Iran dan Negara OPEC Bakal Kipas-Kipas di Tengah Perang Minyak AS-China

Suasana sidang OPEC di Vienna, Austria, Rabu (30/11). - REUTERS/Heinz/Peter Bader
18 Juni 2018 14:05 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ancaman China untuk memberlakukan bea masuk untuk impor minyak AS akan memukul bisnis yang telah meningkat dalam dua tahun terakhir hingga mencapai hampir US$ 1 miliar per bulan.

Pada saat defisit perdagangan Amerika Serikat dengan sebagian besar mitra dagang utamanya, termasuk China meningkat, Presiden AS Donald Trump mengatakan pekan lalu akan memberlakukan tarif impor dari China hingga senilai US$50 miliar mulai 6 Juli mendatang.

China kemudian menyatakan akan membalas dengan menyasar beberapa komoditas asal AS termasuk minyak. Pernyataan China ini langsung berdampak pada turunnya harga saham ExxonMobil dan Chevron sebesar satu hingga 2% sejak Jumat pekan lalu. Sementara itu, harga minyak mentah AS turun sekitar 5%.

"Eskalasi perang perdagangan ini berbahaya bagi harga minyak," kata Stephen Innes, kepala perdagangan bursa berjangka OANDA untuk asia Pasifik yang berbasus di Singapura.

Perselisihan antara Amerika Serikat dan China terjadi pada saat yang sangat penting bagi pasar minyak.

Setelah satu setengah tahun importir diminta menurunkan pasokan minyak secara sukarela oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang didominasi Timur Tengah, pasar minyak semakin ketat sehingga mendorong harga naik.

Potensi penurunan ekspor minyak AS ke China akan menguntungkan produsen lain, terutama dari negara OPEC dan Rusia.

Negara utama OPEC, Arab Saudi dan Rusia pada hari Jumat mengindikasikan mereka akan melonggarkan pengendalian pasokan mereka dan mulai meningkatkan ekspor.

Penurunan pembelian minyak dari As oleh China juga akan menguntungkan penjualan Iran. Padahal AS berupaya mengekangnya dengan sanksi baru yang diumumkan pada bulan Mei.

"Orang China mungkin hanya mengganti beberapa minyak Amerika Serikat dengan minyak mentah Iran," kata John Driscoll, Direktur konsultan JTD Energy Services dikutip Reuters, Senin (18/6/2018).

“China tidak terintimidasi oleh ancaman sanksi AS. Mereka belum pernah ada di masa lalu. Jadi dalam perselisihan diplomatik ini mereka mungkin hanya mengganti minyak mentah AS dengan minyak Iran. Itu jelas akan membuat Trump marah,” ujarnya.

Sumber : Reuters