Puncak Haji 2026 Dimulai, Ini Jadwal dan Tahapan Armuzna
Puncak haji 2026 segera dimulai. Simak jadwal Armuzna, tahapan wukuf di Arafah, dan tips persiapan jemaah haji.
Pegawai melintasi logo BPJS Ketenagakerjaan di Kantor Cabang BP Jamsostek di Menara Jamsostek, Jakarta, Jumat (10/7/2020)./JIBI-Bisnis.com-Eusebio Chrysnamurti
Harianjogja.com, JAKARTA — Tingkat kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan belum terlalu tinggi di tengahtekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Saat ini masih terdapat 45,15% pekerja yang belum terproteksi oleh jaminan sosial ketenagakerjaan.
Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dari unsur ahli Iene Muliati menjelaskan bahwa pada Mei 2020, terdapat 90,9 juta tenaga kerja di Indonesia. Dari jumlah tersebut, baru 49,86 juta atau 54,85 persen di antaranya yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek.
Menurut Iene, dalam kondisi normal tingkat kepesertaan BP Jamsostek masih perlu ditingkatkan. Hal tersebut menjadi lebih krusial pada masa pandemi Covid-19 yang mengancam kondisi finansial dan kesehatan para pekerja.
Meskipun begitu, saat ini terdapat penurunan jumlah kepesertaan aktif dari badan tersebut. Ine memaparkan data BP Jamsostek bahwa terdapat penurunan peserta di seluruh program, khususnya Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKm).
Pada Januari 2020, total peserta JKK dan JKm tercatat sebanyak 33,2 juta yang terdiri dari 19,94 juta peserta penerima upah (PU), 2,77 juta bukan penerima upah (BPU) atau peserta mandiri, dan 10,51 juta pekerja jasa kontruksi (jakon).
Jumlah peserta JKK dan JKm menurun pada Juni 2020, saat pandemi Covid-19 sudah melanda selama empat bulan, menjadi 28,7 juta. Semua segmen pekerja mengalami penurunan jumlah peserta aktif, yakni 19,17 juta PU, 2,15 juta BPU, dan 7,42 juta jakon.
Penurunan jumlah peserta aktif pun terjadi di program Jaminan Hari Tua (JHT) yang pada Januari 2020 totalnya mencapai 16,2 juta, terdiri dari 15,99 juta PU dan 0,22 juta BPU. Pada Juni 2020, totalnya turun menjadi 15,8 juta yang terdiri dari 15,57 juta PU dan 0,19 juta BPU.
Kondisi serupa pun terjadi di program Jaminan Pensiun (JP) yang seluruhnya merupakan peserta PU. Pada Januari 2020, jumlah peserta aktif program itu mencapai 12,95 juta dan pada Juni 2020 menjadi 12,63 juta.
"Kondisi normal saja begitu [jumlah peserta BP Jamsostek masih 54,85 persen dari total tenaga kerja], bagaimana dengan adanya pandemi ini. Jumlah peserta aktif pun tercatat turun," ujar Iene pada Rabu (26/8/2020).
Penurunan jumlah peserta aktif itu beriringan dengan meningkatnya klaim program JHT. Pada Januari 2020, total klaim tercatat sebanyak 217.196 pengajuan dan pada Juni 2020 menjadi 284.488 pengajuan.
Menurut Iene, hal tersebut peningkatan pengajuan klaim itu menunjukkan adanya kebutuhan dana para pekerja dan berkaitan dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak dari penyebaran virus corona. Oleh karena itu, tingkat kepesertaan harus menjadi perhatian BPJAMSOSTEK dan pemerintah.
Hal tersebut menurutnya menjadi penting karena BP Jamsostek sebagai bagian dari Sistem Jaminan Sosial (SJSN) harus dapat memastikan perlindungan masyarakat, terlebih dalam kondisi krisis seperti saat ini.
Hal itu pun sejalan dengan amanat Undang-Undang 40/2004 tentang SJSN, yakni setiap orang berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Puncak haji 2026 segera dimulai. Simak jadwal Armuzna, tahapan wukuf di Arafah, dan tips persiapan jemaah haji.
Gets Premiere Yogyakarta menggelar Mini Wedding Showcase dengan konsep pernikahan elegan, intim, dan promo menarik bagi calon pengantin.
PHE ONWJ menyisir perairan Karawang usai dugaan kebocoran pipa gas. Hasil pemeriksaan menunjukkan fasilitas operasi tetap aman dan normal.
Koperasi Merah Putih di DIY berkembang sesuai kebutuhan warga, mulai dari distribusi pupuk hingga pemasok sembako dan UMKM.
Munja menargetkan ekspor kendaraan pemadam kebakaran mulai 2027 setelah menguasai 35% pasar domestik dan membidik pangsa pasar 70%.
DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta melantik pengurus Baguna periode 2025-2030 sekaligus menggelar simulasi penyelamatan korban bencana di Sungai Gajahwong.