Dipakai 1,5 Miliar Pengguna, Tik Tok Jadi yang Terpopuler setelah Whatsapp & Messenger
Pengguna aplikasi digital Tik Tok menembus angka 1,5 miliar. Tik Tok menjadi aplikasi non-game terpopuler di dunia setelah Whatsapp dan Messenger.
Rekonstruksi penguin purba oleh Museum Canterbury (BBC)
Harianjogja.com, WELLINGTON – Leigh Love, ahli paleontologi [ahli fosil hewan dan tumbuhan] amatir di Waipara Greensand, Selandia Baru menemukan fosil kaki penguin dengan panjang sekitar 1,6 meter dan berat 80 kilogram. Fosil penguin raksasa tersebut diperkirakan hidup pada zaman Paleosen, sekitar 56-66 juta tahun yang lalu.
Dilansir Science Alert, Kamis (15/8/2019), fosil tersebut diidentifikasi sebagai penguin spesies baru oleh tim peneliti dari Museum Canterbury di Christchurch dan Museum Senckenberg di Frankfurt, Selandia Baru. Penemuan fosil penguin raksasa yang diberi nama Crossvallia Waiparensis ini menjadi kabar gembira bagi para ahli paleontologi. Sebab, mereka menemukan salah satu spesies penguin terbesar yang pernah ditemukan.
“Ini [fosil kaki penguin] adalah salah satu spesies penguin terbesar yang pernah ditemukan di perairan Bumi bagian selatan,” ungkap Paul Scofield, Kepala Senior Museum Canterbury, Selandia Baru seperti dikabarkan BBC.
Paul Scofield mperkirakan penguin berevolusi hingga ukurannya sebesar itu karena punahnya reptil besar laut bersamaan dengan dinosaurus. Penguin raksasa itu kemudian hidup sekitar 30 juta tahun.
“Kami pikir, pada zaman Paleosen [56-66 juta tahun yang lalu] hewan-hewan berkembang biak dengan cepat. Temperatur air di kawasan Selandia Baru cukup ideal, yakni sekitar 25 derajat Celsius. Saat ini temperaturnya sekitar 8 derajat Celsius,” terang Paul Scofield.
Paul Scofield menambahkan, selama masa penguin raksasa hidup, Selandia Baru dan Australia masih menyatu serta sebagian wilayahnya tergabung dengan Antartika. Kala itu, Antartika masih tertutup hutan dan beriklim hangat, begitu pula Selandia Baru. Hal tersebut menjadi alasan adanya kesamaan spesies di Selandia Baru dan Antartika.
Gerald Mayr, ahli paleontologi Jerman, menjelaskan, tidak ada hewan besar lain di laut Antartika dan Selandia Baru saat penguin raksasa berkembang biak. Paus bergigi dan anjing laut baru muncul beberapa juta tahun kemudian.
Sampai saat ini, penyebab pasti punahnya penguin raksasa dari perairan Bumi selatan masih belum jelas. Namun, adanya persaingan mendapatkan makanan dan wilayah kekuasaan dengan mamalia laut lain dianggap menjadi salah satu penyebabnya. Berbagai persaingan tersebut memicu penyusutan ukuran pada penguin.
Kini, spesies penguin terbesar di dunia adalah Penguin Kaisar alias The Emperor Penguin. Penguin tersebut tingginya mencapai 1,2 meter dengan berat hingga 40 kilogram. Sedangkan penguin raksasa purba, Crossvallia Waiparensis, berbobot empat kali lebih berat dan lebih tinggi 40 sentimeter dari Penguin Kaisar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : solopos.com
Pengguna aplikasi digital Tik Tok menembus angka 1,5 miliar. Tik Tok menjadi aplikasi non-game terpopuler di dunia setelah Whatsapp dan Messenger.
Sidang Isbat 1 Zulhijah 1447 H digelar hari ini oleh Kemenag. Cek jadwal lengkap dan link live streaming penetapannya.
Bali United vs Bhayangkara FC sore ini. Simak prediksi skor, susunan pemain, dan peluang kemenangan di laga kandang terakhir musim ini.
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
Satpol PP Gunungkidul menertibkan pemasangan tikar-tikar di bibir Pantai Sepanjang di Kalurahan Kemadang, Tanjungsari untuk memberikan rasa nyaman ke pengunjung
Festival balon udara di Solo diserbu ribuan warga. Sebanyak 18 balon diterbangkan, namun durasi dipersingkat akibat angin kencang.