Sejarah Gunung Anak Krakatau, Lahir dari Reruntuhan 1883 hingga Kisah Tsunami

Sunartono
Sunartono Minggu, 06 September 2026 20:17 WIB
Sejarah Gunung Anak Krakatau, Lahir dari Reruntuhan 1883 hingga Kisah Tsunami

Sejarah Gunung Anak Krakatau bermula dari kehancuran Krakatau 1883, tumbuh hingga 338 mdpl, lalu runtuh akibat longsoran pada tsunami 2018. /Antara.

Harianjogja.com, JOGJA— Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api aktif yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Gunung yang kini berdiri di kawasan Selat Sunda tersebut bukan sekadar gunung api baru, tetapi merupakan bagian dari proses geologi panjang yang memperlihatkan bagaimana alam membangun kembali tubuh gunung setelah mengalami kehancuran besar.

Kelahiran Gunung Anak Krakatau bermula dari kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Gunung Krakatau pada 26–27 Agustus 1883. Erupsi tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan memicu tsunami yang berdampak luas terhadap wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda.

Dari reruntuhan tersebut, aktivitas vulkanik kemudian kembali muncul. Material erupsi secara perlahan menumpuk di dasar laut hingga akhirnya menembus permukaan dan membentuk daratan baru. Daratan inilah yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Letusan Krakatau 1883 Jadi Awal Sejarah Anak Krakatau

Gunung Krakatau yang meletus pada Agustus 1883 mengalami kehancuran dalam skala sangat besar. Sebagian besar tubuh gunung runtuh ke dalam laut dan membentuk kaldera bawah laut di kawasan Selat Sunda.

Kaldera tersebut berada di antara Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang. Kawasan ini kemudian menjadi lokasi munculnya aktivitas vulkanik baru beberapa dekade setelah tragedi Krakatau.

Setelah puluhan tahun relatif tenang, aktivitas magma kembali terdeteksi di kawasan tersebut. Letusan bawah laut menjadi tanda awal munculnya gunung api baru.

Catatan aktivitas vulkanik menunjukkan letusan bawah laut mulai terdeteksi pada 1927. Aktivitas tersebut kemudian berlanjut hingga material vulkanik dan lava secara bertahap menumpuk dan membentuk daratan.

Pada periode 1929–1930, material vulkanik akhirnya menembus permukaan laut. Daratan baru tersebut terus berkembang menjadi sebuah pulau gunung api yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Dengan demikian, Anak Krakatau dapat dipandang sebagai hasil dari proses konstruksi alam setelah kehancuran besar yang dialami Gunung Krakatau pada 1883.

Anak Krakatau Terus Tumbuh

Setelah muncul ke permukaan laut, Gunung Anak Krakatau mengalami pertumbuhan melalui aktivitas erupsi yang berlangsung berulang kali. Material berupa lava dan abu vulkanik secara bertahap menambah ukuran tubuh gunung.

Dalam perkembangannya, Anak Krakatau dikenal sebagai gunung api muda yang aktif. Erupsi yang terjadi secara berkala menjadi bagian dari proses pembentukan kerucut gunung api tersebut.

Pada periode 1930 hingga 2017, tubuh Anak Krakatau disebut bertambah tinggi sekitar 4–6 meter per tahun. Pertumbuhan tersebut membuat ketinggiannya terus meningkat selama beberapa dekade.

Hingga September 2018, ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, pertumbuhan tersebut kemudian berubah drastis akibat peristiwa besar pada akhir 2018.

Tsunami 2018 Mengubah Bentuk Anak Krakatau

Pada Desember 2018, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat. Kondisi tersebut kemudian diikuti oleh longsoran sebagian tubuh gunung atau flank collapse.

Material dalam jumlah besar longsor ke laut. Pergerakan massa gunung ke dalam perairan tersebut memicu tsunami yang menerjang sejumlah kawasan pesisir Banten dan Lampung.

Peristiwa tersebut kembali menunjukkan karakter Anak Krakatau sebagai gunung api yang terus mengalami proses pembentukan sekaligus penghancuran.

Longsoran pada 2018 juga mengubah bentuk tubuh gunung secara signifikan. Ketinggian Anak Krakatau menyusut drastis dari sekitar 338 mdpl menjadi sekitar 110 mdpl. Artinya, gunung tersebut kehilangan lebih dari dua pertiga volume tubuhnya akibat proses keruntuhan tersebut.

Anak Krakatau Kembali Membangun Tubuhnya

Setelah perubahan besar pada 2018, aktivitas vulkanik Anak Krakatau kembali menjadi bagian dari proses pembentukan tubuh gunung.

Erupsi yang terjadi secara berkala mengeluarkan lava, abu, dan material vulkanik lainnya. Material tersebut kemudian menumpuk di sekitar pusat erupsi dan secara perlahan membentuk kembali struktur gunung.

Proses tersebut memperlihatkan karakter gunung api yang dinamis. Tubuh Anak Krakatau dapat bertambah melalui akumulasi material erupsi, tetapi pada saat yang sama dapat mengalami perubahan atau bahkan keruntuhan ketika terjadi aktivitas vulkanik dan kondisi geologi tertentu.

Karena berada di kawasan Selat Sunda yang memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik, perkembangan Anak Krakatau terus menjadi perhatian para ahli.

Aktivitas Anak Krakatau Terus Dipantau

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas kegempaan, erupsi, serta potensi bahaya yang dapat ditimbulkan.

Informasi mengenai aktivitas gunung api menjadi penting karena Anak Krakatau berada di kawasan perairan yang menjadi jalur pelayaran serta relatif dekat dengan sejumlah wilayah pesisir.

Pemantauan juga diperlukan untuk menentukan zona yang aman dan wilayah yang harus dihindari masyarakat maupun wisatawan.

Perubahan aktivitas vulkanik dapat memengaruhi rekomendasi jarak aman dari kawah. Karena itu, masyarakat di sekitar Selat Sunda perlu mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait dan tidak menjadikan informasi yang belum terverifikasi sebagai dasar untuk mengambil keputusan.

Siklus Gunung Api yang Terus Berulang

Sejarah Gunung Anak Krakatau memperlihatkan sebuah siklus geologi yang panjang. Gunung Krakatau mengalami kehancuran besar pada 1883, kemudian aktivitas magma kembali membangun struktur gunung baru dari dasar kaldera.

Anak Krakatau selanjutnya tumbuh selama puluhan tahun sebelum sebagian tubuhnya kembali runtuh dalam peristiwa 2018.

Setelah itu, proses pembentukan kembali berlangsung melalui aktivitas erupsi. Siklus tersebut menunjukkan bahwa gunung api bukan struktur yang statis, melainkan bagian dari sistem geologi yang terus bergerak dan berubah.

Kisah Anak Krakatau karena itu bukan hanya tentang letusan dan bencana. Gunung tersebut juga menjadi gambaran nyata bagaimana proses alam bekerja dalam membangun, menghancurkan, dan kembali membentuk sebuah gunung api di tengah laut.

Selama aktivitas vulkaniknya berlangsung, pemantauan dan kewaspadaan tetap menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat, pelayaran, maupun penerbangan di kawasan Selat Sunda.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online