Abu Vulkanik Anak Krakatau, Bandara Soekarno-Hatta Ditutup
Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sebanyak 33 penerbangan terdampak.
Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus dan melontarkan abu vulkanik setinggi 250 meter di atas puncak, Senin (24/8/2026) (Antara/HO-Badan Geologi)
Harianjogja.com, JAKARTA— Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau meluas hingga wilayah Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Partikel debu hitam dilaporkan mencapai Bojonggede dan Cilebut Bogor, bahkan terlihat menumpuk di lantai rumah serta kendaraan warga.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih berlangsung. Sebelumnya, hujan abu vulkanik juga melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu (5/9/2026) malam dan mengganggu aktivitas warga, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Dari pantauan langsung Bisnis, debu vulkanik mulai terlihat berterbangan di wilayah Bojonggede dan Cilebut Bogor sejak Minggu dini hari. Kondisi tersebut menunjukkan sebaran material erupsi telah mencapai wilayah yang lebih jauh dari kawasan gunungapi.
Berdasarkan analisis citra satelit RGB Himawari-9 yang disandingkan dengan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta VAAC Darwin yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau teridentifikasi pada periode pukul 02.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB.
Sebaran tersebut terbagi pada dua ketinggian permukaan dengan arah pergerakan berbeda.
Pada lapisan pertama, yakni ketinggian Permukaan–20.000 feet, abu vulkanik bergerak ke arah Timur Laut hingga Selatan.
"Mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta kawasan perairan di sekitarnya," tulis di akun Instagram BMKG Wilayah II, dikutip Bisnis, Minggu (6/9/2026).
Sementara pada lapisan kedua, dengan ketinggian Permukaan–50.000 feet, abu vulkanik bergerak ke arah Barat Daya hingga Barat Laut.
Area yang terdampak pada lapisan tersebut meliputi sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga membentang ke Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara dentuman serta gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan Sabtu (5/9) pukul 00.00–06.00 WIB, erupsi masih berlangsung. Secara visual, aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang teramati pada malam hari.
Dalam pemantauan visual, gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III. Sementara itu, asap kawah tidak teramati.
Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik. Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi yang tercatat dalam laporan selama 21.600 detik.
Adapun kondisi cuaca di sekitar gunungapi berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut. Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga).
Berdasarkan hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.
Kondisi tersebut dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Masyarakat karena itu diharapkan tidak panik.
Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki juga diimbau tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
BNPB bersama PVMBG dan BPBD menekankan bahwa kewaspadaan perlu berjalan beriringan dengan ketenangan. Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung, tidak perlu panik terhadap isu tsunami, tetapi tetap perlu mengikuti perkembangan informasi resmi.
Dalam menghadapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, BNPB menekankan tiga hal utama.
Pertama, keselamatan masyarakat menjadi prioritas sehingga pemerintah daerah bersama unsur terkait perlu memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada dalam radius bahaya.
Kedua, kesiapsiagaan perlu ditingkatkan. Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait diharapkan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan apabila terjadi perubahan aktivitas yang membutuhkan langkah evakuasi.
Ketiga, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi setiap arahan petugas. Masyarakat juga tidak perlu mendekati kawasan gunungapi hanya untuk menyaksikan atau mendokumentasikan erupsi.
"Informasi yang belum terverifikasi, termasuk mengenai potensi tsunami, juga sebaiknya tidak disebarluaskan karena dapat menimbulkan kepanikan," ujar Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam keterangannya, kemarin.
Dia menyebut BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG juga akan melakukan evaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas maupun morfologi gunungapi.
Sebelum mencapai Bogor, hujan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mulai melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu (5/9/2026) malam.
Kondisi tersebut membuat warga mengeluhkan mata perih dan turut mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, saat ditemui di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Sabtu malam, mengatakan paparan abu vulkanik mulai dirasakan menebal di sekitar permukiman warga sejak pukul 17.00 WIB.
"Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai," katanya.
Sanan menambahkan rentetan suara gemuruh dan getaran yang tidak kunjung berhenti sejak Jumat (4/9) malam mendorongnya mendatangi langsung Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Pasauran untuk memastikan kondisi keamanan gunung tersebut.
Kekhawatiran serupa turut dirasakan Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat. Ajat sengaja mendatangi Pos PGA Anak Krakatau malam itu untuk memastikan secara langsung status dan kondisi gunung guna mendapatkan informasi valid yang nantinya akan disampaikan kepada para siswa dan wali murid di sekolah.
Ajat membenarkan sebaran debu vulkanik tersebut sangat mengganggu kenyamanan dan kesehatan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.
"Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk," ujarnya.
Informasi langsung dari pos pemantau dirasa sangat penting oleh Ajat karena aktivitas erupsi telah memicu kecemasan di tengah masyarakat dan berdampak pada sepinya kehadiran siswa di sekolah.
Lebih lanjut, Ajat menuturkan getaran dan dentuman erupsi sebenarnya dianggap sebagai fenomena biasa oleh sebagian besar warga Pasauran. Namun, sebagian warga berinisiatif mengamankan diri.
"Masyarakat itu masih aman-aman saja karena hal-hal ini sudah biasa dan alami di warga Pasauran. Tetapi memang ada beberapa warga yang berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sebanyak 33 penerbangan terdampak.
Harga avtur naik 6,5% menjadi Rp23.315 per liter pada September 2026. Maskapai pun memangkas rute dan frekuensi penerbangan.
Nathan Tjoe-A-On tampil penuh saat Willem II kalah 0-3 dari Excelsior pada pekan kelima Eredivisie 2026/2027.
Lima penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru dibatalkan akibat abu vulkanik erupsi Anak Gunung Krakatau.
Bayern Muenchen ditahan Schalke 0-0 di Veltins-Arena. Harry Kane, Olise dan Musiala gagal membawa Die Roten meraih kemenangan.
33 penerbangan terdampak abu vulkanik Anak Krakatau. Operasional Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara hingga 09.30 WIB.