Kalau Prabowo Jadi Capres, Jokowi Malah Bakal Diuntungkan

Jokowi-Prabowo, Ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Husein P
16 April 2018 12:25 WIB MG Noviarizal Fernandez News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Prabowo Subianto diprediksi tak akan mampu mengimbangi Joko Widodo (Jokowi) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Akibatnya, tanding ulang keduanya tak lagi menarik ditonton.

Pengamat politik dari Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengatakan Jokowi malah akan diuntungkan apabila Prabowo menjadi calon presiden. “Sekarang yang dilawan Prabowo adalah Jokowi sebagai incumbent. Dulu Jokowi bukan incumbent saja Prabowo kalah. Kalau Prabowo head to head sama Jokowi, artinya sama saja Prabowo memberikan tiket gratis kepada Jokowi kembali menjadi presiden dua periode,” kata Pangi, Minggu (15/4/2018).

Dia merujuk pada hasil Pilpres 2014. Menurut dia, publik sudah jenuh terhadap Prabowo. Oleh karena itu, mendaur ulang pertarungan lama antara Jokowi dan Prabowo pada Pilpres 2019 tidak menarik lagi untuk ditonton. “Padahal masyarakat ingin pertarungan aktor baru sehingga film menjadi menarik dan seru,” ujar dia.

Kekuatan mesin partai politik pendukung Prabowo di Pilpres 2019 kalah kuat dari koalisi parpol pendukung Jokowi. Saat ini, Prabowo baru didukung Gerindra dan PKS. Sementara, Jokowi disokong koalisi yang lebih gemuk, yakni PDIP, Partai Golkar, Partai Nasdem, Hanura, PPP, serta dua partai baru: Perindo dan PSI.

Menurut Pangi, nama lain seperti Gatot Nurmantyo lebih menjanjikan ketimbang Prabowo sebagai penantang Jokowi.

“Jika dibandingkan dengan Prabowo yang digadang-gadang akan maju dalam pilpres 2019 nanti, nama Gatot bisa dikatakan bisa menjadi sang penantang tangguh Jokowi,” ucap dia.

Jadi Cawapres

Sementara itu, pembicaraan mengenai posisi calon wakil presiden (cawapres) bagi Prabowo untuk mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019 terus menggelinding. Kubu Prabowo menyebut tawaran menjadi cawapres untuk Jokowi berkali-kali ditolak. Namun, kubu Jokowi menyebut utusan Prabowo bertanya mengenai kepastian tawaran itu.

Presiden PKS Sohibul Iman meyakini Prabowo tidak akan menerima tawaran menjadi cawapres pendamping Jokowi. Prabowo yang menjadi Ketua Umum Gerindra belum lama ini telah menerima mandat dari kader partai itu untuk kembali maju dalam Pilpres 2019 dengan menjadi capres.

“Karena itu saya yakin Pak Prabowo tidak mungkin mau dibujuk [menjadi cawapres]. Pak Luhut [Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan] yang selalu meminta itu dan beliau [Prabowo] menjawab tidak mungkin,” kata Sohibul di Jakata, Minggu.

Dia mengaku selalu diberi tahu oleh Prabowo tentang pertemuannya dengan Luhut. Dalam setiap pertemuan itu, menurut Sohibul, Prabowo selalu menolak.
“Pak Luhut katanya mengatakan, ‘Wo, udah kalau kamu jadi cawapresnya Pak Jokowi, ini nanti semua bereslah gampang. Capres-cawapres ini dengan mudah bisa direalisasikan. Presidennya Jokowi dan wapresnya kamu,’ katanya gitu,” ujar dia.

PKS belum mendeklarasikan capres dan cawapres yang akan mereka usung. Namun, mereka siap berkoalisi dengan Prabowo dengan syarat kader mereka menjadi cawapres.
Adapun Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno tidak menampik mengenai tawaran tersebut.

Menurut dia, rencana memasangkan Jokowi dengan Prabowo dalam Pilpres 2019 bertujuan untuk menyamakan persepsi gagasan kebangsaan. “Platform ke depan adalah bahwa persatuan nasional lebih penting dibanding siapa yang akan jadi presiden,” ujar dia.

Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy) menyebut ada utusan Prabowo yang mendatangi Jokowi untuk menanyakan kepastian apakah Prabowo akan dipilih sebagai cawapres. “Utusan Prabowo. Saya enggak bisa sebut. Intinya orang itu diutus untuk menanyakan kemungkinan Prabowo digandeng Pak Jokowi,” ujar dia.

Rommy menyebut utusan itu merupakan tokoh yang langsung dikirim Prabowo, bukan lewat Partai Gerindra. Sekjen PPP Arsul Sani menyebut pertemuan itu digelar dua pekan lalu. Namun, belum ada kejelasan mengenai hasil pertemuan itu sebab setelah itu Prabowo menyatakan siap menjadi capres sesuai mandat Gerindra.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menepis klaim Rommy tentang utusan Prabowo yang mengemui Jokowi. Bantahan itu disampaikan Fadli lewat akun Twitter. Dia meminta Rommy tidak perlu ikut campur uusan partai lain dan cukup mengurusi PPP.

Segera Diumumkan
Pekan lalu, Sekretaris Jenderal DPP Partai Nasdem Jhonny G Plate menegaskan Jokowi sudah mengantongi nama cawapres yang akan mendampinginya. Dia masih menunggu momentum yang tepat untuk mengumumkan.

Jhonny yang menjadi Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR itu menjelaskan parpol yang telah mendeklarasikan diri sebagai pendukung Jokowi sebagai capres 2019-2024 saat ini solid.

Nasdem, kata dia, menyerahkan sepenuhnya figur cawapres kepada Jokowi asal memenuhi syarat-syarat yang berkaitan erat dengan elektoral Pilpres 2019.

“Misalnya mampu mendukung peningkatan elektabilitas, memiliki chemistry [kesepahaman] yang kuat dengan Jokowi, punya komitmen menyelesaikan pemerintahan hingga akhir periode,” ujar dia, Jumat (13/4/2018).

Waktu pengumuman cawapres Jokowi akan tergantung langkah Gerindra dalam membangun koalisi dengan partai-partai yang ramai dibicarakan. Oleh karena itu, menurut dia, parpol pendukung Jokowi enggan terburu-buru mengumumkan sosok cawapres tersebut.

“Ini ibarat Liga Champions [pertandingan bola di Eropa], lihat dulu komposisi line up lawan seperti apa, lalu kami siapkan pasangan dan timnya. Sama halnya dengan Pilpres, kami ingin lihat apa benar Gerindra bisa membentuk koalisi untuk mengusung Prabowo,” ucap dia.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia