Polisi Karawang Bongkar Oplosan LPG 3 Kg, 3 Orang Ditangkap
Polresta Karawang menangkap tiga pelaku pengoplos LPG subsidi 3 kg. Polisi menyita 245 tabung dan peralatan pemindahan gas.
Sejumlah warga melihat dari jauh fenomena sinkhole yang terjadi di Nagari Situjua Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (6/1/2026). ANTARA/Fandi Yogari
Harianjogja.com, JAKARTA—Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah kembali menjadi sorotan setelah sejumlah peristiwa muncul di berbagai wilayah Indonesia. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, menjelaskan bahwa kondisi geologi tertentu membuat beberapa daerah lebih rentan terhadap munculnya lubang runtuhan.
Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (16/1/2026) Adrin menyebut sinkhole merupakan proses alamiah yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batugamping (limestone) di bawah permukaan tanah. Proses ini berlangsung sangat lama dan dipicu oleh air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara maupun permukaan tanah.
Proses Pembentukan Sinkhole
Menurut Adrin, air hujan yang meresap ke dalam tanah akan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping. Pelarutan ini membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan.
"Seiring waktu, aliran air permukaan dan air tanah membuat rongga semakin besar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya," ujarnya.
Saat hujan deras mengguyur, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis. Ketika tidak lagi mampu menahan beban, lapisan tersebut runtuh secara tiba-tiba sehingga muncul lubang besar di permukaan tanah yang dikenal sebagai sinkhole.
Daerah Rawan Sinkhole
Fenomena ini relatif sering terjadi di wilayah Indonesia yang memiliki bentang alam karst atau lapisan batugamping tebal. Beberapa daerah yang masuk kategori rawan antara lain di Gunungkidul (DI Yogyakarta), Pacitan (Jawa Timur) dan Maros (Sulawesi Selatan).
Daerah-daerah tersebut secara geologi memiliki lapisan batugamping di bawah permukaan yang mudah larut oleh air.
Tantangan Mitigasi dan Deteksi Dini
Adrin mengakui bahwa tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mengetahui tanda awal kemunculannya. Proses terbentuknya rongga terjadi perlahan dan tidak tampak di permukaan.
Meski demikian, teknologi dapat membantu upaya deteksi dini.
"Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik bisa digunakan untuk memetakan sebaran, ukuran, dan kedalaman rongga bawah tanah. Teknik ini memberi citra bawah permukaan sehingga potensi sinkhole dapat diantisipasi," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Polresta Karawang menangkap tiga pelaku pengoplos LPG subsidi 3 kg. Polisi menyita 245 tabung dan peralatan pemindahan gas.
BIGBANG meluncurkan Official Light Stick Anniversary Edition untuk merayakan 20 tahun debut. Merchandise spesial ini hadir menjelang tur dunia XX: COSMOS yang j
Banyak penumpang kehilangan barang saat pemeriksaan bandara karena melanggar aturan kabin pesawat. Simak daftar barang yang sering disita, mulai dari power bank
Babak semifinal Piala AFF 2026 dipastikan tanpa wajah baru. Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia yang sama-sama pernah juara akan berebut tiket final dala
Mobil lama tidak selalu lebih hemat. Kenali lima tanda kendaraan sudah saatnya diganti, mulai dari biaya perbaikan yang membengkak hingga faktor keselamatan ber
Marc Marquez mengalami akhir pekan terburuknya di MotoGP Inggris 2026. Pebalap Ducati Lenovo kini tertinggal 40 poin dari Jorge Martin dalam klasemen MotoGP 202