Dugaan Penistaan Agama di Festival Musik Ancol, Ini Respons Pramono
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta dugaan penistaan agama di festival musik Ancol diproses hukum.
Ilustrasi LPG 3 Kg - Antara
Harianjogja.com, BOGOR — Pemerintah mulai menyiapkan terobosan baru di sektor energi rumah tangga dengan mengembangkan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg. Langkah ini digadang-gadang mampu menekan biaya energi sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, penggunaan CNG sebenarnya sudah mulai diterapkan di berbagai sektor, seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kini, pemerintah tengah mengkaji pengembangan lebih luas untuk kebutuhan rumah tangga.
“Untuk tabung 3 kilogram ini sedang disiapkan. Biayanya bisa lebih murah sekitar 30 sampai 40 persen dibanding LPG,” ujar Bahlil, Sabtu (2/5/2026).
Secara teknis, CNG merupakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi, berkisar 200–250 bar. Kandungan utamanya adalah metana (C1) dan etana (C2). Gas ini disimpan dalam tabung khusus bertekanan tinggi yang telah dirancang memenuhi standar keamanan distribusi energi.
Keunggulan utama CNG terletak pada efisiensi biaya dan ketersediaan bahan baku domestik. Berbeda dengan LPG yang sebagian besar masih bergantung pada impor, CNG dapat diproduksi dari sumber gas alam dalam negeri. Hal ini dinilai menjadi solusi strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 1,6–1,7 juta ton. Artinya, lebih dari 70 persen kebutuhan LPG masih dipenuhi melalui impor.
Kondisi ini menjadi beban besar bagi anggaran negara, terutama karena LPG 3 kg merupakan produk bersubsidi. Dengan hadirnya alternatif CNG, pemerintah berharap beban subsidi dapat ditekan sekaligus menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat.
Meski menjanjikan, pengembangan CNG tidak lepas dari tantangan. Infrastruktur distribusi, kesiapan tabung berstandar tinggi, hingga edukasi masyarakat menjadi faktor penting yang harus disiapkan secara matang. Pemerintah juga perlu memastikan aspek keselamatan penggunaan di tingkat rumah tangga.
Selain CNG, pemerintah juga terus mendorong berbagai strategi diversifikasi energi, mulai dari peningkatan produksi minyak dan gas (lifting migas), penggunaan bahan bakar nabati seperti B50, hingga pengembangan energi baru terbarukan.
Dalam konteks global, langkah ini dinilai relevan di tengah ketidakpastian harga energi dunia. Dengan mengoptimalkan sumber daya domestik, Indonesia berpeluang memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan.
Jika implementasinya berjalan lancar, tabung CNG 3 kg berpotensi menjadi game changer dalam sistem energi rumah tangga Indonesia—lebih murah, lebih mandiri, dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta dugaan penistaan agama di festival musik Ancol diproses hukum.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan berdasarkan data resmi KAI Access.
BMKG memprakirakan mayoritas wilayah di DIY cerah pada Kamis 13 Agustus 2026. Bantul berpotensi berawan, sementara Kota Jogja terpanas.
Kiper 16 tahun Athaullah Daib motoran dari Gunungkidul ke Jogja demi latihan PSIM setelah dipromosikan dari EPA U-16 ke tim senior.
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dari Yogyakarta ke Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.