Afgan Siapkan 30 Lagu di Konser Retrospektif Jakarta
Afgan menyiapkan 30 lagu hit untuk konser Retrospektif di Jakarta pada Juli 2026, termasuk Terima Kasih Cinta hingga Panah Asmara.
Pakar HI menilai Indonesia perlu waspada terhadap eskalasi geopolitik AS–Venezuela dengan memperkuat kedaulatan energi dan politik bebas aktif. /Thread.
Harianjogja.com, JAKARTA—Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam menekankan pentingnya Indonesia meningkatkan kewaspadaan strategis menyusul eskalasi geopolitik global akibat langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Indonesia perlu memperkuat kedaulatan energi, ketahanan ekonomi, serta konsistensi politik luar negeri bebas aktif agar tidak terseret dalam konflik antar-kekuatan besar. Ketiga aspek tersebut dinilai krusial untuk menjaga stabilitas nasional di tengah meningkatnya rivalitas global.
Venezuela bukan target terakhir dalam rangkaian operasi geopolitik Amerika Serikat. Negara-negara dengan sumber daya strategis dan posisi tawar ekonomi-politik tinggi berpotensi menghadapi tekanan serupa dalam dinamika politik kekuatan global.
"Indonesia harus membaca perkembangan ini dengan jernih. Penguatan kedaulatan energi, ketahanan ekonomi, dan konsistensi politik luar negeri bebas aktif menjadi kunci agar tidak terjebak dalam pusaran konflik kekuatan besar," kata Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam dalam keterangan, Minggu (11/1/2026).
Umam menilai Venezuela bukan target terakhir dalam rangkaian operasi geopolitik dan militer Amerika Serikat. Eskalasi tersebut menandai fase baru politik kekuatan global yang menyasar negara kaya sumber daya strategis yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan Washington.
"Venezuela hanyalah satu bab dalam narasi yang lebih besar. Operasi militer serupa sangat mungkin diarahkan ke negara atau wilayah lain yang memiliki nilai strategis energi dan posisi tawar ekonomi-politik," ujarnya.
Ia menyebut wilayah seperti Greenland, Iran, Kolombia, Chili, serta sejumlah negara Selatan Global memiliki kerentanan serupa karena peran strategisnya bagi kepentingan energi dan ekonomi jangka panjang AS.
Umam menilai langkah Washington juga merupakan demonstrasi kekuatan militer dan politik untuk menegaskan kapasitas koersif global, meskipun pengaruh ekonomi-politik AS dinilai relatif menurun.
Selain itu, operasi tersebut disebut sebagai bagian dari perang psikologis untuk mengirim sinyal bahwa tatanan global masih diharapkan bergerak sesuai kepentingan AS melalui efek gentar dan tekanan geopolitik.
Dia mengingatkan strategi koersif semacam ini berisiko memicu eskalasi konflik lintas kawasan, mendorong perimbangan kekuatan, perlawanan asimetris, atau konsolidasi kekuatan alternatif yang dapat meningkatkan instabilitas keamanan global.
Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan operasi militer di Venezuela bertujuan membatasi pendanaan narkoterorisme serta memberi Washington kendali lebih besar atas sumber daya energi global.
Dalam wawancara dengan Salem News Channel pada Selasa (6/1), Vance menyatakan Amerika Serikat menginginkan yang terbaik bagi rakyat Venezuela dan rakyat AS. "Siapa pun pemimpin negara itu nantinya, dia harus mau bekerja sama dengan Amerika Serikat," katanya.
Vance menambahkan kebijakan Venezuela sebelumnya memungkinkan pesaing asing memperoleh akses energi murah, sementara pendapatannya digunakan untuk mendanai aktivitas yang dinilai mengancam AS.
Kepala negara di negeri Paman Sam itu, Donald Trump juga mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat.
Sebelumnya pada 3 Januari, AS melancarkan serangan besar ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores, untuk dibawa ke New York.
Trump menyatakan Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi kepentingan AS. Penguatan strategi nasional dinilai menjadi langkah penting agar Indonesia tetap aman dan independen di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Afgan menyiapkan 30 lagu hit untuk konser Retrospektif di Jakarta pada Juli 2026, termasuk Terima Kasih Cinta hingga Panah Asmara.
DPRD DIY menyoroti indikator kinerja daerah yang baru 40 persen meski ekonomi DIY tumbuh dan angka kemiskinan menurun.
Maskapai penerbangan Eropa mulai memangkas penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute tidak lagi menguntungkan.
Meta menghadirkan fitur Incognito Chat AI di WhatsApp dengan teknologi Pemrosesan Privat untuk menjaga kerahasiaan percakapan pengguna.
KPK memperpanjang penahanan Bupati nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terkait dugaan korupsi pemerasan OPD.
Mendag Budi Santoso memastikan impor bahan baku plastik berupa nafta dari AS mulai masuk Indonesia pada pertengahan Mei 2026.