Samsung Galaxy M47 5G Rilis 29 Juni, Ini Spesifikasinya
Samsung Galaxy M47 5G rilis 29 Juni 2026, usung Snapdragon, layar 120Hz, kamera 50MP OIS, dan update Android hingga 6 tahun.
Kapal berbendera Belanda MV Hondius berlayar di Samudra Atlantik dekat Pulau Saint Helena, Jumat (24/4/2026). ANTARA/Anadolu Agency/Emin Yoğurtcuoğlu/pri.
Harianjogja.com, JENEWA—Wabah virus Andes yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian dunia setelah menyebabkan tiga kematian dari total delapan kasus yang dilaporkan. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization memastikan situasi masih terkendali dan tidak berpotensi menjadi pandemi global.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa lima dari delapan kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, sementara tiga lainnya masih berstatus suspek.
“Tidak ada penumpang maupun awak lain yang menunjukkan gejala saat ini, namun seluruh kontak tetap dalam pemantauan ketat,” ujarnya dalam konferensi pers.
Virus Andes merupakan jenis hantavirus langka yang banyak ditemukan di Amerika Selatan. Penularannya umumnya berasal dari hewan pengerat, meski dalam kasus tertentu dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan.
Menurut WHO, masa inkubasi virus ini bisa mencapai enam pekan, sehingga masih ada kemungkinan munculnya kasus tambahan. Meski demikian, risiko terhadap kesehatan masyarakat global dinilai tetap rendah.
Kapal pesiar MV Hondius saat ini tengah berlayar menuju Kepulauan Canary setelah mendapat izin dari otoritas Spanyol. Seluruh penumpang diminta tetap berada di kabin selama proses disinfeksi berlangsung, sementara individu bergejala langsung diisolasi.
Direktur Operasi Darurat WHO, Abdirahman Mahamud, menegaskan wabah ini terjadi dalam lingkungan terbatas sehingga kecil kemungkinan menyebar luas.
“Ini adalah situasi spesifik dengan interaksi kontak dekat yang intens. Kami tidak melihat potensi rantai penularan lanjutan,” katanya.
Hal senada disampaikan Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan Epidemi, Maria Van Kerkhove, yang menegaskan wabah ini berbeda dengan pandemi COVID-19.
“Ini bukan SARS-CoV-2 dan tidak memiliki pola penyebaran seperti virus corona,” tegasnya.
Sejauh ini, kasus terkonfirmasi berasal dari penumpang yang sebelumnya melakukan perjalanan di wilayah Amerika Selatan, termasuk Argentina, Chile, dan Uruguay—daerah yang diketahui memiliki populasi tikus pembawa virus Andes.
WHO juga telah memberi tahu 12 negara asal penumpang, termasuk Amerika Serikat, Inggris, hingga Singapura, guna meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan kesehatan.
Untuk pencegahan, WHO merekomendasikan isolasi pasien, serta pemantauan aktif terhadap individu yang terpapar hingga 42 hari, menyesuaikan kebijakan masing-masing negara.
Dengan langkah-langkah tersebut, WHO optimistis wabah hantavirus Andes ini tidak akan berkembang menjadi epidemi besar, termasuk di kawasan tujuan kapal seperti Kepulauan Canary.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Samsung Galaxy M47 5G rilis 29 Juni 2026, usung Snapdragon, layar 120Hz, kamera 50MP OIS, dan update Android hingga 6 tahun.
Belanda mengincar kemenangan atas Tunisia untuk mengamankan posisi puncak Grup F Piala Dunia 2026.
Bupati Sleman hadiri Penas KTNA XVII di Gorontalo, kontingen DIY raih berbagai prestasi nasional sektor pertanian.
Ketua Ombudsman Hery Susanto didakwa terima suap Rp4,85 miliar terkait kasus korupsi tambang nikel 2021-2026.
Karantina Jogja musnahkan ratusan kg komoditas ilegal di Bandara YIA untuk mencegah hama dan penyakit masuk ke Indonesia.
Mantri bank di Bantul ditangkap polisi usai korupsi Rp711 juta lewat kredit fiktif dan penyalahgunaan identitas nasabah.