Barantin Kerahkan Satgas 24 Jam Awasi Hewan Kurban
Barantin membentuk satgas 24 jam untuk mengawasi hewan kurban jelang Idul Adha 2026 dan memastikan lalu lintas ternak aman.
Investasi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani memaparkan tiga faktor yang bisa membuat ekonomi Indonesia bertumbuh lebih tinggi dari proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF).
Ekonom yang menjabat sebagai Kepala Departemen Riset Industri dan Regional (Department Head of Industry and Regional Research) Bank Mandiri itu dalam keterangan yang diterima di Jakarta Jumat menyebutkan, Indonesia mempunyai potensi lebih besar dan berpeluang naik peringkat dari proyeksi IMF.
Hal itu karena, pertama, modal peningkatan konsumsi dengan jumlah penduduk usia produktif di Indonesia yang besar dan lebih banyak dari pada usia tidak produktif.
IMF sebelumnya menyebutkan Indonesia diproyeksikan menjadi peringkat ke-7 dunia untuk negara dengan PDB terbesar yang disesuaikan dengan paritas daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP).
“Penduduk usia produktif ini adalah kekuatan yang sangat potensial mendorong pertumbuhan ekonomi, dikombinasikan dengan kekuatan modal dan teknologi,” kata dia.
Dendi menilai bahwa penduduk usia produktif merupakan kekuatan konsumsi yang harus dijaga dari sisi daya beli dan belanja, sehingga permintaan barang dan jasa dapat meningkat, kemudian dapat menggerakkan sisi produksi.
Adapun, menurut IMF, Indonesia diproyeksikan memiliki PDB pada 2025 menurut PPP sebesar 4,98 triliun dolar AS atau peringkat tujuh dunia setelah China, Amerika Serikat, India, Rusia, Jepang, dan Jerman.
Faktor kedua agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi, kata Dendi, adalah optimalisasi sumber daya alam di sektor energi, tambang, perkebunan, pertanian hingga perikanan.
Ia menyampaikan bahwa sumber daya alam itu adalah kekuatan untuk menjadi sumber daya pembangunan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Faktor ketiga menurut Dendi, ialah kualitas institusi dan tata kelola (governance) pemerintahan yang masih memiliki banyak peluang untuk mengalami perbaikan.
“Yang selanjutnya bisa berdampak pada penciptaan iklim investasi dan bisnis yang kondusif untuk mendorong aktivitas investasi dan bisnis,” katanya.
Ia menyebut jika institusi dan governance pemerintahan lebih baik, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia dipastikan akan tumbuh lebih tinggi lagi sesuai target Presiden RI Prabowo Subianto yakni hingga 8 persen. “Dalam situasi kualitas institusi dan governance yang belum baik saja Indonesia bisa tumbuh 5 persenan,” ujarnya.
Dendi memaparkan bahwa periode pemerintahan Prabowo dan kondisi 15-20 tahun ke depan, menjadi kunci bagi Indonesia untuk bisa tumbuh lebih tinggi dan masuk menjadi negara maju.
“Dalam periode 15-20 tahun ke depan, Indonesia perlu mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi, percepatan peningkatan kualitas SDM, kualitas adopsi dan pengembangan teknologi, dan peningkatan kualitas institusi,” kata dia.
Menurut Dendi, percepatan ini perlu dilakukan karena setelah 20 tahun ke depan, penduduk Indonesia yang sekarang masuk usia produktif, sudah mulai menua. "Kondisi ini jelas akan berisiko karena Indonesia bisa terjebak masuk ke dalam middle income trap," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Barantin membentuk satgas 24 jam untuk mengawasi hewan kurban jelang Idul Adha 2026 dan memastikan lalu lintas ternak aman.
PDAM Sleman petakan wilayah rawan air saat kemarau 2026. Godean hingga Pakem berpotensi alami tekanan rendah.
9 WNI relawan Gaza dibebaskan dari Israel. Pemerintah pastikan mereka dalam perjalanan pulang ke Indonesia.
Polres Bantul sita 256 botol miras ilegal dari tiga lokasi. Tiga pelaku diamankan dalam operasi dua hari.
Satgas PASTI hentikan CANTVR dan YUDIA. Modus investasi bodong dan kerja paruh waktu, masyarakat diminta waspada.
Kemendag minta UMKM laporkan pungli dan gangguan usaha. Pemerintah janji lindungi pelaku usaha kecil.