Round-up Asian Games 2026: Karate Tambah Perunggu untuk Indonesia
Round-up Asian Games 2026: karate menambah perunggu untuk Indonesia, sementara beregu putra dan putri bulu tangkis lolos ke semifinal.
Siswa Kelas 2 SDN Sinduadi Timur, Dhamar dan Bilal, sedang sedang menikmati makanan program Makan Bergizi Gratis yang digelar di Kalurahan Sinduadi, Depok, Sleman, Senin (13/1/2025). - Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, JAKARTA -Akreditasi dan verifikasi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus keracunan. Hal itu disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto.
“Jangan mudah mengizinkan SPPG yang belum sesuai standar untuk beroperasi agar penerima manfaat tidak dirugikan," kata Edy kepada wartawan di Jakarta, Jumat.
Baca juga: DPRD Cianjur inisiatif undang seluruh pihak antisipasi keracunan MBG
Menurutnya, pembangunan SPPG tidak cukup hanya berfokus target jumlah dapur. Akan tetapi, pembangunan SPPG juga harus memperhatikan kualitas dan keamanan. Ia menyarankan akreditasi dan verifikasi itu dapat dilakukan oleh lembaga independen di luar Badan Gizi Nasional (BGN).
Lebih lanjut, Edy menjelaskan sebagian besar pembangunan dapur MBG diserahkan kepada yayasan masyarakat yang memiliki keterbatasan modal, sehingga dapur yang dibangun belum sesuai standar.
Ia juga mengusulkan pemberian pinjaman lunak untuk membantu yayasan mendirikan SPPG yang sesuai ketentuan.
“Pembenahan dari hulu ini penting, karena membangun SPPG bukan hanya mendirikan bangunan saja. Dengan adanya standar, harapannya dapat mengurangi adanya cemaran yang masuk dalam makanan,” ujarnya.
BACA JUGA: JPPI Sebut 5.360 Siswa Keracunan MBG hingga September 2025
Selain BGN, Edy juga meminta BPOM dan Dinas Kesehatan daerah memperkuat pengawasan dan melakukan monitoring secara rutin.
“Keselamatan penerima manfaat MBG jauh lebih penting daripada sekadar mengejar target pembangunan dapur atau angka serapan anggaran,” ujar Edy.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional menyatakan saat ini terdapat 8.018 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk melayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah beroperasi di seluruh Indonesia, dengan anggaran terserap sebesar Rp15,7 triliun.
"Hari ini tercatat ada 8.018 SPPG yang sudah beroperasi. Ini bertambah kurang lebih 565 dibandingkan tanggal 8 September minggu lalu, dan sudah mencakup 38 provinsi di 509 kabupaten, serta 7.022 kecamatan," kata Kepala BGN Dadan Hindayana dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin (15/9).
Dadan mengemukakan SPPG menjadi instrumen penting penyerapan anggaran, karena setiap SPPG dapat menyerap anggaran sekitar Rp900 juta hingga Rp1 miliar per bulan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Round-up Asian Games 2026: karate menambah perunggu untuk Indonesia, sementara beregu putra dan putri bulu tangkis lolos ke semifinal.
Kemenhaj mempertimbangkan maskapai alternatif untuk menekan biaya haji 2027. Biaya penerbangan mencapai 40% dari total BPIH.
Direktur BYAN Alastair McLeod menjual 185.200 saham senilai Rp2,47 miliar menjelang rencana masuknya Jhonlin Group sebagai pemegang 30% BYAN.
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga lebat di sejumlah daerah Rabu. Gelombang hingga 4 meter juga berpotensi terjadi di sejumlah perairan.
Harga emas Pegadaian hari ini, Rabu 23 September 2026, kompak turun untuk Antam, Galeri 24 dan UBS. Simak harga jual dan buyback.
Gerakan Tanam Pertanian Modern Pekalongan baru mencapai 32,5 hektare dari target 2.612 hektare hingga 22 September 2026.