Jadwal Terbaru KRL Jogja-Solo Minggu 9 Agustus 2026 dan Tarifnya
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 9 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal tiap stasiun di sini.
Foto ilustrasi viru ebola dibuat dengan artificial intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo yang terus meningkat menjadi alarm bagi Indonesia untuk memperkuat kewaspadaan terhadap ancaman penyakit menular lintas negara. Di tengah tingginya mobilitas internasional, penguatan sistem deteksi dini, pengawasan pintu masuk, hingga kesiapan layanan kesehatan dinilai menjadi langkah penting guna mengantisipasi potensi penyebaran penyakit.
Hingga Rabu (24/6/2026), wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo tercatat telah mencapai 1.118 kasus dengan lebih dari 291 kematian. Kondisi tersebut mendorong World Health Organization (WHO) menetapkan status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional sebagai bentuk peringatan agar seluruh negara meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi penyebaran penyakit.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Farindira Vesti Rahmasari, mengatakan peningkatan kasus Ebola harus menjadi pengingat bagi seluruh negara, termasuk Indonesia, untuk terus memperkuat sistem kewaspadaan terhadap penyakit menular yang berpotensi melintasi batas negara.
Menurutnya, meskipun mekanisme penularan Ebola berbeda dengan COVID-19, lonjakan kasus tetap membutuhkan perhatian serius karena tingginya mobilitas manusia dapat memperbesar peluang penyebaran penyakit ke berbagai wilayah dunia. Penularan Ebola terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau jenazah penderita yang terinfeksi.
"Namun, ketika suatu penyakit dinilai berisiko menyebar lintas negara dan membutuhkan kerja sama internasional, hal itu menjadi sinyal bahwa dunia perlu meningkatkan kewaspadaan,” jelas Farindira, Kamis (25/6).
Farindira menjelaskan, penetapan status PHEIC oleh WHO tidak semata-mata menunjukkan tingginya jumlah kasus Ebola, melainkan menjadi peringatan bagi setiap negara agar memperkuat sistem deteksi dini, pelaporan, serta respons kesehatan masyarakat. Berdasarkan pengalaman berbagai wabah global, keterlambatan mendeteksi maupun menangani kasus dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit ke wilayah yang lebih luas.
Menurutnya, Indonesia juga perlu terus meningkatkan kewaspadaan meski hingga kini belum ditemukan kasus Ebola. Sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak pintu masuk internasional, pengawasan kesehatan di bandara, pelabuhan, dan jalur perlintasan menjadi bagian penting dalam mencegah masuknya penyakit dari luar negeri.
Ia menilai pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah terdampak harus diperkuat, disertai kesiapan tenaga kesehatan, prosedur rujukan pasien, sistem kewaspadaan dini, hingga dukungan laboratorium yang mampu mendeteksi kasus secara cepat dan akurat.
"Langkah-langkah tersebut penting agar respons dapat dilakukan sedini mungkin apabila ditemukan kasus yang dicurigai,” ujarnya.
Lebih lanjut, Farindira menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi kasus Ebola tidak hanya berkaitan dengan aspek medis. Kemampuan suatu negara menghadapi ancaman penyakit menular juga ditentukan oleh kekuatan sistem kesehatan secara menyeluruh, mulai dari surveilans penyakit, kekarantinaan kesehatan, kapasitas laboratorium, perlindungan tenaga kesehatan, hingga efektivitas komunikasi publik.
Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi wabah bukan hanya memahami cara penularan maupun pengobatan penyakit, tetapi juga memastikan seluruh sistem mampu mengenali tanda bahaya sejak dini, melakukan pelacakan kontak, menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai, serta membangun koordinasi lintas sektor secara optimal.
"Semua komponen tersebut merupakan bagian dari ketahanan kesehatan nasional,” katanya.
Farindira juga mengimbau masyarakat agar tidak menyikapi meningkatnya kasus Ebola dengan kepanikan. Sebaliknya, masyarakat perlu meningkatkan literasi kesehatan dan mengikuti informasi resmi yang disampaikan otoritas kesehatan sebagai dasar dalam mengambil langkah pencegahan.
“Status darurat kesehatan global yang ditetapkan WHO seharusnya dipahami sebagai sinyal untuk memperkuat kewaspadaan, bukan untuk menimbulkan ketakutan. Yang dibutuhkan bukan reaksi berlebihan, melainkan kesiapsiagaan yang terukur,” tegas Farindira.
Melalui penguatan sistem kesehatan, pengawasan pintu masuk negara, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penyakit menular, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan kondisi bebas Ebola sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai potensi wabah global di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 9 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal tiap stasiun di sini.
Sebanyak 106 penumpang KMP Putri Yasmin yang terbakar di Selat Lombok berhasil dievakuasi ke Pelabuhan Lembar dan Padangbai.
Ariana Grande mengejutkan penggemar setelah memutuskan mengurangi aktivitas publik di tengah kesuksesan album Petal yang menempati posisi pertama Billboard 200.
Kemendikdasmen membuka Beasiswa BPI GTK 2026 bagi guru, calon guru, dan tenaga kependidikan. Simak syarat, jadwal pendaftaran, komponen bantuan, dan cara mendaf
Persib Bandung dipastikan berada di Pot 4 ACL Two 2026/2027 setelah Gangwon FC dan Adelaide United gagal lolos ke ACL Elite. Maung Bandung kini menunggu drawing
Flashdisk bekas menyimpan jejak digital yang bisa dipulihkan. Pelajari cara format aman di Windows dan Mac, serta kapan harus menghancurkan fisik perangkat sebe