Seragam Baru Jukir Solo Dikritik, Wali Kota Singgung QRIS
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
Para pendaki Gunung Lawu. Mendaki gunung butuh tips tertentu agar aman./Harian Jogja-M136-Daffa Firdaus Najati
Harianjogja.com, KARANGANYAR—Bagi pencinta gunung yang hendak mendaki Gunung Lawu, ada beberapa larangan yang perlu diperhatikan.
Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini memiliki beragam larangan bagi masyarakat yang hendak mendaki gunung ini.
Salah satu larangannya adalah pendaki diimbau tidak mengenakan pakaian atau pun batik bermotif mrutu sewu.
Titis Sri Jawoto, Kepala Dispapora Karanganyar 2020 mengatakan motif mrutu sewu ini akan terlihat samar saat berada di antara pepohonan.
BACA JUGA: Pria Prambanan Sleman Ini Jadikan Larva Lalat Hitam Jadi Sumber Penghasilan
“tu menurut filosofi tradisional. Sebenarnya kalau soal percaya tidak percaya, tapi kalau secara logika misalnya tidak boleh pakai motif mrutu sewu. Itu nanti kalau dia agak jauh dari teman-temannya enggak bisa kelihatan. Secara logika masuk akal. Ya ada yang percaya kalau itu enggak bagus untuk naik gunung,” ujar pria yang kini menjabat sebagai Asisten II Sekda Kabupaten Karanganyar kepada Solopos.com-jaringan Harianjogja.com, 2020 silam.
Motif mrutu sewu ini identik dengan warna hitam putih dengan corak yang begitu khas. Selain mrutu sewu, pendaki Gunung Lawu juga dilarang menganakan pakaian atau atribut berwarna hijau pupus.
Hal ini dikarenakan warna hijau pupus menyerupai dedaunan. “Tetapi sebetulnya bisa dinalar kok. Kalau pakai atribut, pakaian warna hijau pupus menyerupai dedaunan maka saat terpisah dari rombongan akan susah ditemukan. Ijo pupus itu kan warna alam,” beber Korlap Bidang Destinasi Dispapora Karanganyar, Nardi.
Namun, larangan ini ternyata justru pernah dilakukan oleh seorang netizen yang mengaku pernah mendaki Gunung Lawu dengan pakaian serba hijau. Bahkan, tenda yang ia gunakan juga berwarna hijau.
Netizen yang berkomentar di unggahan pengelola akun Facebook Pendaki Cantik itu mengaku tak ada masalah apa pun ketika mendaki gunung setinggi 3.265 mdpl.
“Saya ini ke Lawu pakai jaket hijau, tenda warna hijau iya ga ada apa2, tapi saya tanyakan ke warga sekitar katanya boleh pakai pakaian warna ijo, asal bukan yang berbahan sutra. Saya sendiri sih ngga tau alasannya yang penting kita menghargai kepercayaan warga sana. Semua itu tergantung diri kita sendiri, kalau kitanya ngga sopan atau sompral ya bisa saja celaka, yang penting kita naik gunung dengan niat yang baik & sopan dan tidak buang sampah sembarangan,” jelasnya.
Artikel ini telah tayang di Solopos.com berjudul “Naik Gunung Lawu Dilarang Kenakan Pakaian Mrutu Sewu, Apa Itu?"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos.com
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat 246 ribu penumpang KAJJ selama libur Kenaikan Yesus Kristus, naik 189 persen dari pekan sebelumnya.
Disdik Sleman mulai adaptasi penerapan Bahasa Inggris di SD menjelang kebijakan wajib nasional pada tahun ajaran 2027/2028.
Persib Bandung memastikan seluruh pemain dan ofisial aman usai diduga mendapat serangan oknum suporter setelah laga kontra PSM Makassar.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.