BLT Kesra Rp900 Ribu Cair, Ini Cara Cek Lewat HP
BLT Kesra Rp900 ribu untuk tiga bulan mulai dicairkan. Penerima dapat mengecek status bantuan melalui HP via situs Kemensos atau aplikasi Cek Bansos.
Ilustrasi gurun pasir./JIBI
Harianjogja.com, JAKARTA—Kejadian langka muncul di gurun Sahara. Di salah satu wilayah terkering di dunia tersebut mendadak terjadi hujan besar dan banjir yang tidak biasa.
Dilansir dari livescience, tidak jelas mengapa gurun ini mengalami begitu banyak hujan, tetapi hal ini mungkin ada hubungannya dengan musim badai Atlantik yang sangat tenang.
Hujan yang turun sangat deras sehingga beberapa daerah yang biasanya kering di Afrika Utara kini mengalami musim hujan dan banjir, dengan sebagian Sahara diperkirakan mengalami curah hujan lima kali lipat dari rata-rata curah hujan September.
Curah hujan di Sahara secara keseluruhan bukanlah hal yang jarang terjadi wilayah ini sangat luas dan beragam, dan beberapa bagian sering menerima sedikit hujan, kata Moshe Armon, ilmuwan atmosfer di Federal Technical University (ETH) Zürich, dilansir dari livescience.
Namun, kini sebagian besar wilayah Sahara terendam banjir, termasuk wilayah utara yang biasanya lebih kering, tambah Armon. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa ini adalah bagian dari fluktuasi iklim alami bumi, sementara yang lain berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Pergeseran iklim di Sahara mungkin berhubungan dengan lemahnya musim badai Atlantik. Musim badai tahun ini sejauh ini tenang, meskipun ada prediksi di awal musim panas akan terjadi aktivitas badai parah akibat suhu laut yang tinggi.
Lebih dari separuh badai yang disebutkan dan 80%-85% badai besar di Atlantik setiap tahun biasanya datang dari wilayah selatan Sahara, kata Jason Dunion, ahli meteorologi di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Namun, puncak musim badai Atlantik biasanya terjadi pada pertengahan September, jadi jeda musim ini tidak berarti badai Atlantik yang parah dan berbahaya tidak dapat terjadi lagi.
BACA JUGA: Peneliti: Perubahan Iklim Berdampak pada Peningkatan Suhu Dingin Saat Malam Hari di Indonesia
Sementara itu, curah hujan yang luar biasa tinggi di Sahara mungkin juga disebabkan oleh suhu air yang lebih hangat dari biasanya di Samudra Atlantik Utara dan Laut Mediterania.
Jika salah satu dari peristiwa curah hujan langka ini terjadi, dan sistem cuaca terjadi di lautan atau daratan yang jauh lebih hangat, kemungkinan terjadinya curah hujan lebat akan meningkat. Sahara bisa terus mengalami kondisi yang lebih basah di masa depan.
Aktivitas manusia, khususnya emisi gas rumah kaca, mendorong lautan menyerap lebih banyak panas. Beberapa model iklim memperkirakan lautan yang lebih hangat akan menggeser hujan monsun lebih jauh ke utara di Afrika pada tahun 2100 yang berarti lebih banyak hujan akan turun di wilayah yang biasanya lebih kering.
Model iklim juga memperkirakan peningkatan emisi gas rumah kaca dapat membuat Sahara semakin banyak hujan di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JiBI/Bisnis.com
BLT Kesra Rp900 ribu untuk tiga bulan mulai dicairkan. Penerima dapat mengecek status bantuan melalui HP via situs Kemensos atau aplikasi Cek Bansos.
AHY memastikan penyesuaian tarif tiket pesawat dilakukan terukur di tengah kenaikan harga energi dunia akibat konflik Timur Tengah.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.