Dies Natalis UNSA ke-28, Astrid Soroti Makna Estafet Antargenerasi
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Ilustrasi jalan tol./JIBI-Bisnis Indonesia-M. Ferri Setiawan
Harianjogja.com, JOGJA—Jalan tol yang melintasi DIY sudah masuk dalam Program Strategis Nasional dan pasti dibangun. Ketua Tim Pelaksana Harian Unit Manajemen Tim Pelaksana Percepatan Pembangunan Prioritas (TP5) DIY, Rani Sjamsinarsi, mengatakan tata ruang nasional sudah menyebutkan pembangunan tol di DIY, yakni tol Jogja-Solo, Jogja-Bawen, dan juga Jogja-Cilacap.
“Tinggal menunggu waktu kapan akan dibangun,” kata dia, Rabu (3/7/2019).
Dia mengatakan trase tol di DIY masih dibahas agar tidak sampai merugikan masyarakat. “Yang diinginkan Sultan, tol seminimal mungkin melewati permukiman. Kalaupun ada, hanya satu dua [yang terkena dampak],” kata Rani.
Sebelumnya, Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan tol di DIY tinggal menunggu penjabaran teknis. “Semua rekomendasi dari DIY sudah disetujui oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Tinggal pelaksanaannya,” kata Gatot.
Trase atau jalur tol Jogja-Solo ditargetkan rampung pada Juli ini. Penentuan jalur tol berdasarkan lima arahan Gubernur DIY Sri Sultan HB X.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY, Hananto Hadi Purnomo mengatakan setelah trase ditetapkan, proyek tol Jogja-Solo akan dilelang Agustus.
“Kami berharap secepatnya bisa diselesaikan. Sekarang sedang disurvei untuk pemetaan trase sesuai dengan empat hal yang disarankan oleh Sultan,” kata Hananto.
Kelima pesan Gubernur adalah tol tak boleh mengganggu situs-situs, seminimal mungkin menggunakan lahan pertanian, tidak menggangu kawasan ekonomi masyarakat, exit tol harus bisa memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan terakhir jangan sampai tol memisahkan komunitas atau membelah sebuah kawasan. “Kalau awalnya ada satu kampung, dilewati tol jadi terbelah. Ini yang tidak diinginkan Sultan,” kata Hananto.
Trase tol akan ditentukan oleh Pemerintah Pusat, Pemda DIY hanya mendampingi agar lokasi-lokasi yang dilalui tol sesuai dengan masukan dari Sultan. “Hasilnya [penentuan trase] nanti akan diajukan kepada Sultan untuk penentuan lokasi (penlok). Kalau penlok selesai bisa dilelang,” katanya.
Sultan pada prinsipnya tidak menolak rencana pembangunan tol, termasuk pembangunan tol di Kulonprogo.
“Dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah DIY memang tidak ada tol bandara ada. Yang ada adalah pembangunan tol Jogja-Cilacap, lewatnya Kulonprogo. Tetapi karena Jogja-Cilacap belum masuk Program Strategis Nasional (PSN), harus dimasukkan dul. Yang baru masuk Jogja-Bawen dan Jogja-Solo,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Stasiun Lempuyangan ditata menjadi stasiun khusus penumpang. Aktivitas angkutan semen direncanakan pindah ke Stasiun Prambanan.
Bawaslu Bantul mendorong Pilur 2026 bebas politik uang dengan memperkuat gerakan Desa Anti Politik Uang di 30 kalurahan.
Rezza Octavia tersingkir di 16 besar Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Indonesia kembali tanpa medali recurve individu putri.
Perbaikan Jalan Srandakan-Poncosari-Pandansimo Bantul mencapai 43,309 persen, melampaui target dan ditargetkan selesai 28 Desember 2026.
Stasiun Lempuyangan ditata bertahap hingga 2027. Mulai 2028, penumpang KRL akan dilayani melalui akses Utara.