Sragen Disebut Saudara Tua DIY, Ini Jejak Sejarahnya
Sragen disebut saudara tua DIY karena jejak Pangeran Mangkubumi. Muhibah Budaya 2026 perkuat koneksi sejarah dan budaya Mataram.
Pengemudi becak melintasi jalur khusus sepeda di jalan Bhayangkara, Solo, Jawa Tengah, Rabu (20/1/2021). Pemerintah Kota Solo merevitalisasi jalur khusus sepeda sepanjang 25 kilometer dengan anggaran Rp1 miliar dari Kementerian Perhubungan./Antara-Mohammad Ayudha.
Harianjogja.com, SOLO - Solo memperoleh predikat kota paling nyaman alias layak huni di Indonesia. Sementara, Jogja dinilai kalah nyaman karena lebih macet.
Predikat tersebut diberikan oleh Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Indonesia. Hasil survei di 26 kota yang tersebar di 19 provinsi menempatkan Solo di posisi pertama sebagai kota dengan nilai indeks layak huni sebesar 66,9 persen.
BACA JUGA: Minibus Tersesat di Hutan Majalengka, Begini Nasib Tujuh Penumpangnya
Ketua Kompartemen Livable City IAP Elkana Catur mengatakan Solo terpilih menjadi kota yang memiliki nilai paling tinggi dan konsisten menjadi kota yang layak huni dan paling nyaman di Indonesia.
Nilai yang diperoleh Solo, sebesar 66,9 persen itu menjadi yang terbaik mengungguli nilai kota-kota besar lainnya, seperti Palembang 66,6 persen, Balikpapan 65,8 persen dan Denpasar 65,5 persen. Kemudian, ada Semarang 65,4 persen, Tangerang Selatan 65,4 persen, dan Banjarmasin 65,1 persen.
"Solo dan Balikpapan adalah kota yang konsisten sebagai Top Cities. Kota Solo adalah kota yang memiliki indeks tertinggi disusul dengan Balikpapan dan kota lainnya,” kata Elkana, sebagaimana diberitakan dalam situs resmi Pemprov Jateng.
Dalam survei ini, IAP menilai dari lima aspek saat menentukan kota layak huni di Indonesia. Beberapa di antaranya, pengelolaan air bersih, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas keagamaan, dan fasilitas transportasi.
Dengan predikat sebagai kota paling nyaman di Indonesia, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo pun mengaku bangga.
Menurut pria yang biasa disapa Rudy ini, capaian yang diperoleh Solo ini karena masyarakat Kota Bengawan yang saling menghargai di tengah perbedaan.
"Mampu saling menghormati dan menghargai. Tidak memandang suku, agama dan juga ras,” jelas Rudy.
BACA JUGA: Gunung Sinabung Erupsi, Luncurkan Awan Panas Sejauh 2 Kilometer
Rudy juga mengatakan pemerintah akan terus menata kota agar masyarakat Kota Solo dan pendatang nyaman dan betah di kota ini.
Pakar Tata Ruang Kota Universitas Sebelas Maret UNS Solo, Kusumastuti, mengatakan predikat yang didapat dari IAP Indonesia sebagai Kota Layak Huni dengan indeks tinggi memberi arti Solo dinilai sebagai kota yang nyaman untuk ditinggali. Hal itu juga mengartikan Solo memiliki suasana yang nyaman untuk bekerja yang didukung oleh faktor fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Pada 2018 silam, Kusumastuti juga menanggapi beberapa anggapan masyarakat yang kerap membandingkan Jogja dan Solo dari segi kenyamanan. Ia menilai Jogja cenderung lebih macet karena kepadatan penduduknya.
Tapi di sisi lain, ia menilai tingkat partisipasi masyarakat di Jogja lebih baik. Nilai plus Jogja lainnya adalah interaksi masyarakat yang lebih ramah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Sragen disebut saudara tua DIY karena jejak Pangeran Mangkubumi. Muhibah Budaya 2026 perkuat koneksi sejarah dan budaya Mataram.
Pemkab Sleman genjot Beasiswa Sleman Pintar untuk wujudkan satu sarjana per keluarga miskin dan putus rantai kemiskinan.
JNE jadi Official Logistics Partner Prambanan Jazz 2026, memastikan distribusi teknis konser berjalan lancar dan tanpa hambatan.
KPK tegaskan pengembalian amplop oleh Menhut tidak menghapus pidana, penyidikan dugaan suap kawasan hutan Kuansing terus berjalan.
Konser Slank di Bandung hadirkan nostalgia dan dorong musisi lokal serta ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Danais DIY bangun 146,3 km jalan desa dan rehab ratusan RTLH, dorong ekonomi serta pemberdayaan masyarakat lokal.