Bea Keluar Emas Nyaris Nol, Purbaya Ungkap Modus Eksportir
Purbaya menyebut penerimaan bea keluar emas nyaris nol. Dari target Rp3 triliun 2026, realisasi hingga Semester I baru 0,03%.
Budaya senior Butet Kartaredjasa (tengah), Rabu (7/6/2023), menyebut Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri (kanan) tak egois sebab tak memaksakan putrinya, Puan Maharani, untuk maju jadi calon presiden (capres) pada Pilpres 2024./Dok. PDIP
Harianjogja.com, JAKARTA—Budayawan senior Butet Kartaredjasa menebar pujian kepada Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri yang dinilai tidak egois untuk memaksakan putrinya, Puan Maharani, sebagai Capres di Pilpres 2024. Butet memuji sebagai sosok negarawan yang bukan transaksional.
Butet hadir di rapat kerja nasional (rakernas) III PDIP. Dia pun menyampaikan sepatah dua kata di hadapan para elite PDIP, seperti Megawati, Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Puan Maharani, Ketua DPP Prananda Prabowo, Bendahara Umum Olly Dondokambey, Ketua DPP Eriko Sotarduga, Ketua DPP Said Abdullah, Ketua DPP Nusyirwan Soejono, dan Sekretaris Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Rano Karno.
BACA JUGA : Butet: Pekerja Seni Butuh Perlindungan Jaminan Sosial
"Tahun ini kalau saja, masih juga egosentris dan belum level makrifat, tentu Mbak Puan yang dipaksakan [jadi capres PDIP oleh Megawati]. Tapi, akhirnya kemarin kita lihat tanggal 21 April itu, Ganjar yang ditugasi oleh Ibu Megawati untuk menjadi Presiden Republik Indonesia berikutnya," kata Butet dalam sela-sela Rakernas III PDIP di Sekolah Partai DPP PDIP, Jakarta Selatan, Rabu (7/6/2023).
Oleh sebab itu, dia menilai Megawati sudah tak berada pada tataran politisi pada umumnya. Menurutnya, Presiden ke-5 itu sudah berada di level negarawan bukan transaksional lagi. "Kayaknya ini bukan sekadar politisi Ibu Megawati ini. Tapi, sudah makrifat politik. Makrifat politik itu levelnya negarawan kira-kira begitu," pujinya.
Tak hanya jelang Pilpres 2024, Butet juga mencontohkan keputusan yang tak egois Megawati jelang Pilpres 2014. Saat itu, lanjutnya, Megawati memilih mengusung Joko Widodo (Jokowi) jadi capres PDIP daripada dirinya sendiri.
"Tahun 2014 misalnya, kalau saja Ibu Megawati ini memanjakan ego politiknya, saat itu Ibu maju sendiri itu jadi presiden. Tapi tidak, Ibu menugasi Pak Jokowi sebagai kadernya," ungkapnya.
BACA JUGA : Ganjar Melepas Rindu dengan Butet Kartaredjasa
Butet mengaku banyak dibantu oleh Megawati ketika mengalami kesulitan. Dia juga mengatakan Megawati sempat memberinya sebuah anggrek putih untuk menemani selama proses penyembuhan diri dari sakitnya.
Meski demikian, Megawati merasa canggung apabila bantuannya malah diketahui oleh banyak. Padahal lanjutnya, pertolongannya dilakukan secara tulus.
"Saya merasa malah jadi malu, karena mestinya jangan diomongkan, karena saya ikhlas kok Mas," ungkap Megawati pada kesempatan yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Purbaya menyebut penerimaan bea keluar emas nyaris nol. Dari target Rp3 triliun 2026, realisasi hingga Semester I baru 0,03%.
FAM meminta FIFA menjelaskan perubahan injury time Indonesia vs Bangladesh dari dua menjadi tujuh menit dalam FIFA ASEAN Cup 2026.
DPD PDI Perjuangan DIY menggelar tahlil dan doa bersama untuk memperingati tujuh hari wafatnya Muhammad Guruh Soekarnoputra di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY
Daftar 30 kereta ekonomi New Generation Oktober 2026, terdiri dari rangkaian modifikasi dan Stainless Steel New Generation.
Portugal menang 4-2 atas Denmark di Nations League tanpa Cristiano Ronaldo. João Félix menjadi penentu kemenangan pada menit ke-87.
Bonceng penumpang dengan motor sport perlu persiapan. Cek kondisi motor, posisi penumpang, tekanan ban, hingga cara mengerem.