Advertisement
BPBD Jateng Berharap Radius 10 Km dari Puncak Merapi Dikosongkan
Petani mengamati keindahan Gunung Merapi dari areal persawahan di Wukirsari, Sleman, Selasa (22/5/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto
Advertisement
Harianjogja.com, MAGELANG- Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah Sarwa Pramana berharap radius 10 kilometer dari puncak Gunung Merapi dikosongkan. Menurutnya ini akan lebih baik meskipun status aktivitas gunung api tersebut masih waspada.
Sarwo di Magelang, Senin (28/5/2018), mengatakan bahwa mempersiapkan warga pada radius 10 kilometer akan lebih baik daripada di radius 3 hingga 4 km dari puncak Gunung Merapi.
Advertisement
Ia mengatakan hal tersebut usai Rakor Pengurangan Risiko Bencana Gunung Merapi di Pusdalops BPBD Kabupaten Magelang.
"Guna menindaklanjuti rapat-rapat dengan kepala desa pada radius 10 kilometer, akan lebih aman atau safety dari pada harus tergagap-gagap memindahkan warganya saat terjadi erupsi Gunung Merapi. Lagi pula, hal itu tidak gampang," katanya.
BACA JUGA
Ia menyampaikan evakuasi hewan ternak juga merupakan hal yang sangat penting.
"Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, warga yang enggan mengungsi karena alasan hewan ternak mereka. Karena salah satu harta yang mereka miliki adalah hewan ternak itu. Mungkin pemerintah harus membuat kebijakan, bagaimana pengusaha lokal bisa membeli hewan ternak tersebut dengan catatan sesuai harga di pasaran," katanya.
Dengan dinaikannya status Gunung Merapi menjadi waspada, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah langsung mengambil sikap dengan dikeluarkannya surat imbauan dari Plt. Gubernur Jawa Tengah kepada tiga bupati, yakni Klaten, Magelang, dan Boyolali.
Pertama, mengadakan rapat koordinasi di internal masing-masing; kedua, mengecek fasilitas yang sudah dibangun BNPB pada tahun 2010 (tempat pengungsian akhir); ketiga, menyiapkan rencana kontingensi menjadi rencana operasi apabila terjadi kenaikan level lagi.
Penjabat Sementara Bupati Magelang Tavip Supriyanto mengatakan bahwa rapat koordinasi ini bertujuan mempersiapkan apabila ada peningkatan aktivitas atau status pada Gunung Merapi.
"Jadi, masing-masing SKPD kami cek sesuai dengan tugas fungsi mereka, kemudian tempat evakuasi akhir juga sudah kami cek, dan jalur evakuasi juga sudah dlakukan pemeriksaan dan persiapkan. Apabila ada yang mengalami kerusakan, akan segera diperbaiki," katanya.
Selain itu, pengaturan desa bersaudara atau sister village, juga sudah didiskusikan terus hingga sekarang. Hal ini bertujuan mengantisipasi apabila benar-benar ada letusan, masyarakat tidak panik dan dapat dikoordinasi dengan baik.
"Tujuannya adalah zero korban jiwa atau agar tidak ada korban jiwa," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Wapres Gibran Lepas Alumni Pejuang Digital untuk Pendidikan 3T
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
- Lagi, Tiga Prajurit Indonesia Terluka dalam Ledakan di Lebanon
Advertisement
Advertisement








