (lahan kebakaran), tetapi memang ada beberapa data yang belum masuk," ujarnya, Senin (19/10/2026).

Ferdian mengatakan petugas masih melakukan pemadaman setiap hari dengan memprioritaskan penanganan api di lapangan. Luas lahan yang masih terbakar setiap hari diperkirakan berada pada kisaran 200 hingga 300 hektare.

"Jadi, setiap hari kami masih melaksanakan pemadaman dan kami lebih fokus dulu ke arah pemadamannya. Kalau luasannya secara harian kami laporkan sekitar 200 sampai 300 hektare yang masih nyala," katanya.

Titik Api Tersebar di Sejumlah Wilayah Sumsel

Ferdian menyebut sejumlah kabupaten dan kota masih menjadi perhatian dalam penanganan karhutla. Wilayah tersebut meliputi Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Banyuasin, serta Kota Palembang.

Kemunculan titik api saat ini didominasi kebakaran baru yang berada berdekatan dengan lokasi kebakaran sebelumnya. Kondisi tersebut membuat petugas harus terus melakukan pemadaman untuk membatasi penyebaran api.

Pemadaman Lahan Gambut Maksimal 10 Hektare Sehari

Keterbatasan kapasitas pemadaman menjadi salah satu kendala dalam menangani kebakaran, terutama di lahan gambut. Ferdian mengatakan petugas hanya mampu memadamkan kebakaran di lahan gambut dengan luasan maksimal sekitar 10 hektare per hari.

“Pemadaman di lahan gambut per hari itu maksimal 10 hektare, jadi prioritas pemadamannya pada bagian kepala api untuk mencegah kebakaran menjalar ke area yang lebih luas,” tuturnya.

Penanganan pada bagian kepala api dilakukan untuk menghambat penjalaran kebakaran ke area yang lebih luas. Upaya tersebut sekaligus ditujukan untuk mengurangi produksi asap dari lahan yang masih terbakar.

Sumber Air Berjarak hingga 500 Meter dari Titik Api

Selain keterbatasan kapasitas pemadaman, ketersediaan air yang semakin terbatas turut menyulitkan petugas. Di sejumlah lokasi, sumber air bahkan berada hingga 500 meter dari titik kebakaran.

Jarak tersebut menjadi kendala dalam upaya pemadaman ketika kebakaran masih berlangsung di beberapa wilayah Sumsel. Petugas harus menghadapi keterbatasan sumber air di tengah kebutuhan untuk mengendalikan api yang terus menyala.

“Jarak yang jauh dari titik api ini menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi petugas ketika melakukan pemadaman di tengah kebakaran yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumsel,” pungkasnya.

Besarnya luasan lahan yang masih terbakar setiap hari, ditambah keterbatasan air dan kemampuan pemadaman di lahan gambut, menjadi tantangan dalam penanganan karhutla di Sumatra Selatan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online