Kemarau Panjang, Warga Kemesu Gunungkidul Terima 48.000 Liter Air

Newswire
Newswire Senin, 10 Agustus 2026 19:02 WIB
Kemarau Panjang, Warga Kemesu Gunungkidul Terima 48.000 Liter Air

Warga Kemesu Gunungkidul terdampak kekeringan, mendapatkan bantuan 48.000 liter air bersih untuk membantu kebutuhan warga. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA— Kemarau panjang membuat warga Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Bahkan, sebagian warga terpaksa menjual hasil bumi hingga ternak ketika persediaan air menipis dan tidak memiliki uang untuk membeli air tangki.

Kondisi tersebut telah berlangsung selama berbulan-bulan karena sumur dan telaga yang menjadi sumber air warga mengering. Untuk meringankan beban masyarakat, Waroeng Spesial Sambal 'SS' Indonesia menyalurkan bantuan air bersih, Senin (10/8/2026).

Koordinator distribusi program air bersih Waroeng SS, Muhammad Ivan Kurniawan, mengatakan bantuan yang disalurkan khusus untuk Padukuhan Kemesu sebanyak 8 tangki. Setiap tangki memiliki kapasitas 6.000 liter sehingga total air bersih yang diterima warga mencapai 48.000 liter.

"Jadi, total air bersih yang didistribusikan di Kemesu mencapai 48.000 liter," katanya.

Distribusi Jadi 278 Tangki

Bantuan air bersih tersebut merupakan bagian dari program sosial bertajuk '240 Tangki Air untuk Masyarakat'. Program yang awalnya menargetkan distribusi 240 tangki air bersih itu diperluas setelah perusahaan melihat kebutuhan masyarakat di sejumlah daerah masih tinggi.

Ivan mengatakan total bantuan akhirnya mencapai 278 tangki yang disalurkan secara bertahap di 7 area. Wilayah tersebut meliputi Jabodetabek, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Malang, dan Bali.

Penyaluran tahap pertama dilakukan di wilayah Yogyakarta dan Purwokerto dengan total 111 tangki. Setelah itu, distribusi tahap kedua dilanjutkan dengan 167 tangki untuk masyarakat di Jabodetabek, Semarang, Solo, Malang, dan Bali.

"Penyaluran tahap pertama telah dilaksanakan di wilayah Yogyakarta dan Purwokerto dengan total 111 tangki, yang kemudian dilanjutkan tahap kedua sebanyak 167 tangki ke wilayah Jabodetabek, Semarang, Solo, Malang, dan Bali untuk membantu meringankan beban warga yang kesulitan mendapatkan air bersih," katanya.

Dalam pelaksanaannya, Waroeng SS berkolaborasi dengan lembaga kemanusiaan seperti Asar Humanity dan Baitulmaal Muamalat (BMM). Distribusi juga telah dilakukan di sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Penyaluran tersebut berkolaborasi bersama lembaga kemanusiaan seperti Asar Humanity dan Baitulmaal Muamalat [BMM]. Di DIY yang sudah terdistribusi salah satunya kemarin di Girisubo, yang sekarang di Rongkop, kemarin juga ada di daerah Panggang, kemudian ada di daerah Kabupaten Kulonprogo," ujarnya.

Warga Kemesu Beli Air Rp120.000

Dukuh Kemesu, Sugiyanta, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan air bersih tersebut. Menurutnya, warga telah berbulan-bulan menghadapi kesulitan mendapatkan air karena sumur dan telaga yang menjadi sumber air mengalami kekeringan.

Padukuhan Kemesu terdiri dari dua RT dan 67 kepala keluarga. Selama musim kemarau, warga harus membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Setiap tahun warga kami memang mengalami krisis air bersih, terutama dari bulan April sampai sekarang karena tidak ada air hujan dan telaga sudah kering."

Biaya membeli air menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat. Sugiyanta mengatakan warga harus membayar Rp120.000 untuk mendapatkan 5.000 liter air yang diperkirakan cukup memenuhi kebutuhan selama sekitar tiga minggu.

"Tanpa bantuan air bersih, warga terpaksa membeli air tangki seharga Rp120.000 per 5.000 liter untuk kebutuhan sekitar tiga minggu," kata Sugiyanta.

Kebutuhan Masak dan Minum

Kesulitan air bersih juga dirasakan Wartiyem (64), warga setempat yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Kemarau panjang membuat kebutuhan air tidak hanya menjadi persoalan ketersediaan, tetapi juga menambah tekanan terhadap kondisi ekonomi keluarga.

Menurut Wartiyem, bantuan air yang diterima warga sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama memasak dan minum. Ketika tidak memiliki persediaan air sekaligus tidak mempunyai uang untuk membeli air tangki, warga harus mencari cara lain untuk mendapatkan biaya.

"Air dari bantuan ini sangat berarti untuk masak dan minum, karena kalau tidak ada air dan tidak punya uang, kami terpaksa harus menjual hasil bumi seperti gaplek atau ternak ayam dan kambing untuk bisa membeli air bersih," ujar Wartiyem.

Bagi warga Padukuhan Kemesu, distribusi 48.000 liter air bersih tersebut menjadi bantuan penting di tengah krisis air yang berlangsung sejak April. Kekeringan yang terjadi setiap tahun membuat akses terhadap air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi 67 kepala keluarga di wilayah tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online