Advertisement

Poin-poin Penting Ketegangan AS-Iran Bikin Selat Hormuz Memanas

Newswire
Minggu, 12 April 2026 - 07:47 WIB
Sunartono
Poin-poin Penting Ketegangan AS-Iran Bikin Selat Hormuz Memanas Selat Hormuz Iran. / ist

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memasuki fase krusial sepanjang pekan kedua April 2026, ditandai meningkatnya aktivitas militer dan tekanan diplomatik yang berdampak langsung pada jalur energi global.

Situasi memanas setelah insiden pencegatan kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Respons cepat datang dari Washington yang memperkuat logistik militer, sementara Teheran mempercepat pengayaan uranium sebagai bentuk penolakan terhadap sanksi ekonomi.

Advertisement

Kondisi ini mendorong Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat guna mencegah konflik terbuka yang berpotensi mengganggu stabilitas global.

Sepanjang sepekan terakhir, sejumlah perkembangan utama mencerminkan eskalasi yang semakin kompleks.

Pertama, keamanan maritim di Selat Hormuz meningkat ke status siaga tinggi setelah Iran melakukan penggeledahan kapal komersial yang diduga terkait kepentingan Barat. Langkah ini memicu protes keras dari otoritas pertahanan Amerika Serikat.

Kedua, laporan dari Badan Energi Atom Internasional menunjukkan peningkatan aktivitas nuklir di fasilitas Natanz. Iran menyebut langkah tersebut sebagai respons atas ketidakpatuhan Amerika Serikat terhadap kesepakatan nuklir 2015, sementara negara Barat menilai situasi ini sebagai ancaman serius.

Ketiga, Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap 15 entitas di Teheran, menyasar sektor teknologi, termasuk pengembangan drone dan sistem rudal, sebagai upaya membatasi kapasitas militer Iran.

Keempat, di tengah ketegangan, jalur diplomasi tetap terbuka. Pertemuan tertutup antara delegasi kedua negara difasilitasi di Pakistan, khususnya di Islamabad, untuk membahas de-eskalasi dan kemungkinan pertukaran tahanan.

Kelima, pasar global bereaksi cepat. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga menyentuh US$110 per barel, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi jika konflik meluas.

Keenam, Amerika Serikat mulai mengerahkan sistem pertahanan udara Patriot dan tambahan jet tempur ke pangkalan di kawasan Teluk untuk melindungi aset strategis dari ancaman serangan.

Ketujuh, dinamika politik regional ikut terbelah. Sejumlah negara Teluk menyerukan penahanan diri, sementara pihak lain mendukung tekanan lebih keras terhadap Iran, memperumit konsolidasi sikap di Liga Arab.

Secara mendasar, ketegangan ini dipicu oleh krisis kepercayaan yang mendalam antara kedua negara. Amerika Serikat mengandalkan sanksi ekonomi untuk menekan pengaruh Iran, sementara Teheran menggunakan kapabilitas nuklir dan kendali jalur energi sebagai alat tawar.

Pola yang muncul menunjukkan praktik diplomasi koersif, di mana ancaman militer digunakan untuk memperkuat posisi negosiasi. Tanpa jaminan keamanan yang mengikat, setiap insiden di lapangan berpotensi berkembang menjadi konflik terbuka dengan dampak besar terhadap ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Dua Seksi Tol Jogja-Bawen Dikebut untuk Kejar Operasional Tahun Ini

Dua Seksi Tol Jogja-Bawen Dikebut untuk Kejar Operasional Tahun Ini

Jogja
| Minggu, 12 April 2026, 09:37 WIB

Advertisement

Di Balik Pegunungan Taihang China Berdiri Menara Kembar Memikat

Di Balik Pegunungan Taihang China Berdiri Menara Kembar Memikat

Wisata
| Sabtu, 11 April 2026, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement