Chery dan BYD Kaji Potensi Kenaikan Harga Mobil di Indonesia
Chery dan BYD mengkaji potensi kenaikan harga mobil di Indonesia akibat pelemahan rupiah dan tekanan biaya produksi.
Jejak tapak kaki satwa diduga macan tutul.dok/harianjogja
Harianjogja.com, BANDARLAMPUNG—Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Lampung memastikan temuan jejak kaki satwa di area perkebunan nanas milik PT Great Giant Pineapple (GGP), Kabupaten Lampung Timur, merupakan tapak harimau sumatra.
Kepastian tersebut disampaikan Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo, setelah pihaknya melakukan rapid analysis atas laporan petugas keamanan perusahaan.
“Kepastian itu tapak kaki harimau sumatra setelah kami melakukan rapid analysis berdasarkan dokumentasi yang disampaikan petugas keamanan,” kata Itno dalam keterangan yang diterima di Bandarlampung, Minggu.
Ia menjelaskan, analisis dilakukan menggunakan dokumentasi foto jejak yang dilengkapi pembanding ukuran bungkus rokok sebagai standar skala. Metode tersebut digunakan untuk memastikan ukuran dan karakteristik tapak secara lebih akurat.
“Dari hasil analisis morfologi jejak, dapat disimpulkan bahwa tapak tersebut paling konsisten mengarah pada harimau sumatra,” ujarnya.
Secara morfologis, jejak menunjukkan empat jari telapak yang jelas tanpa bekas kuku—ciri khas keluarga kucing besar (Felidae). Selain itu, bantalan tengah telapak tampak besar dengan tiga lekukan di bagian posterior, yang merupakan karakter umum jejak harimau.
Temuan ini juga diperkuat oleh faktor lokasi. Berdasarkan data koordinat, titik ditemukannya jejak berada sekitar 350 meter dari kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Menurut Itno, kawasan tersebut dikenal sebagai habitat penting berbagai satwa dilindungi, termasuk harimau sumatra, serta berfungsi sebagai koridor jelajah satwa. Oleh karena itu, kemunculan jejak di area perkebunan yang berbatasan langsung dengan taman nasional masih tergolong wajar.
“Pergerakan harimau dewasa bisa terjadi untuk mencari mangsa, memperluas teritori, atau sekadar melintas. Ini merupakan perilaku alami satwa liar,” katanya.
Merujuk pada analisis risiko konflik manusia dan satwa sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48 Tahun 2008, BKSDA menilai potensi konflik dalam kasus ini masih tergolong rendah.
“Keberadaan satwa baru terdeteksi melalui jejak dan belum menimbulkan kerugian ekonomi maupun korban jiwa. Meski demikian, kewaspadaan dan langkah mitigasi lanjutan tetap diperlukan,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Chery dan BYD mengkaji potensi kenaikan harga mobil di Indonesia akibat pelemahan rupiah dan tekanan biaya produksi.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.