Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ini Kronologinya

Sunartono
Sunartono Kamis, 27 Agustus 2026 11:22 WIB
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Ini Kronologinya

Banjir bandang Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan ratusan orang hilang. Simak kronologi dan dugaan pemicunya. /Instagram.

Harianjogja.com, JAKARTA— Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan pegunungan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu, 26 Agustus 2026. Bencana tersebut menghancurkan permukiman, merusak fasilitas pembangkit listrik, serta memutus akses transportasi dan komunikasi di sejumlah titik perbatasan.

Dilansir Reuters, jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat di wilayah perbatasan Nepal dan China melonjak menjadi 160 orang. Ratusan orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah banjir menerjang kawasan pegunungan tersebut.

Otoritas Nepal mencatat sedikitnya 384 orang masih belum ditemukan. Dari jumlah tersebut, 290 orang merupakan wisatawan asing yang berasal dari India, Malaysia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Banjir bandang menerjang kawasan Rasuwa, Nepal, setelah Sungai Bhotekoshi tiba-tiba meluap. Arus air yang sangat deras menyapu rumah, bangunan, serta infrastruktur, termasuk fasilitas pembangkit listrik tenaga air.

Hingga kini, penyebab pasti bencana masih dalam penyelidikan. Laporan terbaru menyebut bencana tersebut diduga berkaitan dengan runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya yang memicu aliran material dan air dalam jumlah besar.

Rangkaian bencana bermula sekitar pukul 09.00 waktu setempat ketika debit air di Sungai Lhende Khola meningkat secara mendadak. Sungai tersebut merupakan anak Sungai Bhote Koshi yang berada di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet.

Air kemudian meluap dengan cepat tanpa adanya peringatan awal. Kondisi itu membuat masyarakat di kawasan lembah menghadapi arus banjir yang datang secara tiba-tiba.

Gelombang Air Bah Menerjang Rasuwa dan Tibet

Memasuki Rabu siang, gelombang air bah berkecepatan tinggi menerjang kawasan lembah. Aliran banjir melanda Distrik Rasuwa di Nepal serta Pelabuhan Perbatasan Gyirong di Shigatse, Tibet.

Dampaknya meluas hingga menyebabkan akses jalan dan pos perbatasan terputus. Pasokan listrik serta jaringan komunikasi di kawasan terdampak juga mengalami gangguan hingga terputus total.

Kerusakan infrastruktur dilaporkan cukup parah. Sejumlah jembatan penghubung runtuh, puluhan rumah tersapu arus deras, sementara beberapa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mengalami kerusakan berat.

Evakuasi Terkendala Cuaca Buruk

Pada Rabu sore hingga malam hari, tim penyelamat gabungan mulai dikerahkan. Aparat kepolisian dan militer Nepal bersama pihak berwenang China melakukan evakuasi terhadap warga dan wisatawan yang terdampak.

Namun, proses penyelamatan menghadapi kendala. Cuaca buruk dan debit air yang masih tinggi menghambat operasi evakuasi melalui udara menggunakan helikopter.

Besarnya dampak bencana juga terlihat dari jumlah korban. Berdasarkan data terkini dari aparat keamanan dan otoritas setempat, sedikitnya 160 orang dikonfirmasi meninggal dunia.

Selain korban tewas, sekitar 384 hingga 403 orang dilaporkan hilang, termasuk 291 warga negara asing. Puluhan warga dan wisatawan lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan darurat.

Diduga Dipicu Longsoran Gletser

Pakar pengurangan risiko bencana dan otoritas setempat menduga kuat banjir bandang tersebut dipicu longsoran es dan batu dari gletser atau glacial avalanche di kawasan hulu pegunungan.

Longsoran material dalam jumlah besar itu diduga sempat menyumbat aliran sungai di dataran tinggi. Akumulasi es dan lumpur kemudian membentuk bendungan alami yang menahan aliran air.

Tekanan air yang terus meningkat akhirnya membuat bendungan alami tersebut jebol. Volume air bertekanan tinggi kemudian mengalir secara mendadak ke arah hilir atau dikenal sebagai outburst flood, sehingga memicu banjir bandang berskala besar.

Hingga kini, upaya pencarian korban dan penanganan kondisi darurat masih berlangsung di sepanjang bantaran Sungai Trishuli hingga kawasan perbatasan Tibet.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online