Pemain PSIM Asal Argentina Pulga Vidal Rayakan Natal di Jogja
Pulga Vidal merayakan Natal 2025 di Yogyakarta bersama keluarga. Pemain PSIM itu tetap menjaga profesionalisme meski libur Natal.
Tangkapan layar- Ilustrasi Virus Corona varian Omicron. JIBI/Bisnis-Nancy Junita
Harianjogja.com, JAKARTA - Varian omicron dinyatakan sudah masuk dan menginfeksi pasien di Indonesia. Hal itu membuat banyak orang khawatir. Banyak juga yang masih belum paham soal bagaimana cara mendeteksi virus varian terbaru tersebut.
Ahli Patologi Klinis Tonang Dwi Ardyanto mengatakan tes PCR bisa mendeteksi kalau seseorang terkonfirmasi covid. Termasuk bila benar itu terjadi karena Omicron. Tapi PCR tidak bisa mengatakan itu varian yang mana.
Karena itu, setelah terbukti positif covid, dilanjutkan tes namanya Whole Genome Sequencing (WGS). Tes ini merekam urutan gen virus yang ditemukan. Dari sana baru tahu apa varian virus covidnya.
Sementara itu, katanya untuk SGTF (S Gen Target Failure) merupakan skrinning. Jadi kalau ketemu target gen lain (misalnya N, E, RdRp, Orf, Helicase) tapi kok tidak ketemu S, maka curiga ada varian.
"Itupun bisa saja varian lain. Untuk memastikan tetap dengan WGS tadi. Hanya SGTF itu cepat hasilnya, bisa 24 jam ketahuan, atau bahkan kurang. Kalau WGS itu bisa 5-7 hari baru dapat dipastikan. Maka skrinning dulu agar bisa tindak lanjut sambil menunggu WGS," paparnya dikutip dari akun facebooknya.
Baca juga: Di Hadapan Hakim, Nia Ramadhani Nangis Ingat Omongan Anak
Dia juga mengatakan tidak semua reagen PCR bisa SGTF. Hanya reagen yang kebetulan pas titik tangkapnya di tempat yang terjadi mutasi. Dalam hal Omicron, ada beberapa reagen yang sudah dibuktikan mampu SGTF untuk Omicron. Maka Kemenkes memberikan reagen tersebut ke lab-lab tertentu untuk menyaring. Jadi tidak semua lab PCR bisa melakukan SFTF itu.
Adapun, lanjutnya, kriteria reagen itu bisa SGTF karena sudah dikalibrasi lembaga berwenang. Setelah diterima lab, masih dilakukan optimasi lagi. Agar yakin bahwa reagen bekerja benar-benar sesuai dengan petunjuk penggunaannya. Maka biaya lab itu termasuk harus mengoptimasi tersebut. Tidak semua reagen benar-benar untuk pemeriksaan pasien.
"Ibaratnya terima bahan dan resep membuat roti, maka belum tentu kompor, blender, oven kita benar-benar memberi hasil yang sama walau sudah sesuai petunjuk resep dan cara masaknya. Harus dicoba dulu, dicari yang optimal dulu, agar benar-benar hasilnya sesuai harapan," tambahnya.
5 Reagen itu juga belum tentu omicron. Tapi istilahnya masih probable istilahnya. WGS yang akan memastikannya.
Jika di laboratorium tersebut tidak ada SGTF maka ada beberapa indikasi yang bisa menjadi alasan perlu dilakukan WGS walau tidak melewati proses SGTF.
Misalnya ketemu kasus dengan jumlah virus tinggi. Atau dengan riwayat perjalanan dari daerah atau negara dengan laporan kasus Omicron. Atau kondisinya dengan imunitas tertekan, seperti penderita HIV atau TBC Kronis.
"Yang pentung saat ini harus sadar diri, sadar situasi. Baru menyebar Omicron, varian baru, harus lebih ketat dan disiplin protkesnya. Sebisa mungkin jangan bepergian, kecuali terpaksa karena tugas misalnya," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Pulga Vidal merayakan Natal 2025 di Yogyakarta bersama keluarga. Pemain PSIM itu tetap menjaga profesionalisme meski libur Natal.
MUI menilai penggunaan APBN untuk pengadaan sapi kurban Presiden sah secara syariat karena termasuk bantuan sosial untuk masyarakat.
Menag Nasaruddin Umar menyebut Iduladha 1447 H menjadi momentum berbagi agar seluruh masyarakat bisa menikmati gizi hewani.
Belanda resmi merilis 26 pemain untuk Piala Dunia 2026. Virgil van Dijk jadi kapten, Memphis Depay masuk skuad.
Kelurahan Giwangan melatih warga mengolah sampah organik dengan biopori jumbo untuk mendukung program Mas Jos Kota Jogja.
Seskab Teddy Indra Wijaya membeli 35 sapi jumbo dari peternak Boyolali untuk kebutuhan kurban Iduladha 1447 Hijriah.