Rekor Asia, Turnamen Padel Internasional di Jogja Diikuti 200 Atlet
Turnamen padel internasional FIP Bronze di Jogja diserbu lebih dari 200 peserta dan dorong sport tourism DIY.
Diskusi terkait vaksinasi untuk anak usia 6-11 tahun secara daring, Senin (20/12/2021). /Ist-KCPEN.
Harianjogja.com, JAKARTA--Pakar Imuniasi yang juga Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Profesor Sri Rezeki Hadinegoro menyatakan pentingnya anaka usia 6-11 diberikan vaksinasi Covid-19. Salah satu pertimbangannya agar anak tidak menularkan Covid-19 kepada lansia yang tergolong paling rentan.
Berdasarkan kasus sebelumnya jumlah anak usia 6-11 yang terinfeksi virus corona tergolong kecil dibandingkan usia dewasa. Selain itu gejalanya cenderung ringan, namun cukup berbahaya ketika menginfeksi anak dengan komorbis seperti asma dan diabetes.
BACA JUGA : Dinkes Gunungkidul Koordinasi Vaksin Covid-19 untuk Anak
Sri menegaskan meski gejala klinis Covid-19 pada anak cenderung ringan, namun bisa menularkan virus ke orang sekitarnya, terutama pada lansia yang belum mendapatkan vaksinasi. “Jadi vaksinasi pada anak ada keuntungan untuk diri sendiri dan orang lain. Apalagi anak-anak bersiap PTM, maka vaksinasi perlu dilakukan. Anak-anak ini harus imun supaya tidak tular-menular,” ujarnya dalam Dialog Produktif sebagaimana dirilis Bidang Media KPCPEN, Senin (20/12/2021).
Terkait lokasi vaksinasi, ia lebih menyarankan di sekolah sebagaimana program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) yang biasa dilaksanakan pada Oktober-November karena pertimbangan kondisi psikologis anak. Vaksinasi di sekolah suasananya sangat berbeda dengan di rumah sakit atau klinik. Akan tetapi sekolah harus menyediakan sarana emergensi seperti oksigen, infus serta guru UKS untuk mengantisipasi ada yang sakit.
“Kalau di sekolah anak-anak disuntik memungkinkan tidak menangis, anak akan malu jika menangis. Selain itu ada guru yang sudah dikenal, ayah ibunya bisa menunggu. Bisa diatur kedatangannya, sehingga tidak bergerombol,” ujarnya.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Maxi Rein Rondonuwu mengatakan orang tua perlu memahami tujuan vaksinasi untuk mencegah masuknya virus. Banyak penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, harapannya dapat mencegah angka kematian. Vaksinasi anak dilakukan di sejumlah fasilitas layanan kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit, juga sejumlah sentra vaksinasi termasuk sekolah.
“Justru diharapkan bisa dilakukan vaksinasi di sekolah, dalam hal ini Kemenkes bekerja sama dengan Kemendikbud. Serta dengan Kemenag, untuk sekolah berbasis keagamaan dan yayasan-yayasan,” ujarnya.
BACA JUGA : 26,5 Juta Anak Usia 6-11 Jadi Target Vaksinasi Covid-19
Vaksinasi di sekolah bisa menghadirkan orang tua agar bisa menyaksikan. Nantinya anak-anak yang sudah divaksin bisa menjelaskan ke anak lain. “Demikian juga orang tua yang anaknya sudah divaksin, bisa berbagi dengan orang tua lain yang anaknya belum divaksin,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Turnamen padel internasional FIP Bronze di Jogja diserbu lebih dari 200 peserta dan dorong sport tourism DIY.
Ledakan tambang batu bara di Shanxi, China, menewaskan 82 pekerja. Operasi penyelamatan masih berlangsung hingga Sabtu.
PLN mengungkap kronologi blackout Sumatra yang dipicu gangguan transmisi di Jambi akibat cuaca buruk pada Jumat malam.
PSIM Jogja memperpanjang kontrak Jean-Paul Van Gastel karena dinilai sukses membangun filosofi permainan dan fondasi tim.
Prabowo memperluas proyek tambak produktif di Waingapu, Gorontalo, dan Pantura untuk memperkuat pangan dan membuka lapangan kerja.
Blackout Sumatera dipicu cuaca buruk. PLN bergerak cepat memulihkan sistem kelistrikan dan mengerahkan ratusan personel.